RADAR JEMBER - Orang Sukabumi boleh ngumpul di sini sebentar. Ni, ada orang kalian menjadi perantau sejati di kota saya, Pontianak. Ia konsisten jualan bubur khas Sukabumi. Nikmati narasinya sambil seruput kopi sedikit gula aren, wak!
Setiap pagi, di Jalan Pancasila Pontianak, ada satu ritual yang lebih sakral dari rapat-rapat penuh wacana, panci bubur yang mengepul sejak subuh. Di sanalah Babah Azis berdiri. Bukan sebagai tokoh viral. Bukan sebagai motivator bersertifikat. Tapi sebagai pejuang dapur yang 16 tahun bertarung tanpa jeda.
Saya sudah bertahun-tahun sarapan di kios kecilnya. Dulu hanya satu blok. Sempit. Kasir merangkap pelayan. Pelayan merangkap tukang angkat kursi. Semua serba sendiri. Semua serba sederhana.
Pagi tadi saya terdiam. Kios itu kini menjadi dua blok. Lebih luas. Lebih tertata. Ada kasir khusus. Ada sistem kerja. Ada pembagian peran. Bagi sebagian orang, itu hanya perluasan kios. Bagi saya, itu monumen kecil dari konsistensi yang tak pernah menyerah.
Di negeri yang gemar memuja kesuksesan instan dan menertawakan proses panjang, melihat satu kios bubur berkembang terasa seperti menyaksikan epik yang lahir dari sendok dan mangkuk.
Namanya Azis. Asal Cisaat, Sukabumi, Jawa Barat. Sudah 16 tahun ia membuka usaha bubur ayam itu. Selama 16 tahun itu, ia belum pernah pulang kampung.
Enam belas tahun. Betapa rindunya ia pada kampungnya. Membayangkan ayah yang menua di kampung halaman. Hari raya yang dilewati tanpa pelukan keluarga besar. Itu bukan sekadar angka. Itu harga yang dibayar seorang perantau untuk sebuah cita-cita.
Ia memantapkan diri, Pontianak adalah medan juangnya. Semua karyawannya keluarga. Istri. Mertua. Adik ipar. Di balik panci bubur itu berdiri satu keluarga yang tidak menggantungkan nasib pada belas kasihan dunia. Mereka membangun ekosistem kecil bernama kemandirian.
Azis bercerita, usaha itu bukan dongeng yang selalu berakhir bahagia. Ia pernah jatuh. Pernah sepi. Pernah bingung menghitung sisa uang. Dari kios kecil, pelan-pelan bertumbuh. Tidak ada investor misterius. Tidak ada skema ajaib “tidur uang datang sendiri.” Yang ada hanya bangun sebelum matahari, menanak beras, mengaduk kuah, dan melayani pelanggan dengan sabar.
Lalu datanglah badai bernama Covid-19. Pembeli turun drastis. Jalanan lengang. Ketidakpastian merajalela. Banyak usaha tumbang. Banyak yang menyerah. Tapi Azis memilih bertahan. Ia mengencangkan ikat pinggang, memperbaiki strategi, menjaga kualitas. Ia tidak menyalahkan keadaan. Ia memperkuat fondasi.
Fondasi itu bernama rasa. Saya pernah mengira buburnya gurih karena micin. Ternyata tidak. Ia punya prinsip, bubur tak boleh pakai micin. Ia bereksperimen. Tiga kali uji coba. Ia minta keluarga dan teman mencicipi. Evaluasi. Perbaikan. Hingga akhirnya lahirlah bubur ayam dengan penyedap jamur, gurih alami, bersih, jujur.
Jamur, bukan micin. Di tengah budaya serba instan, Azis memilih kejujuran rasa. Ia tidak menipu lidah pelanggan. Ia membangun reputasi, bukan sekadar penjualan.
Ia pernah membuka cabang. Namun ketika diserahkan ke orang lain, ruhnya hilang. Rasa tak sama. Pelayanan tak setulus yang ia harapkan. Ia sadar, membesarkan usaha bukan sekadar memperbanyak titik, tapi menjaga jiwa. Akhirnya ia fokus memperkuat satu lokasi di Jalan Pancasila itu, hingga benar-benar kokoh.
Usianya mungkin baru 30-an. Dua anak ia besarkan dari hasil bubur. Ia tidak sibuk mengeluh lowongan kerja sempit. Ia menciptakan lapangan kerja. Ia tidak mudah tergoda bisnis instan ala ponzi. Tidak terpancing janji cuan kilat. Tidak larut dalam hiruk-pikuk politik yang gemar berjanji tanpa panci.
Ia memilih berdiri di belakang kompor. Dari kompor itulah ia menempa takdirnya. Azis mengajarkan sesuatu yang mulai langka, kesetiaan pada proses. Kesabaran pada waktu. Keberanian untuk tidak cepat pulang sebelum berhasil.
Di saat banyak orang ingin sukses dalam semalam, ia membangun kesuksesan dalam ribuan pagi. Setiap sendok bubur yang disajikan bukan sekadar sarapan. Itu adalah cerita tentang disiplin. Tentang rindu yang ditunda. Tentang keluarga yang bersatu. Tentang kualitas yang dijaga tanpa kompromi.
Kios dua blok itu bukan sekadar bangunan. Ia adalah bukti bahwa mimpi tidak butuh panggung besar. Ia hanya butuh hati yang teguh, tangan yang mau bekerja, dan keyakinan yang tidak goyah oleh badai.
Jika suatu pagi nuan duduk di sana, memegang mangkuk hangat itu, ketahuilah, Aa Teteh sedang menyaksikan epik seorang perantau yang memilih berjuang, bukan menyerah.
Dari panci bubur yang mengepul, lahirkan pelajaran besar. Kesuksesan sejati bukan datang tiba-tiba. Ia dimasak perlahan. Diaduk dengan sabar. Disajikan dengan kehormatan.
Rosadi Jamani
Editor : M. Ainul Budi