WIROWONGSO, Radar Jember - Bandara Notohadinegoro Jember belakangan kembali menuai sorotan.
Itu setelah sejumlah anggota DPRD Jember melakukan Inspeksi ke bandara yang berlokasi di Desa Wirowongso, Kecamatan Ajung, Jember, itu.
Sepekan sebelum sebelum lawatan para wakil rakyat ke bandara kebanggaan warga Jember itu, Bupati Jember, Muhammad Fawait, sempat menegaskan kembali perihal rencananya me-reaktivasi bandara Jember yang berdiri di lahan PTPN seluas 120 hektar itu.
"Bandara sedang kita kebut, perkembangan terakhir kami sudah bersurat ke kementerian perhubungan," kata Gus Fawait, saat ditemui bersama TP3D Jember, di Pendapa Wahyawibawagraha, (15/4).
Bahkan tidak sekedar hidup, Gus Fawait, sapaan akrab dia, menginginkan bandara itu bisa kembali menerbangkan pesawat dengan rute baru; Jember - Bali, dan Jember - Jakarta.
Sebagaimana diketahui, Bandara Notohadinegoro mengalami pasang surut sejak dibangun tahun 2023 dan diresmikan tahun 2025. Banyak persoalan menyelimuti bandara ini.
Mulai urusan kepemilikan lahan yang masih penguasaan PTPN, hingga yang paling krusial terus-terusan tekor lantaran okupansi yang rendah.
Mimpi agar bandara ini bisa diterbangi pesawat jenis Boeing atau Airbus juga semakin suram.
Gus Fawait saat baru terpilih menjadi Bupati Jember, sempat bertemu dengan Kementerian Perhubungan, Direksi Angkasa Pura, Direksi PTPN dan direksi salah satu maskapai, di Jakarta, saat membahas mengenai rencana reaktivasi bandara Jember.
Saat dikonfirmasi perihal perkembangan terbarunya (15/4), Gus Fawait menegaskan telah ada kesepakatan kerjasama dengan skema business to business atau B2B, semacam penjualan dari perusahaan kepada perusahaan lainnya.
"Sudah ada komunikasi dengan pihak angkasa pura dan dengan pihak PTPN, bahkan pada waktu itu untuk menyelesaikan masalah aset, sudah ada solusi B2B, antara angkasa pura dengan PTPN. Mudah-mudahan tahun 2025, atau maksimal tahun 2026, bandara kita sudah harus bisa aktif dengan penerbangan Jember Bali atau Jember Jakarta," tutup Gus Fawait. (mau)
Kebutuhan Paling Mendasar sebelum Reaktivasi Bandara:
- X-Ray atau alat pendeteksi visual barang bawaan penumpang.
- Marka landasan yang sudah hilang.
- Kondisi mobil damkar bandara sudah tua.
- Pengaktifan lisensi 14 personel yang bekerja di bandara.
- Kondisi menara pantau tidak standar, sehingga harus dibangun lagi.
SUMBER: Diolah dari berbagai sumber.
Editor : M. Ainul Budi