Jember, kota di ujung Jawa Timur mempunyai sebaran bukit-bukit kecil yang disebut gumuk. Jumlah gumuk di Jember ada sebanyak 1.955 gumuk. Gumuk merupakan fenomena geologi yang diduga akibat letusan gunung Raung dan membentuk bentang alam unik berupa bukit kecil (hillock) dengan ketinggian kurang dari 60 meter. Bukit kecil itu terbentuk akibat erosi kerucut gunung berapi muda di sisi barat gunung. Gumuk memiliki nilai ekologis yang sangat baik dan potensi air tanah yang tinggi, terutama yang letaknya berdekatan sehingga dapat dijadikan sebagai penyedia air. Gumuk juga dapat berfungsi sebagai ruang terbuka hijau yang dapat memengaruhi iklim mikro dan sebagai penahan angin. Selain itu, gumuk sebagai suatu ekosistem sumber keanekaragaman hayati, habitat, dan koridor bagi berbagai jenis flora dan fauna.
Kecamatan Ledokombo merupakan bagian dari kabupaten Jember yang terletak lebih kurang 20 kilometer ke arah selatan dari pusat pemerintahan kota Jember. Gumuk banyak dijumpai di Kecamatan Ledokombo karena dekat dengan gunung Raung. Kecamatan Ledokombo terdiri atas 10 desa, yang mempunyai luas wilayah sekitar 157,1 km2, terletak pada ketinggian 370 mdpl dengan curah hujan rata-rata 250,58 mm per tahun (BPS Kabupaten Jember, 2022). Di kawasan ini terdapat pertambangan pasir dan kawasan pertambangan batu khusus batu lempengan. Masyarakat Ledokombo memanfaatkan gumuk untuk perkebunan dan pertambangan. Selain itu, selama sepuluh tahun terakhir masyarakat juga melakukan banyak proses pemberdayaan sosial dan ekonomi yang dikenal dengan Desa Wisata Belajar Ledokombo yang terkenal dengan Tanoker-nya.
Potensi Gumuk Ledokombo
Gumuk Ledokombo memiliki potensi termasuk flora dan fauna. Sekitar 136 gumuk yang dapat digolongkan menjadi gumuk kebun campuran, gumuk penambangan batu, dan gumuk penambangan pasir. Penelitian Maisyaroh pada tahun 2023 menunjukkan terdapat 202 spesies tumbuhan dari 65 famili yang ditemukan di gumuk Ledokombo. Meskipun masyarakat memanfaatkannya untuk perkebunan dan didominasi oleh komoditas tanaman tertentu, tapi keanekaragaman vegetasi gumuk ini relatif cukup tinggi. Tumbuhan bertipe semai adalah tumbuhan yang mendominasi seluruh penggunaan lahan, banyak jenis bibit/ semak yang berpotensi sebagai tanaman obat dan pangan.
Vegetasi yang terdapat pada gumuk dapat memberikan ruang dan mikrohabitat bagi hewan-hewan tertentu termasuk burung dan kupu-kupu. Penelitian Maisyaroh (2021) menemukan sekitar 33 spesies burung dari 20 famili dan 8 ordo di gumuk Ledokombo. Gumuk dapat menjadi koridor bagi burung dalam mencari makan dan berimigrasi, koridor tersebut akan menghubungkan dua tipe habitat yang berfungsi untuk migrasi dan mencari makan hewan. Kehadiran burung dapat mencerminkan ketersediaan makanan dengan tersediannya ruang terbuka hijau yang dapat menunjang dan memberikan peluang bagi burung untuk mendapatkan makanan, hinggap, dan berkembang biak. Kelimpahan burung dapat menjadi indikator stabilitas ekosistem. Penelitian Mubarok (2023) juga menunjukkan bahwa terdapat 34 spesies kupu-kupu yang dapat ditemukan di kawasan gumuk Ledokombo ini.
Ancaman Gumuk Ledokombo
Meskipun keanekaragaman flora dan fauna gumuk Ledokombo tinggi, tapi gumuk mengalami ancaman yang sangat serius yang disebabkan oleh penambangan pasir, penambangan batu, dan pembukaan lahan sebagai kebun. Ancaman tersebut dapat sangat merusak ekosistem dan lingkungan sekitarnya, sehingga menghilangkan karakteristik, bentuk, lanskap, dan fungsi alami gumuk sebagai penahan angin serta sebagai penyimpan cadangan air tanah. Ancaman tersebut dapat mengakibatkan kerusakan permanen pada struktur alam yang telah ada selama berabad-abad.
Ekosistem pada gumuk juga akan terganggu salah satunya kehilangan keanekaragaman hayati seperti flora dan fauna yang sudah beradaptasi dengan lingkungan tersebut. Proses penambangan juga dapat menghasilkan limbah beracun seperti zat kimia, logam berat, dan partikel debu yang dapat mencemari air tanah dan sungai di sekitarnya. Hal ini dapat merusak ekosistem air dan memengaruhi kesehatan manusia dan hewan. Penambangan juga dapat mengganggu penahanan tanah alami yang dimiliki gumuk. Tanpa vegetasi dan struktur tanah yang kuat, tanah dapat menjadi rentan terhadap erosi oleh air dan angin, yang dapat merusak lingkungan sekitar dan menyebabkan banjir. Penambangan dapat memengaruhi komunitas lokal yang mungkin bergantung pada lingkungan gumuk untuk sumberdaya alam, seperti air bersih dan lahan pertanian. Aktivitas penambangan juga dapat memengaruhi kualitas hidup penduduk setempat.
Upaya Pelestarian
Selama ini belum ada upaya pelestarian gumuk Ledokombo yang signifikan. Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya jumlah gumuk yang hilang akibat penambangan dan konversi lahan gumuk menjadi perkebunan. Upaya pelestarian gumuk dapat dilakukan dengan cara memperketat izin penambangan dan pengelolaan gumuk, baik gumuk yang dimiliki oleh pemerintah maupun milik pribadi. Praktik penambangan dan pengelolaan gumuk harus berorientasi lingkungan dan konservasi secara berkelanjutan. Selain itu, perlu adanya sosialisasi untuk menumbuhkan kesadaran untuk melindungi keanekaragaman hayati yang ada di kawasan gumuk. Intinya, upaya konservasi dan perlindungan lingkungan harus mengutamakan pertahanan nilai ekologis dari gumuk untuk meminimalkan dampak negatif penambangan agar anak cucu kita masih dapat menikmati bentuk keindahan alam berupa gumuk yang indah ini.
*) Penulis adalah Mahasiswa Program Studi Tadris Biologi, UIN Kiai Haji Achmad Siddiq, Jember.
Editor : Safitri