Radar Jember - Selama bertahun-tahun, produktivitas padi dan sektor pangan di Jember dinilai stagnan.
Akar masalahnya disebut-sebut lantaran kondisi infrastruktur pertanian yang hampir 70 persen dalam kondisi kurang layak.
Kondisi itu juga diakui oleh Bupati Jember Muhammad Fawait. Demi memastikan produktivitas sektor pertanian bisa digenjot, ia bergerak cepat melakukan manuver anggaran ke pemerintah pusat.
"Kami terus melakukan lobi-lobi, bolak-balik Jakarta-Jember untuk melobi pusat, karena kalau hanya pakai APBD tidak akan cukup," katanya, saat Pro Guse Update, di Kantor DTPHP Jember, Sabtu (6/6).
Hasil lobi-lobinya itu terlihat. Sepanjang tahun 2025 hingga 2026, Jember berkali-kali mendapatkan kucuran bantuan pertanian dalam jumlah yang terbesar dalam sejarah pertanian Jember, mencapai Rp312 miliar.
Mulai berupa program seperti Oplah, bantuan bibit, alsintan, hingga rehabilitasi infrastruktur pertanian.
Guna memastikan stabilitas ekosistem, Pemkab Jember juga menggandeng Bulog serta jajaran vertikal TNI dan Polri, untuk menjaga harga gabah dan jagung di tingkat petani tetap terjaga di tengah target swasembada pangan.
"Meski produksi padi kita masih kalah dengan kabupaten kota lain, tetapi kita terus on the track. Insya Allah sektor pertanian kita akan lebih baik ke depannya," imbuh Gus Fawait
Realisasi bantuan tahun 2025 terbukti membuahkan hasil di lapangan. Sejumlah pengurus Poktan memberikan testimoni bahwa intervensi teknologi dan perbaikan air ini langsung menaikkan frekuensi masa tanam.
"Kalau dulu itu maksimal 5 ton dalam satu hektarenya, berkat adanya program Oplah ini, sekarang bisa 7 ton lebih," tambah Miskat, pengurus Poktan Teratai Dua, Desa Kepanjen, Gumukmas, dalam kesempatan itu. (mau/bud)
Editor : Imron Hidayatullahh