Untuk itu, berbagai upaya dilakukan untuk “melawan” depresi mental ini. Beberapa ahli menemukan fakta bahwa menulis bisa menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi depresi mental. Menurut James W. Pennebaker dari Universitas Texas, saat seseorang diberi kesempatan untuk menulis tentang gejolak emosionalnya, mereka cenderung jarang sakit serta mengalami perubahan fungsi kekebalan tubuh.
Namun tentu saja tidak semua jenis tulisan dan gaya menulis dapat menjadi terapi jiwa. Saya dulu bahkan hampir depresi saat menulis skripsi, tesis, dan disertasi. Banyak cara menulis yang dapat dilakukan untuk membantu seseorang yang sedang mengalami depresi. Salah satu caranya adalah memilih jenis tulisan yang disukai sebagai media menyalurkan perasaannya. Jika seseorang menyukai fiksi seperti puisi atau cerita, ia bisa mengungkapkannya melalui fiksi.
Adapula yang menyukai menulis bergaya buku harian (diary). Hal ini dapat dijadikan sebagai suatu ritual bagi diri sendiri. Seseorang dapat menetapkan sendiri komitmennya untuk menuliskan berapa kalimat atau kata setiap hari dalam mengungkapkan perasaannya. Ia juga dapat menggunakannya sebagai media interaksi dengan diri sendiri. Hal ini penting dilakukan agar seseorang dapat menganalisis keadaan pikirannya, mengevaluasi, serta mengatur strategi untuk hidup selanjutnya dengan baik.
Menulis Meluapkan Emosi Terpendam
Menulis gaya buku harian (diary) mungkin bisa menjadi salah satu alternatif menulis untuk meluapkan emosi yang terpendam. Ini bisa menjadi sarana yang cukup efektif di saat kita berada pada puncak emosi dan kita tidak tahu harus ke mana menceritakan apa yang kita rasakan. Ada beberapa hal yang perlu kita lakukan jika kita ingin membiasakan menulis buku harian.
Pertama, letakkan buku harian di tempat yang mudah kita lihat, namun aman dari jangkauan dan penglihatan orang lain. Seperti di atas meja belajar atau meja rias di kamar kita. Ada beberapa orang yang bahkan membawa buku hariannya di dalam tas yang ia bawa kemana-mana. Tujuannya agar jika sewaktu waktu ingin menulis sesuatu tentang apa yang dialaminya, akan lebih mudah. Jadi, meskipun buku harian itu bersifat pribadi namun bukan berarti harus kita simpan di brankas yang terkunci rapat di kolong tempat tidur kita dipojokkan paling ujung. Nanti justru akan menyulitkan kita ketika ingin menulis sesuatu. Kurang praktis.
Kedua, jadikan buku harian itu sahabat terbaik kita, yang tidak akan pernah berkhianat. Karena rahasia apa pun yang kita tulis, maka selamanya akan tersimpan rapi dan tidak akan pernah terbongkar. Kecuali ada pihak ketiga yang terlibat. Atau kita sendiri yang menceritakannya kepada orang lain jika waktunya sudah tepat.
Ketiga, buat buku harian kita bermanfaat. Bukan berarti menulis buku harian hanya sebagai curahan hati saat sedang galau atau depresi saja. Pada kondisi normal pun kita tetap bisa menjadikan buku harian kita menjadi bermanfaat. Kita bisa menuliskan ide-ide atau inspirasi yang terlintas namun belum menemukan bentuk yang utuh. Nah, pada saatnya nanti, boleh jadi ketika kita sedang dikejar dead line penulisan artikel, misalnya. Coretan-coretan ide yang kita buat sambil lalu itu bisa menjadi sumber inspirasi.
Keempat, buatlah suatu kebiasaan untuk sesering mungkin membuka buku harian. Karena terkadang, sekadar melihat sampul merah muda buku harian saja, dapat merangsang munculnya gairah untuk menulis apa yang kita rasakan. Nah, kalau setiap hari lintasan pikiran dan gumpalan perasaan itu mengalir bersama goresan pena di buku harian kita. Tidak mengendap. Maka itu menjadikan mental kita menjadi lebih sehat. Pikiran terang dan jiwa jadi jernih dan tenang. Bukankah air yang tergenang diam hanya akan mendatangkan penyakit. Maka alirkanlah pikiran dan jiwamu seperti air mengalir yang bukan saja sehat tapi juga mendatangkan manfaat. Saya jadi teringat sebuah ungkapan “Bergeraklah, karena diam itu mematikan”.
Kelima, menulis dengan jiwa yang bebas dan merdeka. Jangan perdulikan aturan dalam penulisan. Buku harian kita adalah ruang pribadi kita. Dia bisa menerima diri kita apa adanya. Buku harian kita bisa menerima yang bahkan orang tua kita tidak siap untuk mendengarnya. Maka di saat itulah, kita akan bisa merasakan kelapangan jiwa. Lega. Karena kita bisa menumpahkan apa pun dan menceritakannya pada buku sahabat kita.
Keenam, gunakan peristiwa yang terjadi sebagai stimulan untuk menulis. Biasanya memang akan lebih mudah jika kita menuliskan peristiwa yang benar-benar terjadi di sekitar kita. Atau bahkan itu terjadi dengan diri kita. Pengalaman empiris yang terjadi dalam hidup kita, membuat kita mampu menuliskan sesuatu dengan lebih mudah, mengalir dan bernyawa.
Ketujuh, mulailah menulis dari yang sederhana. Tentang pikiran, perasaan dan harapan kita. Hal-hal kecil yang menurut orang tidak penting, tapi mungkin sangat berharga buat kita. Jangan mencari tema yang sulit. Fenomena Covid-19 yang terjadi di sekitar kita bisa ditulis dari banyak perspektif, mulai dari keunikan masyarakat memahami virus, kebiasaan masyarakat menerapkan protokol kesehatan, hingga fenomena adaptasi kebiasaan baru (AKB) yang dialami kita sendiri.
Terakhir, mulailah dari sekarang. Atau tidak sama sekali. Karena memulai dari hal yang termudah, maka tidak perlu menunda menuangkan gagasan dalam tulisan. Apalagi, sekarang banyak sarana/ media komunikasi yang mudah kita gunakan menuangkan tulisan, di antaranya bisa menggunakan perangkat elektronik, semacam Android, Laptop, dan perangkat komputer lainnya yang digunakan untuk menyalurkan pesan kita. Atau bisa juga menuangkan tulisan harian kita melalui media sosial, semacam Facebook, Twitter, Instagram, dan media online lainnya.
Kebiasaan mengungkapkan pikiran, perasaan atau apa pun yang mendera hidup kita, akan mengurangi tekanan mental, dan membuat hati kita menjadi lapang. Hal senada disampaikan pula oleh psikolog dari University of New South Wales, Karen Baikie, bahwa menulis peristiwa traumatik selama 15 -20 menit saja, bisa memperbaiki kesehatan fisik dan mental secara signifikan dibandingkan dengan mereka yang menulis topik-topik netral. Lebih dari itu, Imam Ali pernah juga pernah menyampaikan pesan penting, “ikatlah ilmu dengan tulisan,” yang dapat menerapi mental kita agar selalu bersemangat menggoreskan pena untuk mengalirkan/ menyampaikan ilmu yang bermanfaat bagi umat manusia! Wallahu a’lam bish-shawab.
*) Dr. Bambang Irawan, Lc. M.Ed., Dosen Pascasarjana IAIN Jember
Editor : Safitri