Entrepreneurship dan Life Skill Santri

Safitri • Dipublikasikan Jumat, 4 Desember 2020 | 05:37 WIB
Photo
Photo
Pada Februari 2019 Badan Pusat Statistik (BPS) telah merilis data bahwa tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) naik sebesar 0,12 persen, atau meningkat setara 2,24 juta orang dibanding bulan Februari 2018. Hal ini sejalan dengan turunnya tingkat pengangguran terbuka (TPT) sebesar 5,01 persen, atau pengangguran berkurang sekitar 50 ribu orang dalam setahun. Meski TPT turun, namun BPS memaparkan bahwa penyumbang angka tertinggi pengangguran berasal dari lulusan sekolah menengah atas (SMA). TPT SMA sederajat yang di dalamnya juga termasuk para santri alumni pesantren mencapai sekitar 49,044 ribu orang atau sekitar 8,63 persen dalam setahun.

Berdasarkan pada paparan data di atas cukup memprihatinkan, mengingat diantara tujuan pendidikan menurut UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik (santri) agar siap dan berani menghadapi problematika kehidupan tanpa merasa tertekan, memiliki kemauan dan kemampuan, serta senang mengembangkan diri untuk menjadi manusia unggul.

Menurut Kemendiknas, faktor penyebab tingginya angka pengangguran adalah masih kurangnya perhatian secara detail dari sebuah lembaga pendidikan formal maupun non formal tentang pertumbuhan karakter dan perilaku wirausaha dalam membentuk sumber daya manusia yang unggul. Adapun beberapa faktor lain yang memengaruhi tingginya angka pengangguran disebabkan masih rendahnya bekal kecakapan hidup (life skill), minimnya tingkat keterampilan (vocational skill), serta kurangnya kesiapan mental (generic skill) pada output pendidikan (santri) dalam memasuki dunia kerja, baik bekerja secara mandiri (wirausaha) atau bekerja untuk perusahaan lain.

Melihat permasalahan yang terjadi di atas, pondok pesantren menjadi ujung tombak dan disinyalir dapat menjadi solusi alternatif bagi pemecahan masalah dalam dunia pendidikan. Sebagian masyarakat terlanjur kecewa akan dunia pendidikan secara umum, mereka menilai pendidikan saat ini hanya menghasilkan manusia malas, kurang peka, dan pasif dalam bertindak. Hadirnya pesantren diharapkan mampu memberi angin segar kepada dunia pendidikan dengan menghasilkan lulusan yang cerdas, mandiri, produktif, kreatif, serta religius. Saat ini, pesantren mengalami berbagai tantangan internal maupun eksternal. Tantangan internal berkutat pada seberapa efektifnya penerapan sistem pendidikan yang ada di pesantren. Adapun tantangan eksternal pesantren adalah berada pada era globalisasi serta derasnya pengaruh arus modernisasi, yang tidak dapat dibendung lagi.
Dua fenomena tersebut memiliki dampak signifikan terhadap pola pergaulan antar bangsa dalam kompetisi untuk saling menguasai. Fenomena di atas menjadikan pola pendidikan sebagian pesantren mengalami pergeseran, namun beberapa pesantren tetap bertahan dengan menggunakan pola lama atau masih menggunakan sistem pendidikan tradisional (salaf). Pesantren salaf memiliki tujuan lebih mengkhususkan diri untuk mendalami ilmu-ilmu agama (tafaqquh fiddin) bagi para santrinya. Materi agama tersebut digali dari kitab-kitab klasik yang berbahasa Arab dan bertuliskan gundul. Pesantren salaf meyakini berpegang teguh pada pola lama adalah untuk membentengi santri supaya tidak mudah terkontaminasi dengan kehidupan dunia yang semakin menggiurkan.
Adapun pesantren modern dalam menerapkan sistem pendidikannya memadukan antara pelajaran agama dengan pelajaran umum. Pesantren modern (kholaf) adalah pesantren yang tidak hanya diam melihat fenomena yang terjadi pada era globalisasi dan ikut serta mengambil peran dan bagian dalam menghadapi derasnya arus modernisasi. Beberapa upaya yang dilakukan pesantren modern antara lain dengan memberikan bekal pendidikan entrepreneurship dalam mengembangkan life skill santri. Pesantren modern meyakini dengan menerapkan pendidikan entrepreneurship akan menghasilkan tamatan santri yang siap bersaing, memiliki kecakapan hidup yang mumpuni, mampu menjawab tantangan serta kebutuhan pasar di tengah masyarakat khususnya pada era ini.

Pendidikan entrepreneurship merupakan upaya menginternalisasikan jiwa dan mental kewirausahaan baik melalui institusi pendidikan maupun institusi lain seperti lembaga pelatihan, training, dan sebagainya. Nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan kewirausahaan adalah pengembangan nilai-nilai dan ciri-ciri dari seorang wirausaha yang dianggap pokok serta sesuai dengan tingkat perkembangan santri. Dalam penerapan nilai itu melalui beberapa tahapan, di antaranya pada tahapan pertama antara lain: seorang wirausaha idealnya memiliki jiwa mandiri, kreatif, berani mengambil risiko, berorientasi pada kegiatan, mempunyai jiwa kepemimpinan, dan mau bekerja keras. Penulis dalam artikel ini memfokuskan dua nilai pokok dalam pendidikan entrepreneurship, yaitu membentuk jiwa mandiri dan jiwa kreatif dalam mengembangkan life skill santri.

Pertama, jiwa mandiri adalah suatu upaya yang dilakukan oleh seseorang untuk mengatur dirinya sendiri dan tidak tergantung kepada orang lain. Dalam menerapkan pendidikan entrepreneurship berjiwa mandiri, pesantren modern melakukan beberapa upaya dalam membentuk kemandirian santri antara lain: a) sistem asrama, yang mengharuskan santri menginap dan melakukan segala kebutuhannya secara mandiri (mencuci, setrika, bersih-bersih, dsb); b) pembelajaran teman sebaya (peer teaching), yang membentuk santri bertingkah laku sesuai nilai yang berlaku dalam arena pesantren dan mampu menempatkan diri pada setiap aktivitas pesantren; c) fasilitas pesantren yang sangat sederhana, yang membiasakan santri berjuang hidup secara apa adanya; d) menumbuhkan jiwa kewirausahaan, memberi amanah kepada santri untuk belajar bertanggung jawab mengelola lahan pertanian, hewan ternak dan budi daya perikanan. Dengan modal kegiatan-kegiatan tersebut, santri diharapkan mampu mengembangkan kecakapan hidupnya melalui penerapan jiwa kemandirian secara optimal, sehingga mampu menghidupkan ekonomi keumatan serta tidak bergantung terhadap orang lain dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Kedua, jiwa kreatif adalah jiwa yang memiliki kemampuan untuk melihat dan memanfaatkan peluang dalam rangka menghasilkan sebuah karya dan produk terbaru. Untuk dapat bersaing dengan kompetitor lain, santri diharuskan mampu menerapkan jiwa kreatif dan berpikir untuk dapat membuka sebuah lapangan pekerjaan baru. Dalam menerapkan pendidikan entrepreneurship berjiwa kreatif, pesantren modern melakukan beberapa upaya dalam memunculkan dan mendorong tingkat kreativitas santri agar menjadi manusia yang produktif, upaya-upaya tersebut antara lain: a) Pelatihan motivasi entrepreneurship; b) Membuka jenis kegiatan entrepreneurship, kegiatan ini diharapkan dapat membentuk berbagai karakter kreativitas sesuai minat dan bakat para santri; c) Pendampingan secara optimal, didampingi oleh para ahli pada setiap subsektor bidang kegiatan agar dapat memaksimalkan tujuan pada kegiatan tersebut. Adapun macam-macam aktivitas kreatif yang terdapat di pesantren modern antara lain: a) Ragam hasil kuliner santri; b) Bermusik (nasyid); c) Kerajinan tangan, seperti kreasi origami, dsb; d) Penerbitan karya tulis ilmiah (buletin); e) Seni peran di atas panggung. Beberapa pesantren juga menjalin kerja sama dengan Badan Latihan Kerja (BLK) membuka berbagai sektor pelatihan. di antaranya adalah: a) Reparasi elektronik; b) Las listrik; c) Desain grafis; d) Pertanian hidroponik; e) Peternakan ayam; f) Budi daya lele; g) Budi daya sapi.

Dengan demikian, penanaman jiwa mandiri dan jiwa kreatif merupakan bagian penting dalam pendidikan entrepreneurship untuk mengembangkan life skill santri di tengah persaingan global masa kini. Jiwa mandiri diperlukan untuk membentuk mental dan perilaku wirausaha santri agar dapat memikul tanggung jawab. Sedangkan jiwa kreatif mempunyai misi untuk membuka lapangan kerja seluas-luasnya.

*) Angga Mahardika, S.Pd., Mahasiswa Pascasarjana IAIN Jember. Artikel ini telah dipresentasikan dalam Seminar Internasional “The 3rd National and International Converence on Islamic Education and Education For Development di Yala Rajabhat University, Thailand, pada 8-9 April 2020. Editor : Safitri