Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Tetaplah Semangat Pemuda Indonesia

Safitri • Sabtu, 29 Oktober 2022 | 19:23 WIB
Oleh: Hairus Salikin
Oleh: Hairus Salikin
Setiap tanggal 28 Oktober bangsa Indonesia memperingati hari Sumpah Pemuda yang merupakan salah satu peristiwa sejarah yang sangat penting dalam mencapai kemerdekaan negeri ini. Peristiwa sumpah pemuda telah berusia 94 tahun sejak dideklarasikan pada 28 Oktober 1928. Pada saat itu bangsa Indonesia disatukan oleh semangat yang sama yaitu semangat anti penjajahan. Kesadaran itu muncul setelah sekitar tiga abad bangsa ini menjadi korban politik devide et empera, yaitu politik memecah belah kelompok besar menjadi kelompok kecil agar lebih mudah dikalahkan atau yang sering disebut politik memecah belah persatuan.

Dalam catatan sejarah diketahui bahwa menjelang hari dideklarasikannya sumpah pemuda, telah dilangsungkan dua kongres oleh sejumlah besar organisasi kedaerahan. Kongres pertama pada tahun 1926 dilaksanakan di Batavia dan kongres kedua pada tahun 1928 yaitu kongres yang akhirnya melahirkan ikrar sumpah pemuda yaitu bertanah air satu, Indonesia, berbangsa satu, Indonesia dan berbahasa satu yaitu Bahasa Indonesia.

Sejarah telah membuktikan bahwa pemuda (termasuk pemudi) adalah salah satu kekuatan yang memiliki peran besar dalam perjalanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Tidak dapat dipungkiri bahwa maju mundurnya suatu negara sangat ditentukan oleh pemikiran dan kontribusi aktif pemuda di negara tersebut. Bahkan tidaklah berlebihan kalau ada yang berpendapat bahwa apabila ingin mengetahui keadaan sebuah bangsa di masa yang akan datang, cukup melihat seperti apa keadaan pemudanya saat ini.

Terkait dengan pentingnya peran pemuda dalam kehidupan berbangsa, sering kita mendengar atau membaca kata-kata bijak tentang pemuda, di antaranya “pemuda saat ini, pemimpin di masa depan” (pepatah Arab). Presiden pertama negeri ini, Ir Soekarno, pernah mengatakan, “beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan aku guncang dunia”.

Pepatah serta perkataan Bung Karno tersebut mengisyaratkan bahwa peran pemuda dalam kehidupan bukan hanya penting tetapi juga kuat dan dahsyat sekaligus. Sebagai contoh, Panglima Besar Jenderal Soedirman, kelahiran Purbalingga, 24 Januari 1916, saat masih sangat muda, dengan semangat yang kuat mampu memimpin perang gerilya melawan agresi militer Belanda. Jenderal Soedirman, mantan guru dan kepala sekolah HIS Muhammadiyah Cilacap, wafat di Magelang pada 29 Januari 1950 dalam usia 34 tahun. Walaupun beliau wafat dalam usia yang masih sangat muda, beliau telah mewariskan semangat perjuangan bagi generasi berikutnya.

Bung Tomo yang bernama asli Sutomo, lahir pada 3 Oktober 1920 di Kampung Blauran, Surabaya juga merupakan sosok pemuda yang berperan penting dalam mempertahankan kemerdekaan bangsa ini. Beliau adalah tokoh muda dalam peristiwa pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Jasa beliau dalam upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia saat melawan penjajah yang ingin kembali menjajah Indonesia, sangat besar nilainya. Pada pertempuran di Surabaya, 10 November 1945, Bung Tomo tampil sebagai orator ulung di depan corong radio, membakar semangat rakyat, terutama “arek-arek Suroboyo”, untuk berjuang melawan tentara Inggris dan NICA-Belanda. Berikut ucapan beliau, “kita tunjukkan kepada mereka bahwa kita adalah benar-benar orang yang ingin merdeka. Semboyan kita tetap, merdeka atau mati”.

Ingatan kita mungkin masih segar bahwa pada tahun 1989 para pemuda (mahasiswa) serta beberapa intelektual telah mengguncang Indonesia dengan melakukan sesuatu yang sepertinya tidak mungkin dilakukan di saat itu. Saat itu mereka bergejolak dan berdemo di mana mana meminta agar Presiden Soeharto yang telah berkuasa selamat 32 tahun mundur dari jabatannya.

Di tahun itu rakyat Indonesia, mungkin juga warga dunia secara umum, seolah tidak percaya bahwa kekuatan presiden kedua negeri ini bisa ditumbangkan oleh para pemuda. Ketidakpuasan pada pemerintahan beliau membuat gejolak agar beliau mundur dari jabatannya. Dengan gigih para pemuda saat itu terus menunjukkan jadi dirinya dan pada akhirnya Bapak Soeharto mengundurkan diri. Beliau menyatakan berhenti dari jabatan presiden Republik Indonesia pada tanggal 21 Mei 1998. Jabatannya diserahkan kepada wakil presiden BJ. Habibie. Sedikit contoh-contoh ini menunjukkan betapa pemuda memiliki kekuatan yang dahsyat ketika mereka mengambil bagian dalam perjalanan kehidupan bangsa.

Semangat sumpah pemuda yang diikrarkan 94 tahun yang lalu tidak boleh sirna dalam kehidupan kita, terutama dalam diri para pemuda. Pada saat sumpah itu diikrarkan (1928) para pemuda bertekad mewujudkan keinginannya untuk bersatu demi perjuangan mereka. Dengan tekad yang kuat kemerdekaan pun bisa dicapai setelah 17 tahun sejak ikrar dibacakan. Semangat yang telah dicontohkan oleh para pemuda melalui ikrarnya dalam sumpah pemuda menjadi tanggung jawab semua elemen bangsa, terutama para pemuda, untuk terus dijaga serta dirawat.

Oleh karena itu merefleksikan ketiga ikrar sumpah pemuda dalam kehidupan nyata merupakan sesuatu yang harus terus diperjuangkan dengan sebaik baiknya. Peran yang harus dijalani oleh pemuda saat ini adalah berjuang demi kemajuan bangsa dengan terus belajar karena pendidikan menjadi salah satu kunci kualitas sebuah bangsa. Dengan bekal pendidikan pemuda berpotensi melahirkan karya-karya inovasi dan semangat juang untuk tetap memelihara kecintaannya kepada bangsa, tanah air, serta bahasanya yaitu Indonesia.

Memelihara perdamaian, kerukunan dengan sikap saling menghargai serta menjunjung tinggi toleransi dalam keberagaman (suku, budaya maupun agama) merupakan tugas kita bersama. Di era global ini pemuda diharapkan bisa tampil untuk mengisi kemerdekaan dengan karya nyata. Adalah sebuah keniscayaan bahwa para pemuda harus berani membela kebenaran dengan tetap mengedepankan tata cara keindonesiaan.

Perlu dicatat bahwa pada saat ini Indonesia memiliki populasi anak muda amat besar, bahkan lebih besar dibandingkan dengan jumlah orang tua. Potensi ini jelas merupakan modal yang sangat berharga bagi bangsa ini untuk terus berkiprah melanjutkan semangat serta roh sumpah pemuda yang diikrarkan 94 tahun yang lalu. Selamat merayakan sumpah pemuda. Tetaplah semangat pemuda Indonesia.

*) Penulis adalah anggota Keris CLC serta Guru Besar Linguistik Terapan di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember Editor : Safitri
#opini