Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Tantangan Guru di Abad 21: Refleksi Pengajaran PAUD

Safitri • Selasa, 15 November 2022 | 18:46 WIB
Oleh : Emma Istiqomah Akhyar
Oleh : Emma Istiqomah Akhyar
Guru berperan vital dalam kemajuan sebuah bangsa. Narasi kekalahan Jepang pada Perang  Dunia Kedua  menyisakan arti penting guru dalam kebangkitan bangsa Jepang. Kaisar Jepang, pasca-kekalahan perang tersebut, menanyakan berapa jumlah guru yang masih tersisa di negeri Jepang. Pertanyaan mendasar itu, sekarang masih relevan untuk kita kaji.

Penulis berpengalaman dalam berinteraksi dengan dunia pendidikan anak usia dini (PAUD). Ilmu pendidikan mendalilkan bahwa dalam usia perkembangan manusia, unsur pendidikan menjadi sarana penting dalam mewujudkan kualitas manusia. Usia dini merupakan usia awal perkembangan pendidikan yang meniscayakan strategi yang tepat bagi anak di bawah 5 tahun. Beberapa hal terkait dengan pengalaman mengajar PAUD, penulis menemukan berapa tantangan guru dalam mengajar di abad 21 ini. Tantangan tersebut meliputi : pertama, pembelajaran dalam hal pedagogik literasi dan numerasi. Kedua, kesulitan belajar siswa termasuk siswa berkebutuhan khusus dan masalah pembelajaran yang diferensial. Ketiga, membangun relasi dengan orang tua siswa (best collaboration). Keempat, pemahaman guru tentang pemanfaatan model-model pembelajaran inovatif berdasarkan karakteristik materi dan siswa. Kelima, materi yang terkait dengan literasi numerasi, Advanced material, miskonsepsi dan HOTS (Berpikir Tingkat Tinggi). Terakhir keenam, pemanfaatan teknologi inovasi dalam pembelajaran.

Tantangan pertama, pedagogik literasi dan numerasi. Istilah pedagogik bermula dari bahasa Yunani yang berarti “ membimbing anak”. Sekarang istilah itu berkembang menjadi merujuk pada keseluruhan konteks pembelajaran, belajar, dan berbagai kegiatan yang berhubungan dengan hal tersebut (pendidikan). UNESCO mengonsepkan literasi sebagai seperangkat keterampilan yang nyata, khususnya keterampilan kognitif dalam membaca dan menulis yang terlepas dari konteks di mana keterampilan yang dimaksud diperoleh, dari siapa keterampilan tersebut diperoleh dan bagaimana cara memperolehnya. Adapun numerasi dapat dipahami sebagai  kemampuan untuk mengaplikasikan konsep bilangan dan keterampilan operasi hitung di dalam kehidupan sehari-hari. Berbasis konsep tersebut maka tantangan pertama dapat disederhanakan menjadi tantangan guru dalam membimbing anak usia dini dalam bidang berbahasa dan berhitung dalam konteks kehidupan sehari-hari. Kurikulum PAUD dirancang sedemikian rupa sehingga anak usia dini mampu “mengenal” simbol bahasa dan hitungan sebagai pondasi awal perkembangan pendidikannya.

Tantangan kedua, berhubungan dengan kesulitan belajar siswa. Pengalaman penulis menarasikan bahwa perbedaan (diferensiasi) daya pemahaman siswa berujung pada kesulitan siswa dalam proses belajarnya. Siswa pada dasarnya diberi potensi yang berbeda-beda dalam “berproses” memahami baik literasi maupun numerasi. Ada kalanya siswa lebih dominan di bidang literasi dan sebaliknya. Anak Berkebutuhan Khusus menjadi tantangan tersendiri bagi pendidik PAUD, di mana mereka pada umumnya belum memahami dan terbekali oleh pengetahuan tentang psikologi anak berkebutuhan khusus. Ke depan diharapkan pemangku jabatan di bidang pendidikan mewujudkan harapan kita dalam hal upgrade pendidik PAUD guna bisa mendidik dan membersamai anak usia dini dari semua jenis permasalahan anak, khususnya anak berkebutuhan khusus.

Tantangan guru yang ketiga, berkaitan dengan membangun relasi dengan orang tua siswa. Pendidikan sebagai proses berkelanjutan, meniscayakan estafet peran guru di sekolah dengan peran orang tua di rumah. Proses ini membutuhkan relasi yang harmonis antara guru dengan orang tua siswa. Dengan demikian, setiap gangguan terhadap pola relasi atau hubungan guru dengan orang tua siswa berdampak terhadap perkembangan pendidikan anak usia dini. Fakta di lapangan menunjukan bahwa perlunya kesinambungan proses pendidikan di sekolah dan di rumah.

Tantangan berikutnya, lebih merujuk kepada kemampuan guru dalam pemahaman pemanfaatan model-model pembelajaran inovatif berdasarkan karakteristik materi dan siswa. Tantangan ini bercirikan variasi metode belajar yang tidak monoton bagi siswa, sekaligus membebaskan potensi siswa sesuai minat dan bakatnya. Pengalaman penulis, menyatakan bahwa tidak mudah “mengunci” para siswa dengan metode yang sama.

Tantangan dalam hal materi pembelajaran PAUD di antaranya: literasi numerasi, Advanced material, miskonsepsi dan HOTS (Berpikir Tingkat Tinggi). Sebagaimana diuraikan dimuka bahwa titik tekan pembelajaran PAUD adalah mengenal simbol bahasa dan hitungan. Upaya itu dikonkretkan melalui materi yang diajarkan kepada siswa PAUD. Pemilihan materi yang tepat sebagaimana dosis obat yang tepat bagi penyembuhan penyakit, merupakan sisi tantangan yang tidak mudah dihadapi dalam praktik pendidikan PAUD.

Terakhir tantangan bagi guru PAUD adalah dalam pemanfaatan media teknologi pembelajaran. Perkembangan teknologi yang ada dalam masyarakat, terkadang mendahului kecepatannya dibanding sarana pembelajaran di sekolah. Kesenjangan tersebut berimplikasi terhadap daya inovasi guru dalam mengenalkan teknologi yang paling mutakhir yang diperlukan anak didik di zamannya.

Keenam tantangan di atas, menurut hemat penulis dapat disolusikan dengan adaptasi kompetensi guru melalui sarana teknologi yang mendukung pengalaman pendidikan PAUD bagi anak didik. Pesan moral yang paling berharga dari pengalaman penulis adalah mental guru yang berorientasi kepada 4C (critics, creative, communicative, collaborative) yang nantinya dapat melahirkan anak didik yang berkemampuan 4 C juga. Kritis mengacu kepada kemampuan rasional atau daya nalar setiap insan guru. Kreatif bersendikan pada produktivitas ide (abstrak) menjadi nyata (kongkret). Komunikasi menjadi “jembatan” guru dengan lingkungannya termasuk adalah siswa dan orang tua siswa. Kolaborasi meniscayakan adanya relasi positif bagi estafet peran “membimbing anak” dari lingkungan sekolah ke lingkungan rumah tinggal siswa.

Kalimat lain yang dapat penulis kemukakan sebagai solusi tantangan guru di abad 21 adalah bagaimana mengolah ide kreatif “membimbing anak/siswa” secara kontinyu dalam lingkungan kehidupan anak (sekolah dan rumah). Narasi yang dibangun adalah komunikasi relasional dengan orang tua siswa tentang materi perkembangan anak usia dini selama di sekolah. Tujuannya terjadi kesinambungan proses pembelajaran yang sesuai dengan keunikan dan karakteristik anak. Prinsipnya bagaimana mewujudkan pembelajaran yang terus menerus melalui mental guru yang berorientasi kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaboratif.

*) Penulis adalah guru TK Cahaya Alqur’an Lumajang

  Editor : Safitri
#opini