RADAR JEMBER - Based on true story. Bukan fiksi alagi ilusi. Kisah detik-detik penangkapan Bupati Tulungagung oleh KPK. Simak cerpennya sambil seruput Koptagul, wak!
Hari itu, Jumat sore di Pendopo Arum, rumah dinas Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo. Suasananya kayak lagi arisan ibu-ibu PKK tapi versi pejabat. Semua Kepala OPD datang rapi. Ada bawa amplop tebal. Senyum kaku, tangan gemeteran. Targetnya? Kontribusi “sukarela” biar jabatan aman. Proyek lancar. Surat pengunduran diri kosong tanggal nggak langsung dipakai. Total target Rp5 miliar. Realisasi hari itu? Rp2,7 miliar.
Si Bupati duduk di kursi kebesaran. Dada membusung. Di sebelahnya, ajudan setia Dwi Yoga Ambal alias Mas YOG, sibuk ngitung duit kayak kasir Indomaret lagi obral. Uang tunai berjejer rapi di meja, ratusan juta, plus bonus sepatu Louis Vuitton yang baru dibeli dari “hasil jerih payah” rakyat. Empat pasang, total Rp129 juta. “Ini buat jalan-jalan ke Jakarta nanti,” bisik Gatut sambil nyengir.
Baca Juga: Operasi Senyap di Tulungagung: KPK Amankan Uang Tunai dan Boyong 13 Orang ke Jakarta
Tiba-tiba, tiga mobil hitam KPK meluncur masuk pelan-pelan. Tim penyidik turun seperti pasukan ninja, tapi ninja yang pakai rompi bertuliskan “KPK” gede banget. Suasana langsung beku. Kepala OPD pada saling pandang, “Waduh, ini arisan atau razia?”
“Operasi Tangkap Tangan! Semua diam di tempat!” teriak ketua tim.
Chaos langsung pecah. Pejabat lari ke sana-sini kayak ayam kena siram air panas. Ada yang sembunyi di balik pot bunga. Ada yang pura-pura telepon ibunya. Ada yang langsung jongkok sambil bilang “Saya cuma numpang lewat, Pak!”
Tapi yang paling epik adalah sang Bupati sendiri.
Begitu mendengar teriakan KPK, Gatut Sunu Wibowo, pria yang punya harta Rp18 miliar dan 18 mobil di garasi, langsung panik level dewa. Otaknya berputar cepat. “Lari ke mana? Helikopter nggak ada. Naik kuda? Nggak punya. Sembunyi di lemari? Terlalu kecil buat perut bupati.”
Akhirnya, keputusan jenius keluar, Garasi!
Baca Juga: Loncat ke Gerindra, Biar Aman, Eh…Bupati Tulungagung Malah Di-OTT KPK
Dia lari terbirit-birit ke garasi pendopo. Buka pintu mobil mewahnya (yang harganya bisa bikin satu desa kaget), masuk, lalu meringkuk di kursi belakang sambil menutup pintu pelan-pelan. Napasnya ngos-ngosan. Keringat bercucuran. Di dalam mobil gelap itu, dia berbisik sendiri, “Kalau aku diem di sini, mereka pasti pikir aku lagi inspeksi ban serep. Atau lagi meditasi. Atau… lagi jadi ninja. Iya, ninja bupati! Tak terlihat, tak terdengar, tak tertangkap!”
Di luar, tim KPK lagi sweeping ruangan. Mereka cari-cari, “Mana Bupati? Hilang!”
Mereka tanya ajudan Mas YOG. Awalnya YOG sok setia, “Pak Bupati? Baru aja ke belakang, Pak. Mungkin lagi… buang air.”
Tapi KPK nggak main-main. Dua menit kemudian, YOG sudah bernyanyi lebih merdu dari penyanyi dangdut di acara hajatan. “Dia di garasi, Pak! Di mobil hitam yang paling gede! Saya tunjukin!”
Tim KPK langsung ke garasi. Mereka buka pintu mobil satu per satu. Sampai mobil mewah Bupati. Ketika pintu terbuka…
Di situ, meringkuk seperti anak kecil yang ketahuan main HP malem-malem, ada Bupati Gatut Sunu Wibowo. Jasnya kusut, muka pucat, tangan memeluk lutut. Dia angkat muka, senyum kecut, dan bilang dengan suara gemetar, “…Selamat sore, Pak. Lagi… cek oli, nih.”
Tim KPK cuma bisa geleng-geleng sambil nahan tawa. Satu penyidik berbisik ke temannya, “Ini bupati atau anak TK yang main petak umpet?”
Baca Juga: Ternyata! Bos Perusahaan Pemenang Proyek 21 Ribu Motor BGN Pernah Diperiksa KPK Soal Kasus Bansos
Gatut ditarik keluar dengan lembut (tapi tegas). Sementara itu, Mas YOG sudah cerita semua, kronologi setoran, siapa yang kasih berapa, buat apa duitnya (termasuk beli sepatu LV biar “kelihatan mewah pas sidak”). 16 orang diamankan. 40 ponsel disita. Pendopo Arum yang biasanya megah mendadak jadi panggung komedi.
Keesokan paginya, di Gedung Merah Putih KPK Jakarta, Gatut sudah pakai rompi oranye khas tersangka. Dia minta maaf di depan kamera dengan muka lesu, “Saya minta maaf kepada rakyat Tulungagung…”
Di belakang layar, seorang penyidik KPK ngobrol sama temannya, “Dia sembunyi di garasi sendiri, bro. Punya 18 mobil, tapi pilih yang paling gede buat umpet. Level pelarian, legendaris.”
Temannya jawab sambil ketawa ngakak. “Kalau dia lari ke hutan, mungkin lebih gagah. Ini malah kayak lagi sembunyi dari istri yang lagi marah soal bon belanja.”
Cerita ini nyebar cepat di Tulungagung. Warga pada ketawa sambil geleng-geleng, “Bupati kita ternyata juara petak umpet nasional. Next time mungkin sembunyi di lemari es biar lebih dingin.”
Sampai sekarang, setiap kali ada yang bilang “garasi”, orang Tulungagung langsung ingat, itu bukan tempat parkir mobil. Itu tempat lahirnya legenda “Ninja Bupati yang Gagal Total”.
Tamat
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar