Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Keuntungan vs Keberuntungan

Safitri • Jumat, 16 Juni 2023 | 18:44 WIB
Oleh: Riniati
Oleh: Riniati
Istilah keuntungan dan keberuntungan tampaknya agak mirip, tetapi dilihat dari maknanya, maka keduanya memiliki perbedaan yang dalam. Kata keuntungan dalam ilmu ekonomi diartikan sebagai selisih antara penerimaan atas penjualan produk atau jasa (total revenue) dengan biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan produk atau jasa tersebut (total cost). Produsen akan berusaha dengan berbagai cara untuk menghasilkan keuntungan yang sebesar-besarnya, baik dengan memaksimalkan total revenue atau dengan meminimalkan total cost-nya.

Keuntungan adalah pencapaian akhir atau buah manis atas jerih payah yang dilakukan seorang pengusaha. Keuntungan juga bisa disebut pendapatan bagi pengusaha. Secara ekonomi, pendapatan juga diterima oleh pemilik faktor produksi yang lain, seperti gaji atau upah yang diterima oleh tenaga kerja, sewa yang diterima pemilik aset. Demikian juga bunga yang diterima pemilik modal. Semua itu adalah pendapatan dilihat dari dimensi ekonomi sebagai pemilik faktor produksi dan belum terkait dengan dimensi lain.

Dilihat dari dimensi yang lebih luas (agama), maka pendapatan masih merupakan sebagian dari rezeki yang Allah karuniakan kepada manusia. Artinya, ada rezeki dalam bentuk lain yang dibutuhkan manusia dalam melangsungkan kehidupannya. Bentuk rezeki lain tersebut bisa berupa kesehatan, pertolongan, kemudahan, kepuasan, kesenangan maupun kebahagiaan. Rezeki bisa dalam bentuk material maupun non material. Rezeki dibutuhkan oleh setiap manusia, baik dia berperan maupun tidak berperan sebagai pelaku ekonomi. Rezeki jauh lebih luas dibandingkan pendapatan atau keuntungan. Selanjutnya, istilah rezeki seringkali dikaitkan dengan berkah. Artinya, walaupun secara nominal pendapatan itu kecil, tetapi kalau berkah, akan jauh lebih baik dibandingkan dengan pendapatan yang besar tetapi tidak berkah.

Banyak orang hanya berusaha mengejar rezeki secara nominal semata, tetapi lupa untuk mengejar keberkahannya. Rezeki yang berkah tentu tidak diperoleh dengan cara-cara yang melanggar norma-norma agama, seperti ; tidak jujur, membujuk, menipu, korupsi, zalim, memaksa, ingkar janji, menikung, dan lain-lain. Rezeki yang berkah tentu diperoleh dengan cara-cara yang sesuai norma agama, seperti: jujur, menepati janji, apa adanya, bukan dari hasil korupsi, lebih mengutamakan kepuasan pelanggan, menjaga kualitas, dan berdedikasi. Intinya, keberkahan rezeki diperoleh dengan menjaga aturan, norma, maupun kaidah dalam agama.

Sering kita mendengar cerita sebuah keluarga yang tampaknya dari luar adalah keluarga yang sangat mapan, memiliki aset kekayaan yang banyak, penghasilan lebih dari cukup, tetapi dalam keseharian mengalami kesulitan ekonomi, entah karena pengeluaran yang besar, atau karena hal lain. Demikian pula sebaliknya, kadang orang tidak memiliki penghasilan yang tetap, tetapi juga tidak memiliki kewajiban yang besar, sehingga pengeluaran relatif kecil, tetapi rezeki seperti mengalir tak putus-putus. Mungkin kita juga merasakan suasana kehidupan di pondok pesantren yang walaupun sederhana, tetapi nikmat, demikian juga kehidupan di lingkungan keraton, yang diliputi rasa tenteram dan bahagia karena penuh berkah.

Dengan melihat contoh tersebut, maka pada hakekatnya, manusia tidak hanya membutuhkan pendapatan atau keuntungan secara nominal, tetapi lebih kepada rezeki yang berkah. Keberkahan menjadi bermakna penting dan seharusnya menjadi lebih diutamakan daripada pendapatan secara nominal semata. Bukan berarti manusia senang dengan yang sedikit, dan tidak senang dengan nominal yang besar, tetapi keberkahan sangat diharapkan terkandung dalam setiap rupiah yang diterima. Dengan menyadari konsep tentang keberkahan rezeki, maka orientasi seseorang tentu lebih mementingkan keberkahan dengan cara menjaga aturan, etika, ataupun norma.

Mengapa orang yang sudah memiliki pendapatan besar tetapi tidak mencukupi kebutuhan hidupnya? Karena di dalam pendapatan tersebut terkandung unsur pelanggaran norma. Seberapa besar ketidakberkahan pendapatan, tentu tergantung pada seberapa besar unsur pelanggaran yang terkandung di dalamnya. Semakin besar pelanggaran dilakukan, semakin besar ketidakberkahan yang terjadi, sehingga seseorang mengalami defisit, tidak peduli seberapa pun pendapatan atau keuntungan yang diperolehnya. Kondisi tersebut diistilahkan “Saldo Semesta Negatif” (Rizal Sastrapraja & Arif R.H., 2023). Sebaliknya, walaupun pendapatan atau keuntungannya sedikit, tetapi karena tidak terdapat unsur pelanggaran norma, maka pendapatannya menjadi berkah dan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, atau pas sama antara pemasukan dan pengeluarannya, tidak kurang juga tidak lebih. Kondisi tersebut diistilahkan dengan “Saldo Semesta Nol”.

Kalau ada istilah “saldo semesta negatif” dan “saldo semesta nol”, tentu juga ada istilah “saldo semesta positif”. Saldo semesta positif berada pada wilayah di mana seseorang melampaui wilayah keberkahan, dan sudah berada pada wilayah keajaiban (miracle) atau keberlimpahan (abundant), karena melakukan perbuatan amal saleh yang bermanfaat, seperti infak, sedekah, membantu sesama, dan lain-lain. Semakin besar nilai saldo semesta positif, maka rezeki akan semakin berlimpah. Rezeki semakin mengalir deras, bukan hanya tampak pada finansial semata, tetapi juga pada rezeki lain. Seperti kesehatan, kemudahan urusan, pertolongan, kebahagiaan, perlindungan, mengundang cinta Allah dan manusia. Inilah yang disebut dengan “Keberuntungan”. Untuk bisa menggapai keberuntungan, bukan hal yang mustahil. Salah satu definisi keberuntungan pada Alquran surat Al-Baqoroh ayat 5, menjelaskan bahwa orang yang beruntung, adalah orang yang : 1). Beriman kepada hal yang gaib; 2). Melaksanakan salat; 3). Menginfakkan sebagian rezeki yang diberikan Allah kepada mereka; 4). Beriman kepada Alquran; dan 5). Yakin akan adanya akherat.

Seberapa derajat keberuntungan yang ingin kita capai, tentu tergantung pada seberapa besar kita mengisi saldo semesta dengan berbagai amal, termasuk menginfakkan sebagian rezeki yang Allah berikan kepada kita. Semakin besar yang diinfakkan, semakin tinggi level keberuntungan. Oleh karena itu, pelaku sedekah digolongkan sebagai orang yang beruntung, karena akan mendapatkan keajaiban. Sering kita melihat orang yang gemar melakukan sedekah justru rezekinya semakin meningkat, karena Allah menjamin untuk membalasnya dengan berkali lipat. Perlu diingat, bahwa rezeki bukan hanya berupa harta. Dengan demikian orang yang memperoleh keuntungan belum tentu mencapai keberuntungan, sedangkan orang yang memperoleh keberuntungan sudah pasti lebih dari sekedar keuntungan.

*) Penulis adalah Dosen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Jember.

 

 

 

  Editor : Safitri
#opini