Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Duh Malunya! Baku Hantam Saat Salat Id di Surabaya

M. Ainul Budi • Selasa, 24 Maret 2026 | 09:04 WIB
Duh Malunya! Baku Hantam Saat Salat Id di Surabaya
Duh Malunya! Baku Hantam Saat Salat Id di Surabaya

RADAR JEMBER - Saat Idulfitri, perang Iran vs Israel-AS masih baku hantam dengan rudal dan drone. Di dalam negeri juga ada baku hantam sesama Muslim. Bukan di pasar, apalagi di istana, tapi saat salat Id. Duh malunya! Siapkan lagi Koptagulnya, nikmati narasinya, rek!

Kalau hidup ini sinetron, maka kejadian di Masjid Kemayoran Ta'miriyah ini sudah masuk episode spesial, “Lebaran Berdarah (Tapi Untungnya Tidak Berdarah Beneran).” Sabtu, 21 Maret 2026, hari pertama Idulfitri 1447 H, umat manusia berkumpul dengan pakaian terbaik, hati yang katanya sudah dicuci selama Ramadan, niatnya mau saling maaf-maafan… eh malah berubah jadi simulasi gladiator versi saf salat.

Kejadiannya bukan malam-malam, bukan di gang sempit, bukan di parkiran minimarket. Ini terjadi tepat saat khutbah Idulfitri masih berlangsung. Khatib lagi berdiri gagah di mimbar, suara sudah syahdu, mungkin lagi masuk bagian “jadilah pribadi yang sabar dan pemaaf,” tiba-tiba di area saf depan, muncul adegan yang bikin malaikat mungkin saling pandang. Pukul, tonjok, tendang, lengkap tanpa sensor.

Pelakunya? Jangan kira cuma anak muda yang darahnya masih panas. Ini paket kombo. Pemuda/remaja dan bapak-bapak. Kolaborasi lintas generasi yang harusnya dipakai buat membangun bangsa, malah dipakai buat adu teknik pukulan. Yang muda mungkin unggul stamina, yang tua unggul pengalaman. Kalau ini lomba resmi, juri pasti bingung kasih nilai karena semuanya terlalu niat.

Awalnya sederhana. Terlalu sederhana untuk ukuran kekacauan sebesar ini. Menurut marbot masjid, Dedi Kurniawan, ini murni kesalahpahaman. Ada yang menuduh pihak lain mengambil atau mencuri HP. Tuduhan dilempar, yang dituduh tidak terima, sama-sama ngotot, suara mulai naik, emosi mulai mendidih… dan dalam hitungan detik, Idulfitri berubah jadi “Idul-Fight-ri.”

Ini bukan konflik ideologi, bukan dendam lama, bukan skenario politik tingkat tinggi. Tidak ada rapat rahasia, tidak ada konspirasi global. Ini konflik spontan, levelnya lebih cepat dari mie instan matang. Satu tuduhan, satu ego, selesai, langsung chaos.

Video yang viral itu benar-benar bikin penonton mengalami krisis identitas emosi. Mau ketawa, tapi ini memalukan. Mau sedih, tapi adegannya terlalu absurd. Jamaah lain panik, terutama wanita dan anak-anak yang jelas tidak daftar untuk nonton pertunjukan live action seperti ini. Barisan saf berantakan, orang-orang berusaha menghindar atau melerai, suasana yang harusnya khidmat langsung berubah jadi riuh seperti Rismon bilang penelitian itu keliru.

Untungnya, ini Indonesia, negeri MBG. Refleks gotong royong masih ada. Jemaah lain langsung melerai. Polisi yang berjaga juga turun tangan dengan sigap. Dalam waktu relatif cepat, situasi berhasil dikendalikan sebelum berubah jadi episode panjang. Tidak ada laporan korban luka berat atau dirawat di rumah sakit. Secara fisik aman, tapi secara moral? Wah, itu sudah seperti jatuh dari lantai tiga tanpa kasur.

Ibadah tetap selesai. Takbir tetap berkumandang. Tapi rasanya sudah beda. Seperti makan opor tanpa garam. Tetap opor, tapi ada yang hilang. Momen yang harusnya suci jadi tercoreng, lalu ditutup dengan bonus, viral di media sosial. Instagram, TikTok, sampai X penuh komentar pedas. “Islam musiman,” “puasa tapi otak nggak ikut fitrah,” dan berbagai analisis netizen yang tiba-tiba jadi pakar perilaku manusia.

Di saat dunia luar sibuk tegang dengan konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat, kita justru menunjukkan, untuk menciptakan kekacauan, manusia tidak butuh rudal. Cukup satu HP dan ego yang tidak mau kalah.

Akhirnya, kita cuma bisa menarik napas panjang sambil ketawa pahit. Sebulan penuh latihan menahan diri, tapi ujian terakhir gagal karena hal sepele. Ini bukan sekadar kejadian, ini sindiran level dewa. Ternyata menahan lapar lebih mudah dari menahan emosi.

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Editor : M. Ainul Budi
#Idul Fitri #Surabaya #muslim #Israel #Mbg