Radar Jember - Selama beberapa tahun terakhir, persoalan stagnasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) menjadi tantangan serius bagi Pemerintah Kabupaten Jember.
Pemkab Jember hanya mampu meraup PAD di kisaran Rp600-800 miliar dan tidak lebih dari Rp1 triliun.
Bahkan tak jarang, antara target yang diproyeksikan, sering kali meleset ketika sudah melalui tahun anggaran.
Contohnya, seperti PAD Tahun 2024.
Tari target Rp928,68 miliar, pemkab baru sanggup merealisasikan sebesar Rp 774,17 atau menyentuh angka 83,36 persen.
Terlebih di tengah wacana pemangkasan dana transfer dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah, PAD menjadi cukup krusial karena menjadi salah satu instrumen untuk menyehatkan fiskal daerah.
Beberapa kabupaten/kota di Indonesia telah ada yang nekat mengambil kebijakan menaikkan pajak demi mendongkrak pendapatan daerah ini.
Meski kemudian harus menghadapi penolakan publik hingga demo berjilid-jilid, seperti halnya di Kabupaten Pati.
Namun di tengah isu yang mengemuka itu, Pemkab Jember sepertinya mengambil jalan berbeda.
Alih-alih menaikkan pajak untuk mendongkrak PAD, Bupati Jember Muhammad Fawait justru memilih strategi yang lebih fundamental dan berkelanjutan.
"Kami tidak akan menaikkan pajak. Jember harus bisa mandiri dan maju dengan cara lain, bukan dengan membebani rakyatnya," kata Gus Fawait, sapaan akrabnya, saat menyampaikan progres kinerjanya secara terbuka di depan Kantor Pemkab Jember.
Sejak awal menjabat, ia berkomitmen untuk tidak menaikkan pajak.
Penurunan retribusi pasar menjadi salah satu hal yang menegaskan komitmennya itu sekaligus bagian dari visi besarnya untuk membawa Jember ramah di mata investor.
Gus Fawait berkeyakinan bahwa solusi untuk PAD yang stagnan bukanlah dengan membebani rakyat.
Namun dengan memacu pertumbuhan ekonomi produktif.
Hal itu diyakininya bisa dengan jalan menghidupkan iklim investasi Jember.
"Untuk mencapai kemandirian fiskal, kita harus berani menarik investor ke Jember, ini strategis untuk jangka panjang yang berfokus pada peningkatan potensi ekonomi daerah," katanya.
Gus Fawait menambahkan, Pemkab Jember selama ini terus menyiapkan berbagai terobosan untuk memikat para investor.
Termasuk penyederhanaan perizinan dan penataan lokasi usaha.
Salah satu gebrakan lainnya yakni saat ia mereaktivasi Bandara Notohadinegoro yang diharapkan dapat menjadi pintu gerbang ekonomi dan menghubungkan Jember dengan pusat-pusat bisnis nasional yakni Jakarta.
Langkah-langkah ini diyakininya adalah jawaban konkret terhadap kondisi PAD yang stagnan.
Gus Fawait meyakinkan bahwa investasi yang masuk akan membuka lapangan kerja baru, menekan angka pengangguran, dan pada akhirnya meningkatkan potensi pendapatan daerah.
"Kami juga harus memastikan bahwa investasi yang masuk berdampak langsung pada penurunan kemiskinan ekstrem dan penyerapan tenaga kerja di Jember. Karena itu investasi harus ditingkatkan untuk mencapai Jember Baru dan Jember Maju yang sejahtera dalam lima tahun ke depan," pungkas mantan anggota DPRD Jatim ini. (mau/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh