Dalam menyajikan makanan, kita tidak bisa lepas dengan wadah atau pembungkus makanan. Terutama jika makanan tersebut untuk diberikan kepada orang lain atau dikonsumsi selama perjalanan. Wadah makanan adalah tempat yang digunakan untuk menyajikan makanan.
Pembungkus makanan atau kemasan makanan adalah bungkus pelindung makanan (Kamus Besar Bahasa Indonesia) atau material untuk membungkus, menutup untuk melindungi makanan sebelum dijual.
Masyarakat biasa menggunakan wadah atau kemasan makanan berupa kantong plastik/ styrofoam sekali pakai, kardus, kertas pembungkus, daun pisang, bambu (besek), dll. Plastik sekali pakai atau styrofoam adalah wadah yang paling sering digunakan oleh masyarakat karena dianggap kuat, tahan lama, tidak bocor, dan yang paling utama adalah karena lebih praktis, di mana setelah aktivitas makan atau minum wadah ini bisa langsung dibuang ke tempat sampah. Aktivitas ini jika tidak terkendali dengan baik maka dapat berkontribusi meningkatkan jumlah timbulan sampah. Semakin sering kita menggunakan maka semakin banyak timbulan sampah yang dihasilkan karena sampah jenis ini sulit terurai di lingkungan.
Styrofoam merupakan plastik nomor enam dalam klasifikasi plastik, yaitu polystyrene. Plastik dan styrofoam merupakan sampah yang sulit terurai di lingkungan. Hasil penelitian Cordova dan Nurhati (2019) menunjukkan data bahwa 59 persen sampah plastik yang mengalir ke Teluk Jakarta adalah styrofoam yang berupa wadah makanan dan bungkus alat elektronik. Dalam penelitian Fitidarini dan Damanhuri (2011), sampah styrofoam yang tertimbun di TPA Sarimukti diperkirakan sudah mencapai 20,185 ton per bulan.
Saat ini, timbulan sampah plastik terus meningkat. Data menunjukkan bahwa pada tahun 2020 volume sampah plastik mencapai 6,8 juta ton (National Plastic Action Partnership), dan meningkat menjadi 11,6 juta ton pada tahun 2021 (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, 2021). Data Greenpeace (2021) juga menunjukkan bahwa kemasan makanan berupa plastik mendominasi sampah di masyarakat, di mana diproyeksikan akan terus meningkat jika tidak ada upaya signifikan untuk mengendalikannya. Sampah wadah makanan dan kemasan makanan sekali pakai ini jika tidak terkelola akan menumpuk dan selanjutnya akan berpotensi untuk mencemari lingkungan.
Gaya hidup atau lifestyle yang serba ingin praktis merupakan salah satu faktor yang berperan pada pemilihan dan penggunaan wadah/kemasan makanan sekali pakai. Namun, sering kali gaya hidup yang ingin serba praktis ini tidak diimbangi dengan perhatian yang cukup terhadap lingkungan yang menyokong kehidupan kita. Alam yang tidak seimbang oleh karena menerima beban sampah dan bahan cemaran lingkungan yang berlebihan akan memberikan dampak terhadap kesehatan manusia.
Plastik dan styrofoam dapat masuk ke tubuh manusia bersamaan dengan makanan yang kita konsumsi (saluran pencernaan), selain juga dapat masuk lewat saluran pernapasan melalui uap karena panas. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa turunan plastik dapat masuk ke tubuh manusia dalam bentuk ukuran yang kecil yaitu berupa mikroplastik dan nanoplastik. Partikel tersebut berada dalam tubuh organisme dan dapat terakumulasi melalui rantai makanan. Dari beberapa hasil penelitian, senyawa plastik yaitu polypropylene (PP) dan polyethylene (PE) ditemukan berbagai biota perairan seperti ikan, kerang, kepiting, dan lain-lain (SW Sandra dan AD Radityaningrum, 2021; Riba, 2021; Leslie et al 2022 ), pun pada feses dan darah manusia. Monomer styrene ini diklasifikasikan sebagai bahan pemicu kanker (International Agency Research on Cancer, class B2) dan dapat mengganggu kestabilan hormon (Date K, et al 2002). Untuk itu, kita perlu bijak dalam memilih dan menggunakan wadah dan kemasan makanan sebagai upaya untuk meminimalkan masuknya senyawa kimia styrene ke dalam tubuh yang dapat berefek negatif bagi kesehatan.
Pemilihan wadah makanan oleh masyarakat inilah yang menjadi titik strategis dalam upaya pengurangan jumlah timbulan sampah wadah/kemasan dan peningkatan kesehatan masyarakat. Beberapa wadah/kemasan makanan matang yang sebaiknya menjadi pilihan adalah wadah yang ramah lingkungan dan aman untuk kesehatan, seperti penggunaan daun pisang, daun jati, daun kelapa, bambu (besek), anyaman pandan, tempurung kelapa, dan lain-lain. Wadah atau kemasan makanan dari alam selain mudah terurai juga dapat memberikan aroma yang lebih lezat pada makanan.
Untuk itu, alangkah lebih bijak bagi kita untuk memilih wadah/kemasan makanan yang ramah lingkungan sebagai bentuk kepedulian kita pada lingkungan termasuk pada kesehatan. Pilih, pilah dan gunakan wadah/kemasan makanan sekali pakai dengan bijak. Masyarakat perlu mendapat edukasi terus menerus tentang pemakaian wadah atau kemasan makanan dalam upaya memberikan perlindungan terhadap lingkungan dan kesehatan. Pemakaian wadah atau pembungkus/kemasan makanan sekali pakai dari bahan yang sulit terurai dapat dilakukan dengan beberapa pertimbangan, yaitu: 1). Pertimbangkan dengan baik terkait penggunaannya, apakah memang sangat diperlukan ataukah dapat diganti dengan wadah/pembungkus kemasan yang lebih ramah lingkungan dan aman untuk kesehatan; 2). Sedapat mungkin menggunakan wadah yang mudah terurai; 3). Hindari wadah/kemasan yang hanya bisa sekali pakai; 4). Bisa digunakan thin wall yang memungkinkan masih bisa dipakai kembali sebagai wadah nonmakanan seperti pernak pernik, alat tulis, dan lainnya sehingga menurunkan timbulan sampah.
Gaya hidup atau lifestyle ramah lingkungan dalam memilih wadah/kemasan makanan harus terus ditingkatkan dalam upaya mengurangi timbulan sampah yang sulit terurai. Sebagaimana tujuan dalam target pembangunan berkelanjutan (sustainable development goals), yaitu tujuan 12 target ke 8 yaitu memastikan bahwa setiap orang memiliki kesadaran untuk pembangunan dan gaya hidup yang berkelanjutan secara harmonis dengan alam dalam meningkatkan status kesehatan masyarakat Indonesia.
*) Penulis adalah dosen Peminatan Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Jember
Editor : Safitri