Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Menjemput Jejak yang Nyaris Senyap: Menghidupkan Kembali Tari Remo Sutina

Redaksi Radar Jember • Selasa, 12 Mei 2026 | 13:10 WIB
Taufan Restuanto (Kepala Dinas Pendidikan Bondowoso)
Taufan Restuanto (Kepala Dinas Pendidikan Bondowoso)

 

Opini Oleh = Taufan Restuanto (Kepala Dinas Pendidikan Bondowoso)

Ada yang tersisa dari perhelatan Upacara Hari Pendidikan Nasional tahun 2026, yaitu dibalik penampilan kolosal tari remo sutinah yang berlangsung rampak meriah diikuti oleh 400 murid SMP se Kabupaten Bondowoso dan disambut antusiasme penonton, ternyata terdapat persepsi yg bisa berbeda, bisa benar dan bisa salah. Kenapa memilih Tari Remo Sutinah?

Tulisan ini tidak bermaksud membela diri tetapi hanya memberikan pencerahan. 
Bagi saya yang terlahir dan bertumbuh kembang sertamenghabiskan masa kecil di salah satu desa di Bondowoso ini, hiburan masa kecil adalah seni ludruk yang tampil dari acara tanggapan mantenan. Ketika ada tetangga atau sanak famili yang mempunyai hajat maka ludruk selalu ditunggu.

Kebetulan nama bu Sutinah yg merupakan salah satu penari yang terkenal di masanya dan masih kami ingat. Dia tampil sebagai penari remo yang merupakan penampilan pembuka dari seni pertunjukan ludruk. Untuk gampangnya marilah kitasebut Tari Remo Sutina.

Bagi masyarakat generasi terdahulu, nama Bu Sutina bukanlah sosok yang asing. Ada yang menyebutnya berasal dari Tegalampel, ada pula yang meyakini ia berasal dari Pakuwesi. Namun, ketika kesenian ludruk mulai ditinggalkan takdir membawa penari legendaris ini melanglang buana hingga ke Bali untuk menyambung hidup setelah masa jayanya sebagai penari "panjek" berlalu.

Baca Juga: Antrean Semu Program RANTAS

Jauh sebelum era Sutina, Bondowoso sebenarnya memiliki sosok penari lain yang tak kalah ikonik bernama Bhuna. Berbeda dengan Sutina, Bhuna adalah seorang laki-laki bertubuh besar dan gemuk. Gaya menarinya unik, lebih dekat dengan napas kesenian Sandhurr dalam tradisi Madura. Namun sayang, seiring wafatnya Bhuna, gerak dan iramanya ikut terkubur waktu. Hilang tanpa sisa.

Pelajaran pahit dari hilangnya jejak Bhuna inilah yang memicu gerakan penyelamatan Tari Remo Sutina. Untungnya terdapat budayawan bernama pak sugeng dari Prajekan yang sempat bertemu dengan bu Sutinah dam meminta bu Sutinah menari dan direkam yang selanjutnya disarikan olehnya.
Upaya ini bukan sekadar romantisme masa lalu, melainkan sebuah langkah terstruktur untuk menjaga identitas asli Bondowoso.

Langkah Terstruktur Menuju Kebangkitan

Upaya menghidupkan kembali Remo Sutina dimulai dari ruang-ruang diskusi di Dinas Pendidikan dan komunitas guru seni yang tergabung dalam MGMP seni budaya. Gayung pun bersambut. Dukungan dari berbagai pihak, termasuk Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, memperkuat keyakinan bahwa Remo Sutina harus menjadi milik generasi muda Bondowoso.

Baca Juga: Republik Cendol: Gincu di Layar, Debu di Jalanan

Langkah pelestarian ini dilakukan secara sistematis:

Berguru pada Maestro: Para guru yang tergabung dalam MGMP dikirim untuk belajar langsung kepada Pak Sugeng, satu-satunya saksi hidup sekaligus sosok yang pernah mendokumentasikan gerakan asli Bu Sutina.

Transfer Pengetahuan: Melalui workshop pada bulan Desember 2025 di SMPK, ilmu yang didapat dari Pak Sugeng ditularkan kepada guru-guru kesenian dari berbagai sekolah.

Implementasi ke Generasi Muda: Tari ini kemudian dimasukkan ke dalam muatan lokal sekolah. Puncaknya, sebuah kompetisi antar-SMP digelar sebagai salah satu lomba pada Pekan Pendidikan Berkah Tahun 2026 yang diikuti 42 SMP.

Dari yang awalnya hanya direncanakan sebagai flashmob sederhana, antusiasme siswa justru meledak. Mereka tampil totalitas dengan kostum dan riasan lengkap. Selanjutnya semua peserta lomba tampil di Upacara Hari Pendidikan Nasional di alun-alun Bagus Asra Bondowoso.

Kini, setidaknya ada ratusan anak muda dan puluhan guru yang telah menguasai gerakan Remo Sutina. Ini adalah sebuah kemenangan kecil bagi kebudayaan lokal.

Balapan dengan Waktu

Kekhawatiran akan hilangnya sebuah tradisi bukanlah isapan jempol semata. Nasib malang nyaris menimpa kesenian Ludruk Janger di Tasnan Desa Taman.

Kesenian unik yang memadukan alur cerita Ludruk dengan iringan musik Janger ini kini hanya menyisakan Mbah Mad sebagai pemegang estafet terakhir. 

Sebagian besar anggota perkumpulan seni ini sudah meninggal. Namun, faktor usia dan kesehatan membuat Mbah Mad tak lagi mampu mengajar.

Kenyataan pahit ini menjadi pengingat keras. Jika kita terlambat satu langkah saja, maka nasib Remo Sutina bisa berakhir tragis seperti Ludruk Janger atau sosok Bhuna yang hanya tinggal nama.

Memilih untuk fokus pada Remo Sutina bukan berarti mengabaikan kesenian lain seperti Topeng Konah. Ini adalah strategi prioritas. Melalui pendekatan yang terstruktur, yaitu mulai dari belajar ke maestro, workshop, hingga masuk ke kurikulum sekolah. Disini Bondowoso sedang membangun benteng pertahanan bagi budayanya sendiri.

Sebab, budaya bukanlah benda mati yang dipajang di museum, melainkan napas yang harus terus ditiupkan ke dalam raga generasi penerus agar ia tetap hidup dan tidak menjadi sekadar dongeng sebelum tidur.

Editor : M. Ainul Budi
#tari seni budaya #tari remo sutina #Dispendik Bondowoso #Bondowoso