Politik Sarungan
Transisi zaman yang begitu cepat ditandai dengan adanya difusi, akulturasi, dan asimilasi dalam bingkai kebinekaan khususnya dalam kultur masyarakat yang mulanya tradisionalis menjadi semi-semi elitis. Tidak hanya itu situasi sosio politik akhir ini menandakan akan bahayanya isu toleransi, Radikalisme hingga makar. Santri sebagai role model gerakan hingga karakteristik pendidikan yang kuno dianggap tidak mempunyai peran dalam menjawab isu-isu tersebut. Anggapan terkait hal tersebut salah besar jika santri tidak mempunyai peran dalam hal tersebut. Terdapat nilai kharismatik tersendiri bagi kyai maupun santri dalam menjawab hal tersebut. Kekarismatikan ini terbukti dengan santri ikut serta dalam upaya isu-isu sosial politik tersebut. Hal itu terbukti dari dulu mulai perang 10 November, pemberantasan PKI, hingga yang paling terkenal ialah gagasan pluralism ala Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Itu sebagian cakupan yang besar dalam historiografi santri dalam menjawab isu-isu sosio politik hingga kebangsaan. Dalam lingkup kecil santri sudah tersebar luas dalam peran hingga pemangku jabatan penting dalam system pemerintahan. Hal itu dibuktikan dengan santri-santri yang banyak menempati kursi baik legislative, Eksekutif maupun yudikatif. Entah apa yang terjadi dalam fakta lapangan masyarakat lebuh mempercayai seorang santri dibanding yang lain dalam menjalankan amanah pemerintahan. Jika di analisis terdapat suatu nilai karismatik tersendiri mengapa kemudian masyarakat sangat mempercayai hingga mendukung penuh agar santri bisa ikut andil dalam pemerintahan. Menurut Jim Jones, pendiri dan pemimpin People Temple, pemimpin karismatik terkadang dicirikan mempunyai penyakit narsistik, yaitu penyakit kepribadian di mana pemimpin itu jatuh cinta terhadap penampilannya sendiri. Hal itu terjadi karena kebiasaan yang sering di lakukan mulai dari penampilan, gaya bahasa hingga pemikiran.
Menurut Max Weber nilai kharismatik itu terdiri dari dua pilar dasar yaitu pertama, bahwa di antara pengikut ada kebutuhan, tujuan atau aspirasi yang belum terpenuhi oleh kenyataan yang ada; dan kedua, ketundukan mereka kepada pemimpin adalah karena karisma yang dimiliki oleh pemimpin tersebut dipandang mengarah pada realisasi tujuan atau aspirasi mereka. Dan di sisi lain ada tiga dimensi atau bentuk kepemimpinan karismatik yaitu envisioning (memvisikan), energizing (pemberian energi) dan enabling (memampukan). Dan saya rasa jika teori tersebut dikaitkan dengan keadaan santri sekarang maka kecocokan akan hal itu yang membuat para kaum sarungan hari ini mengudara bebas khususnya dalam gelanggang politik yang tidak terbatas.
Kampanye Moderasi Beragama
Dalam realitas kehidupan nyata, manusia tidak dapat menghindarkan diri dari perkara-perkara yang berseberangan. Karena itu, al-Wasathiyyah Islamiyyah mengapresiasi unsur Rabbaniyyah (ketuhanan) dan Insaniyyah (kemanusiaan), mengkombinasi antara Maddiyyah (materialisme) dan Ruhiyyah (spiritualisme), menggabungkan antara wahyu (revelation) dan akal (reason), antara maslahah ammah (al-jamāiyyah) dan maslahah individu (al-fardiyyah). Hubungan antara Islam dan negara di Indonesia pada sebagian besar adalah kisah antagonis dan kecurigaan satu sama lain. Hubungan yang tidak mesra ini terutama, tapi tidak seluruhnya, disebabkan oleh perbedaan pandangan pada pendiri Republik Indonesia yang sebagian besarnya umat Muslim mengenai hendak dibawa kemanakah negara Indonesia yang baru merdeka. Salah satu butir terpenting dalam perbedaan pendapat di atas itu adalah apakah negara ini bercorak “Islam” atau “nasionalis”. Selanjutnya Hubungan agama dan negara merupakan hubungan yang proporsional tanpa bisa dipisahkan di muka bumi namun berada dalam dimensi yang berbeda, dan juga Islam tidak mengenal doktrin tentang kenegaraan, doktrin Islam tentang negara adalah doktrin tentang keadilan dan kemakmuran maka santri sebagai balancing wajib dan mampu mengkampanyekan ketidakpahaman akan moderasi beragama. Secara sederhana nilai atau gagasan moderasi beragama merupakan kepercayaan diri terhadap substansi (esensi) ajaran agama yang dianut, dengan tetap berbagi kebenaran sejauh terkait tafsir agama. Dalam artian moderasi agama menunjukkan adanya penerimaan, keterbukaan, dan sinergi dari kelompok yang berbeda.
Maka dapat disimpulkan peran santri yang saat ini menduduki posisi politik yang sangat kuat serta tugas yang sangat vital terhadap isu-isu keagamaan hingga sosio-politik. Sebagai agent of change yang sebenarnya santri wajib menjadi penengah dan penafsir final antar agama, social politik hingga isu-isu intoleransi yang selalu mencoba merongrong kedaulatan bangsa
*) Penulis adalah alumnus Fakultas Syariah UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember dan Wakil Ketua PC IPNU Kabupaten Mojokerto.
Editor : Safitri