Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Kita Bangga pada Jenius, Padahal Mereka yang Mempercepat Akhir

M. Ainul Budi • 2026-03-22 15:35:13
Kita Bangga pada Jenius, Padahal Mereka yang Mempercepat Akhir
Kita Bangga pada Jenius, Padahal Mereka yang Mempercepat Akhir

 

RADAR JEMBER - Sambil membayangkan seruput Koptagul ntar habis takbiran, saya ingin menuliskan sebuah refleksi. Gara-gara perang Iran vs Israel-AS, lalu muncul ide menuliskan narasi ini. Simak dengan saksama. Yang udah Idulfitri duluan, silakan ditemani Koptagul, wak!

Dalam Alquran, kiamat itu janji, bukan opsi. Dalam Alkitab, akhir zaman digambarkan penuh kekacauan. Dalam Bhagavad Gita, dunia adalah siklus penciptaan dan kehancuran. Dalam Tripitaka, semua tidak kekal. Artinya sederhana. Ini bukan cerita utopia, ini cerita countdown.

Masalahnya, manusia modern bukan cuma tahu ending. Mereka sekalian jadi arsitek percepatan ending itu (kiamat). Mari kita lihat datanya, bukan perasaan.

Dunia saat ini menyimpan lebih dari 12.000 hulu ledak nuklir. Amerika Serikat dan Rusia menguasai sekitar 90%. Satu hulu ledak modern bisa berkali-kali lipat lebih dahsyat dari bom Hiroshima dan Nagasaki. Ini bukan alat pertahanan lagi, ini tombol “reset peradaban” yang disimpan ramai-ramai sambil berharap tidak ada yang emosi.

Baca Juga: Dari Mana Asal Muasal Tradisi Maaf-memaafkan di Hari Raya Idulftri

Masuk ke energi. Konsumsi minyak dunia sudah menembus 100 juta barel per hari. Energi jadi urat nadi sekaligus sumber konflik. Kilang dibom, jalur laut diperebutkan, harga melonjak. Dunia seperti pasien ICU yang hidup dari selang energi, dan para dokter malah rebutan oksigen.

Sekarang kita masuk ke episode paling update, perang Iran vs Israel–Amerika Serikat. Ini bukan sekadar konflik regional. Ini seperti panggung demo teknologi kehancuran generasi terbaru.

Ribuan target militer dan infrastruktur diserang dalam hitungan minggu. Iran meluncurkan gelombang rudal balistik dan drone ke puluhan titik strategis. Di sisi lain, Amerika Serikat mengerahkan A-10 Warthog, helikopter Apache, dan bom penghancur bunker berbobot beberapa ton untuk menghantam fasilitas bawah tanah dan armada laut. Lebih dari 100 kapal dan instalasi militer dihancurkan dalam operasi beruntun.

Israel bahkan menyerang fasilitas energi strategis Iran, termasuk ladang gas raksasa yang menyumbang sebagian besar produksinya. Efeknya langsung terasa. Gangguan pasokan, harga energi naik, dunia ikut tegang. Antre mengular pertalite sudah terjadi di mana-mana.

Ini bukan perang biasa. Ini seperti pameran hasil riset manusia paling jenius yang semuanya dirancang untuk menghancurkan. Lalu, kita? Masih sempat kagum. Kita bangga pada ilmuwan.
Kita bangga pada insinyur. Kita bangga pada inovator. Kita lihat jet tempur siluman, kita terpukau. Kita lihat rudal presisi, kita terkesima. Kita lihat AI militer, kita bilang, “Masa depan!”

Baca Juga: Cerita Mahasiswa Jember Pulang dari Iran setelah Terjebak di Tengah Hujan Rudal Perang Lawan Israel-AS

Padahal…itulah alat-alat yang sekarang dipakai untuk menghapus kota dari peta. Tidak ada senjata canggih yang dibuat oleh orang bodoh. Tidak ada sistem perang modern yang lahir dari pikiran biasa. Semua ini hasil kerja manusia paling cerdas di bumi. Ironinya hampir terlalu rapi. Semakin tinggi kecerdasan, semakin efisien cara menghancurkan.

Belum cukup? Kita tambahkan layer lain. perubahan iklim. Suhu global sudah naik sekitar 1,1–1,2°C dari era pra-industri. Dampaknya nyata. Cuaca ekstrem, banjir, kekeringan, krisis pangan di beberapa wilayah. Target 1,5°C bukan angka gaya-gayaan. Itu batas sebelum sistem bumi mulai masuk fase tidak stabil.

Di atas semua itu, berdiri satu mahakarya manusia, kecerdasan buatan. Teknologi yang awalnya dijanjikan untuk membantu, kini juga dipakai untuk perang, propaganda, dan manipulasi informasi. Bahkan kebenaran pun sekarang punya pesaing digitalnya. Sekarang, hoax jauh lebih menarik dari kebenaran sesungguhnya.

Lalu kita kembali ke narasi besar tadi. Kalau semua agama sepakat dunia akan kiamat, maka dunia damai abadi itu bukan target, itu ilusi. Kalau dunia tiba-tiba stabil tanpa konflik, tanpa krisis, justru itu yang aneh. Itu seperti cerita yang melawan naskah aslinya. Karena yang kita lihat hari ini bukan penyimpangan. Ini justru konsistensi menuju akhir.

Namun, di tengah semua kegilaan berbasis data ini, ada satu kelompok yang sering diremehkan, bahkan dianggap tidak relevan, yakni orang-orang yang hanya pandai berdoa. Mereka yang berdoa di tempat ibadah, di mana saja. 

Mereka tidak menciptakan 12.000 hulu ledak. Mereka tidak mengonsumsi 100 juta barel minyak per hari. Mereka tidak merancang drone pembunuh atau bom bunker.

Kontribusi mereka? Tidak masuk grafik ekonomi. Tidak masuk laporan militer. Tidak masuk jurnal teknologi.

Tapi ada satu hal yang mereka lakukan yang justru berlawanan arah dengan semua tren tadi, mereka berharap dunia ini tidak hancur. Sederhana. Tidak canggih. Tidak viral. Tapi setidaknya, dan ini yang jarang disadari, mereka tidak ikut mempercepat kehancuran.

Di saat para jenius sibuk membangun sistem yang makin kompleks, orang-orang yang berdoa justru menjaga sesuatu yang makin langka, niat agar dunia tetap bertahan.

Jadi mungkin, di tengah euforia kecerdasan ini, kita perlu sedikit koreksi arah. Kita boleh bangga pada orang jenius. Memang pantas. Tapi jangan lupa satu ironi yang diam-diam menertawakan kita. Yang mempercepat akhir adalah mereka yang paling pintar. Sementara yang mencoba menahan akhir… justru mereka yang hanya berdoa.

Di ujung semua ini, kesimpulannya tetap sama. Kehancuran itu bukan kemungkinan.
Itu kepastian. Bedanya cuma satu, seberapa cepat manusia, dengan seluruh kejeniusannya, memutuskan untuk sampai ke sana.

Kalau ada merasa tak sepaham  dengan tulisan ini, silakan berikan komentar. 

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Editor : M. Ainul Budi
#utopia #IRAN #Israel #kiamat #as #alquran #Alkitab #idulfitri