Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Resmi Emban Mandat Akademik Doktor, Bupati Jember Bongkar Kebiasaan Lama Penggunaan APBD

Maulana RJ • Jumat, 12 Juni 2026 | 23:12 WIB
Bupati Jember Gus Fawait, mempertahankan disertasinya di hadapan dewan penguji, saat sidang terbuka promosi doktor, di Auditorium FEB Universitas Airlangga Surabaya, Jumat (12/6/2026). (Dok. Gus Fawait)
Bupati Jember Gus Fawait, mempertahankan disertasinya di hadapan dewan penguji, saat sidang terbuka promosi doktor, di Auditorium FEB Universitas Airlangga Surabaya, Jumat (12/6/2026). (Dok. Gus Fawait)

SURABAYA, Radar Jember – Bupati Jember Muhammad Fawait resmi menasbihkan diri sebagai kepala daerah dengan gelar akademik paripurna. Hal itu setelah ia sukses menyabet gelar Doktor Ilmu Ekonomi dari Universitas Airlangga (Unair) dengan predikat Cumlaude, Jumat (12/6/2026). 

​Di hadapan para penguji—termasuk mantan Gubernur Jatim Soekarwo (Pakde Karwo)—Doktor ke-515 lulusan FEB Unair ini mempertahankan disertasinya tentang efektivitas anggaran pemerintah daerah, dengan judul: “Analisis Peran Belanja Pemerintah dalam Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Jatim”. 

Menurut dia, kualitas APBD bukan saja diukur dari serapan angka, tetapi seberapa mampu membawa masyarakat keluar dari jerat kemiskinan. Ia juga menguliti pola distribusi bantuan sosial (bansos) dan hibah yang selama ini cenderung mandek pada fungsi karitatif jangka pendek. Namun wajib dirombak total untuk jangka panjang.

​"Bantuan tidak boleh berhenti di aspek kemanusiaan saja. Harus ada multiplier effect. Masyarakat penerima harus naik kelas ekonomi," tegas pria yang kini resmi menyandang gelar Dr. Muhammad Fawait, SE, M.Sc. tersebut.

Ia menyatakan, dana hibah dan bansos ke depan wajib dikunci (diintegrasikan) dengan program pelatihan kerja yang berbasis kebutuhan pasar global. Salah satu sektor yang dibidik secara tajam adalah Pekerja Migran Indonesia (PMI). 

Menurut dia, selama ini PMI kerap terjebak pada sektor informal dengan nilai tambah rendah. Jika dibekali pelatihan kompetensi yang presisi, pendapatan riil masyarakat daerah diyakini bakal melonjak drastis.

Lebih lanjut, riset ilmiah bupati muda ini juga menemukan benang kusut dalam pengentasan kemiskinan, yakni lemahnya sinergi fiskal antara Pemerintah Pusat, Provinsi, hingga Kabupaten. ​Ia mencontohkan program kehutanan sosial dengan skema, jika satu keluarga dapat akses kelola 2 hektare lahan hutan sosial secara tepat, ia meyakini bisa menjadi cara efektif mengurai kemiskinan.

Namun demikian, ujung dari seluruh kajian akademis ini bermuara pada satu hal yakni political will (keberpihakan politik) pemangku kebijakan. “Tinggal bagaimana sikap dan political will dalam budgeting agar seluruh program tersebut tepat sasaran dan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” jelas Politisi Partai Gerindra itu. 

​Capaian akademik tertinggi dengan predikat Cumlaude ini dipastikan menjadi amunisi segar sekaligus landasan teknokratis bagi dia untuk menakhodai kebijakan fiskal di Jember agar lebih agresif, tepat sasaran, dan langsung dirasakan oleh masyarakat. 

"Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah mendukung dan mendoakan saya selama perjalanan ini. Terutama untuk umik tercinta serta istri. Gelar ini bukan hanya tentang saya, tetapi juga tentang doa, dukungan, dan cinta," pungkas mantan anggota DPRD Jatim dua periode itu.

Editor : Maulana RJ
#Jember #APBD #Kemiskinan #universitas airlangga #Gus Fawait