Radar Jember - Pemerintah Kabupaten Jember menetapkan target ambisius dalam menekan angka kemiskinan hingga menyentuh angka psikologis terendah dalam satu dekade terakhir.
Fokus utama pemerintah saat ini adalah memastikan setiap bantuan sosial berkontribusi langsung pada penurunan beban pengeluaran warga prasejahtera.
Bupati Jember Muhammad Fawait menyebut upaya ini linear dengan data terbaru yang menunjukkan tren positif penurunan angka kemiskinan di wilayah Jember yang cukup signifikan.
Baca Juga: Pelajar Asal Lumajang Hilang Terseret Arus Sungai Bondoyudo Kencong Jember
Ia cukup optimistis berbagai program stimulan yang dijalankan akan membawa perubahan besar bagi struktur ekonomi kerakyatan di desa-desa.
"Kami menargetkan ke depan sesuai dengan janji politik saya bahwa nanti angka kemiskinan harus di bawah 200.000, itu angka psikologis bagi kami," tutur Bupati Fawait, ditemui seusai Sosialisasi Penyaluran Bantuan Pangan periode Februari-Maret 2026, di Pendapa Wahyawibawagraha Jember, Kamis (26/03/2026) petang.
Gus Fawait, sapaan akrab dia, menegaskan bahwa angka di bawah 200.000 jiwa adalah tantangan besar karena selama sepuluh tahun terakhir Jember selalu berada di atas angka tersebut.
Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Jember, angka kemiskinan di Kabupaten Jember per September 2025 tercatat turun ke titik terendah dalam 10 tahun terakhir menjadi 216.076 jiwa atau sekitar 8,67 persen dari total populasi.
Angka ini turun 0,34 persen dibanding tahun sebelumnya (224.077 jiwa atau sekitar 9,01 persen), didorong oleh pertumbuhan ekonomi dan program pemberdayaan.
Target menurunkan angka kemiskinan absolut hingga di bawah 200.000 jiwa ini tentu bukan hal mudah. Gus Fawait meyakini, sinergi program yang tepat sasaran, target tersebut bukan sekadar mimpi namun pencapaian yang bisa diraih.
"Sepuluh tahun terakhir ini angka kemiskinan kita tidak pernah ada di bawah angka psikologis 200.000. Dan kami akan berikhtiar, kami akan mengejar bagaimana kemiskinan di Jember harus semakin turun," katanya.
Keberhasilan menurunkan angka kemiskinan dianggap sebagai prestasi yang setara dengan peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang telah melampaui target.
Komitmen ini tentu memerlukan dukungan dari seluruh elemen masyarakat dan kepatuhan administrasi dari tingkat desa hingga kabupaten.
"Sama seperti pendapatan yang waktu kemarin kita tahun 2025 tembus 1 triliun, angka 1 triliun itu angka psikologis buat saya. Sama kayak kemiskinan, harus di bawah 200.000. Makin kecil, makin bagus, makin jauh dari 200.000 tersebut," pungkasnya. (mau/bud)
Editor : Imron Hidayatullahh