Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

22 Ribu Guru Ngaji Jember Terima Insentif Rp1,5 Juta, Gus Fawait: Bentuk Memuliakan Pejuang Agama

Maulana RJ • Selasa, 23 Desember 2025 | 15:23 WIB

 

GALANG DOA: Bupati Fawait saat kesempatan bersilaturahmi dengan para guru ngaji, saat beberapa kesempatan turun ke acara Bunga Desaku ataupun Guse Menyapa.
GALANG DOA: Bupati Fawait saat kesempatan bersilaturahmi dengan para guru ngaji, saat beberapa kesempatan turun ke acara Bunga Desaku ataupun Guse Menyapa.

Radar Jember - Dedikasi dan keikhlasan guru ngaji tidak bisa dinominalkan. 

Meski hampir separuh masa hidupnya dihabiskan untuk mengajar, mereka ikhlas. 

Tujuannya satu, demi generasi muda paham agama.

Hal itu yang kemudian mendasari keinginan Pemkab Jember untuk memuliakan para guru agama melalui program bantuan honorarium atau insentif. 

Bantuan bagi 22.000 guru ngaji, guru kitab, dan modin, di Jember, dengan besaran masing-masing Rp 1,5 juta. Bupati Jember Muhammad Fawait mengutarakan, sejak awal bantuan ini bukan saja sekadar program. 

Namun, wujud komitmen nyata kehadiran pemerintah daerah dalam memuliakan para pejuang agama atas dedikasinya selama ini. 

"Kita tau bersama, dedikasi guru ngaji sudah sejak sebelum Indonesia merdeka, beliau-beliau ikhlas mengajar," katanya.

Ia menegaskan, penyaluran insentif ini bukan saja terbesar sepanjang sejarah Jember dengan total 22 ribu penerima. 

Namun, dalam penyalurannya juga lebih terhormat dan lebih memuliakan. 

"Bantuan ini tidak seberapa. Tapi sudah sepatutnya bagi kami memberikan apresiasi ini secara terhormat," imbuh Bupati Fawait yang akrab disapa Gus Fawait ini. (mau/dwi)

 

 

SANTUN: Kiai Sa
SANTUN: Kiai Sa

Hadirkan Sentuhan Hangat untuk Keluarga

Radar Jember - Sepanjang  tahun 2025 kemarin, penyaluran insentif guru ngaji dan guru kitab ini berlangsung secara bertahap, transparan, dan akuntabel. 

Sentuhan hangat Rp 1,5 juta cair tanpa drama antrean panjang dan utuh tanpa potongan. 

Rekening ini juga terbilang istimewa: tanpa saldo minimal dan tanpa biaya administrasi bulanan.

Bahkan, tidak sedikit bantuan ini diantar hingga depan pintu rumah penerima. 

"Selama menerima insentif ini, baru kali ini penyalurannya langsung ke rumah kami," aku Maisaroh, istri Kiai Sanusi, penerima insentif asal Desa Pondokjoyo, Kecamatan Semboro, saat insentif guru ngaji langsung diantar ke rumahnya.

Kehangatan serupa juga dialami Kiai Sa'i, penerima honor guru ngaji, di Musholla Nurul Jadid, Kelurahan Kranjingan, Kecamatan Sumbersari. 

Kiai berusia 68 tahun itu diantar-jemput menggunakan minibus demi haknya, Rp1,5 juta, sampai di tangannya. 

"Jadi beliau diantar ke kelurahan, kami bantu tandatangan dan kami serahkan uangnya. Lalu diantar pulang lagi, jadi cepat," kata Lurah Kranjingan, Ica Ghea Hernawati.

Bupati Jember Gus Fawait menegaskan, sentuhan hangat dari pemerintah daerah ini ditujukan semata-mata demi memuliakan guru ngaji. 

"Guru ngaji harus kita hormati, boleh negara memberikan insentif, tapi harus secara terhormat, secara layak, dan sebaik-baiknya,” serunya. (mau/dwi)

 

 

BAHAGIA: Retno Eko Wiyanti, guru kitab di GKT Immanuel di Desa Ambulu, seusai menerima pencairan honor di Kantor Desa/Kecamatan Ambulu, pada awal Oktober.
BAHAGIA: Retno Eko Wiyanti, guru kitab di GKT Immanuel di Desa Ambulu, seusai menerima pencairan honor di Kantor Desa/Kecamatan Ambulu, pada awal Oktober.

Musala hingga Santri Kecipratan Berkah

KEIHKLASAN para ustad atau kiai-kiai musala perdesaan tak perlu diragukan. 

Mereka bukan saja mendidik anak-anak setiap hari, tapi juga tidak lupa berbagi kebahagiaan begitu mendapatkan kelebihan rezeki kepada murid-muridnya.

Hal itu ditunjukkan oleh para guru ngaji penerima program ini. 

Mereka meyakini di balik sentuhan hangat dari bupati Gus Fawait itu, terselip sebagian jatah anak-anak yang harus dibagikan. 

"Rencananya uang ini saya belikan kitab buat anak-anak dan merehabilitasi musala," aku Ahmad Fauzan, guru ngaji asal Desa/Kecamatan Sukorambi.

Meski secara perekonomian belum sepenuhnya mapan, tapi program insentif ini mampu menjaga ketulusan para guru ngaji untuk tetap berkhidmat. 

"Saya mau pakai untuk memperbaiki mushola, sisanya buat kebutuhan sehari-hari, biar Allah yang membalas semuanya," tambah Kiai Irfan Asmuni, guru ngaji di Mushola As-Sulaimany, Desa Glundengan, Kecamatan Wuluhan.

Bupati Gus Fawait menghendaki penyaluran insentif berikutnya di tahun 2026 bisa lebih mengakomodasi lebih banyak penerima serta lebih humanis. 

"Bahkan kami berencana tahun depan penyaluran langsung ke rumah-rumah guru ngaji. Mudah-mudahan kita semua mendapatkan keberkahan dari para guru kita semuanya," pungkas Gus Fawait. (mau/dwi)

Editor : Imron Hidayatullahh
#Jember #insentif guru ngaji #Gus Fawait