RADAR JEMBER - Sungguh luar biasa pembalap kita ini. Sempat tertinggal posisi 16, lalu menyalip dan sempat di urutan empat, lalu akhirnya finish di posisi 8. Sangat menegangkan. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Minggu, 31 Mei 2026, di Mugello Circuit suasana panas bukan cuma karena matahari Italia. Aspalnya panas, bannya panas, paddock panas, dan timeline netizen Indonesia ikut mendidih. Penyebabnya satu, Veda Ega Pratama kembali bikin deg-degan nasional sampai grup WA ormas mendadak lebih aktif dari rapat partai menjelang reshuffle.
Nuan bayangkan begini. Veda start dari posisi 13. Tiga belas. Posisi yang kalau di dunia politik setara caleg yang fotonya dicetak paling kecil di pojok baliho, ketutup pohon pisang, dan cuma dikenal keluarganya sendiri. Tapi anak ini punya kebiasaan aneh, makin di belakang, makin bikin heboh di depan.
Baru balapan mulai, eh sempat tercecer ke posisi 16. Enam belas, wak. Di titik itu sebagian netizen mulai pegang kepala. Ada yang mondar-mandir depan TV. Ada yang update story, “Ya Allah semoga naik lagi.” Ada juga anak-anak gabut yang nonton sambil rebahan miring 37 derajat, ngemil ciki, tapi teriak paling keras seolah jadi kepala kru pit.
Lalu keajaiban bernama Veda mulai bekerja.
Pelan-pelan dia nyalip. Satu lewat. Dua lewat. Tiga lewat. Lawan diburu seperti emak mengejar diskon minyak goreng tinggal tiga botol. Tau-tau… boom! Lap ke-15 dia sudah nyentuh posisi keempat.
Keempat!
Satu Indonesia nyaris salto berjamaah.
Tetangga yang tak ngerti Moto3 mungkin bingung kenapa rumah sebelah teriak “Ayo Vedaaa!” padahal tak ada yang berantem.
Walau akhirnya finis di posisi kedelapan, hasil itu bukan “cuma P8”. Itu delapan poin penting. Delapan poin yang bikin Veda tetap nangkring di posisi lima klasemen sementara Moto3 2026 dengan total 66 poin. Cuma selisih 1 poin dari Brian Uriarte di posisi keempat. Unggul 5 poin dari Marco Morelli di posisi keenam.
Tipis banget.
Tipis seperti janji kampanye sebelum menang.
Lebih tipis dari koneksi WiFi warung kopi kalau malam Minggu. Lebih tipis dari alasan “otw” padahal masih pakai handuk di rumah.
Yang bikin bangga lagi, Veda sudah mencetak poin di 7 dari 8 seri musim ini. Konsisten. Stabil. Satu-satunya wakil Asia di lima besar klasemen. Sendirian di tengah kerumunan pembalap Eropa yang jumlahnya seperti rombongan pejabat turun ke lokasi bencana lengkap dengan rompi baru dan kamera siap siaga.
Memang masih ada PR. Start perlu lebih galak supaya tak tercecer di lap awal. Manajemen ban harus makin cerdas biar akhir balapan tak ngos-ngosan. Fisik juga perlu makin kuat karena lap-lap akhir di Mugello lebih melelahkan dari dengar debat politisi yang jawab pertanyaan muter-muter tapi tak pernah sampai tujuan.
Lalu perhatian pindah ke seri berikutnya di Balaton Park Circuit.
Nah ini menarik.
Balaton Park punya karakter stop-and-go. Banyak pengereman, banyak akselerasi keluar tikungan. Trek model begini cocok buat Honda dan cocok buat gaya Veda. Jadi peluangnya terbuka lebar seperti pintu mobil pejabat saat lihat kamera wartawan.
Prediksi realistisnya P5 sampai P7. Tapi podium? Masih sangat mungkin.
Apalagi trek ini baru. Semua pembalap sama-sama belum terlalu akrab. Tak ada yang terlalu senior. Semua sama-sama meraba-raba seperti anak kos cari charger di kamar gelap saat listrik baru nyala.
Veda punya modal penting, cepat beradaptasi. Kita sudah lihat sendiri bagaimana dia pernah bikin sejarah podium di Brasil dan pernah bangkit dari posisi 20 ke P8 di Catalunya. Anak ini kalau dikasih tekanan justru seperti makin berbahaya.
Kuncinya nanti jelas, maksimalkan FP1 sampai FP3, rebut start di dua baris depan, jaga ban, jaga ritme, jangan bikin kesalahan sendiri.
Kalau semua klik di Hungaria… wah. Bisa jadi Merah Putih berkibar tinggi. Netizen Indonesia pesta di timeline. Anak-anak gabut bikin editan TikTok pakai backsound heroik. Para politisi mendadak upload ucapan selamat seolah dari awal ikut nyetel motor di paddock.
Begitulah negeri ini. Kalau ada kemenangan, semua merasa ikut dorong. Padahal yang kerja keras muter sirkuit ya Veda sendiri. Yang lain cuma..., ah sudahlah, wak.
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar