RADAR JEMBER - Iran tidak mau planga-plongo. Setelah duluan diserang, sekarang giliran negeri para mullah melancarkan serangan balik. Sasarannya tentu Israel. Menariknya, sejumlah pangkalan militer Amerika juga disikat. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Tanggal 28 Februari 2026 terasa seperti malam final Liga Champions versi geopolitik. Hanya saja stadionnya bernama Timur Tengah dan bolanya bukan kulit bundar, melainkan rudal balistik. Kick-off sudah dilakukan lebih dulu oleh Amerika Serikat dan Israel lewat serangan dini hari ke Teheran, Isfahan, dan sejumlah fasilitas nuklir yang disebut sedang “direkonstruksi”. Iran jelas tidak mau jadi tim yang kebobolan duluan tanpa balas. Maka diluncurkanlah serangan bertajuk Truthful Promise 4, nama yang terdengar seperti strategi rahasia pelatih jenius menjelang leg kedua.
Korps Garda Revolusi Islam, IRGC, menyebut ini baru fase pertama. Dalam bahasa sepakbola, ini baru babak pertama, belum turun minum.
Iran melepas gelombang rudal dan drone seperti umpan-umpan panjang dari lini tengah, deras dan simultan. Target utama, Israel. Sirene meraung di Tel Aviv, Yerusalem, hingga wilayah utara. Iron Dome tampil bak kiper kelas dunia di final, menepis satu demi satu “tendangan” jarak jauh itu.
Hampir semua berhasil dicegat. Skor korban jiwa massal di Israel masih 0-0, hanya ledakan dramatis dan asap tebal sebagai efek visual pertandingan. Warga turun ke bunker seperti suporter yang berlindung dari hujan flare, sambil memantau lini masa untuk memastikan apakah ini gol sah atau sekadar VAR geopolitik.
Iran tidak berhenti di satu sisi lapangan. Bola diputar ke sayap Teluk. Di Bahrain, rudal diarahkan ke basis Armada ke-5 Amerika Serikat, ibarat pressing tinggi ke jantung pertahanan lawan. Ledakan terdengar, asap mengepul, dan otoritas setempat langsung mengevakuasi area sekitar markas. Di Qatar, tiga rudal dicegat di atas Al Udeid Air Base. Tembakan keras, ditepis lagi sebelum menyentuh jaring.
Dentumannya tetap terasa, seperti sepakan yang membentur mistar. Uni Emirat Arab mengalami momen paling pahit. Satu warga sipil Asia dilaporkan tewas akibat pecahan rudal di Abu Dhabi, dengan kerusakan kecil di area residensial. Kuwait dan Jordan ikut merasakan tekanan permainan. Bahkan Saudi Arabia disebut-sebut berada dalam potensi lintasan bola liar.
Secara statistik, angka korban dari serangan balasan Iran relatif rendah dibanding skala operasinya. Tidak ada korban Amerika yang dilaporkan. Ada satu-dua korban sipil dan kerusakan infrastruktur militer yang masih dinilai “belum jelas seberapa parah”. Seperti laga panas dengan banyak tekel keras tetapi sedikit gol. Intensitas tinggi, papan skor belum benar-benar berubah drastis.
Reaksi dunia menyerupai penonton global yang menyaksikan final penuh kontroversi. PBB menggelar rapat, seperti komite disiplin yang memeriksa ulang tayangan ulang. Rusia mengecam “agresi tak beralasan” dan menyebut risiko bencana kemanusiaan, sembari menawarkan diri menjadi wasit netral. China melalui Xinhua menilai eskalasi ini sebagai pukulan bagi perdamaian dunia, nada komentarnya seperti analis yang khawatir laga berubah ricuh.
Uni Eropa, dengan Kaja Kallas dan para pemimpinnya, menyerukan penahanan diri dan diplomasi, seolah meminta kedua tim menurunkan tempo sebelum kartu merah beterbangan. Inggris menegaskan fokus pada keselamatan warganya, posisi klasik tim yang tidak mau terlalu jauh masuk lapangan.
Negara-negara Teluk seperti Saudi, Bahrain, dan Uni Emirat Arab kompak mengecam Iran dan menyatakan solidaritas. Pakistan ikut mengutuk dengan nada lebih hati-hati. Di Amerika Serikat, Kongres terbelah. Ada yang menganggap langkah ini keharusan taktis, ada yang mempersoalkan izin dan kewenangan, seperti perdebatan soal strategi pelatih yang terlalu agresif.
Intinya, 28 Februari 2026 menjadi malam ketika dunia menyaksikan final tanpa trofi. Semua pihak berbicara tentang de-eskalasi, tetapi susunan pemain masih siaga di pinggir lapangan. Jika ini baru babak pertama, publik global hanya bisa berharap peluit akhir berbunyi sebelum pertandingan berubah dari laga panas menjadi kekacauan total.
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar