Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Rumah Adat Pacenan di Puncak Mojan Jember, Bukti Sejarah Percampuran Budaya Madura dan Cina

Radar Digital • Minggu, 10 Desember 2023 | 19:20 WIB

 

Photo
Photo

Rumah pacenan menjadi ciri khas bagi pemukiman warga Jember pada zaman dahulu. Biasa ditemukan di sentra pemukiman masyarakat Madura. Asal mulanya memang rumah tradisional tersebut berasal dari Pulau Madura yang dibawa ke Jember.

Pembina Yayasan Boemi Poeger Persada Yohanes Setiyo Hadi menyebut, persebaran rumah pacenan di Pulau Madura, Kangean, dan pojok Brang Wetan Pulau Jawa terutama Jember dan Bondowoso. Ciri khas rumah tradisional itu dibawa dari daerah asalnya sekitar abad 17 dan 18 Masehi. “Dibawa karena migrasi penduduk Madura sebagai  pekerja perkebunan di wilayah ini (Jember),” jelasnya.

Keberadaan rumah pacenan banyak ditemui di daerah dengan masyarakat Madura. Selain replika rumah pacenan di Klungkung, menurutnya rumah tradisional tersebut juga bisa ditemui di beberapa tempat lain. Seperti di wilayah Silo, Kalisat, serta kecamatan lain yang penduduknya mayoritas Madura.

Secara terminologi, nama “pacenan” diduga berasal dari kata “cina” yang pada saat itu mengarah pada penyebutan orang-orang Cina yang telah berinteraksi dengan masyarakat Madura selama berabad-abad lalu. Dari sejarah itulah, tergambar dari gaya arsitektur rumah pacenan yang bercampur antara kedua etnis. Salah satunya ukiran-ukuran yang bergambar naga.

Hadi memaparkan, rumah pacenan memiliki arsitektur berbentuk bangsal segiempat. Ada yang berdiri sendiri dan ada yang bersambung dengan yang lainnya. Tinggi rumah beragam, ada yang 10-30 centimeter dan 50-80 centimeter. Bentuk umumnya memiliki sasakhah atau tiang penyanggah. “Berfungsi untuk menyangga atap membentuk segi tiga, atap segitiga dikenal sebutan antong-antong,” ulasnya.

Terdapat delapan tiang penyanggah, empat buah penyanggah utama dan empat buah penyanggah pembantu. Penyanggah pembantu sendiri berfungsi sebagai penyangga amparan. “Amparan adalah bagian atap rumah yang salah satu ujungnya bersambung dengan salah satu ujung yang membentuk segitiga,” papar pegiat sejarah itu.

Dari keseluruhan rangka rumah pacenan, ada banyak detail yang menjadikan bangunan sangat kuat. Terdapat tiga ruangan, depan sebagai ruang tamu, tengah untuk tempat tidur dan ibadah, dan belakang sebagai dapur serta ruang makan. Posisi papan penyanggah berupa anyaman bambu menyerupai plafon kerap dimanfaatkan untuk menyimpan peralatan dapur atau peralatan rumah tangga lain. “Lantai rumah pacenan pada umumnya lantai berupa tanah liat dan atau semen. Alasannya biayanya relatif lebih murah ketimbang menggunakan keramik,” jelas Hadi. (sil/mau)

Editor : Radar Digital
#sejarah #rumah adat