Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Ilia Topuria: Dari Anak Perantau hingga Sang “El Matador” Jadi Penguasa Oktagon Dunia

Faqih Humaini • Senin, 15 Juni 2026 | 20:01 WIB

 

Ilia Topuria el Matadore saat menang dan pegang sabuk juara (sc:iliatopuria)
Ilia Topuria el Matadore saat menang dan pegang sabuk juara (sc:iliatopuria)

 

HALLE, Radar Jember - Nama Ilia Topuria kini berdiri sebagai salah satu simbol generasi baru di dunia MMA. Namun di balik sorotan lampu oktagon dan sabuk juara UFC, tersimpan kisah panjang tentang perjuangan, perpindahan, dan tekad yang ditempa sejak usia muda.

Topuria lahir pada 21 Januari 1997 di Halle, Jerman, dari orang tua berdarah Georgia. Masa kecilnya bukanlah kisah glamor seorang atlet masa depan. Ia tumbuh dalam keluarga perantau yang harus berpindah negara demi kehidupan yang lebih baik, sebelum akhirnya menetap di Alicante, Spanyol.

Baca Juga: Dari Penantang Jadi Raja: Justin Gaethje Akhirnya Taklukkan Dunia UFC

Lingkungan baru itu menjadi titik awal perjalanannya di dunia bela diri. Sejak kecil, Topuria telah diperkenalkan pada gulat dan tinju oleh keluarganya. Bakat alaminya langsung terlihat. Ia bukan hanya kuat secara fisik, tetapi juga memiliki naluri bertarung yang tajam sesuatu yang kelak menjadi identitasnya di dalam oktagon.

Remaja Topuria bukan tanpa pengorbanan. Ia bahkan disebut pernah meninggalkan pendidikan formal lebih awal demi fokus mengejar mimpi sebagai petarung profesional.

 Untuk bertahan hidup sekaligus membiayai latihan, ia bekerja di berbagai bidang, dari pelatih grappling hingga pekerjaan serabutan lainnya.

Karier profesionalnya dimulai pada 2015. Debutnya langsung mencuri perhatian setelah meraih kemenangan cepat. Sejak saat itu, ia melangkah tanpa menoleh ke belakang. Satu per satu lawan ditaklukkan, sebagian besar dengan cara meyakinkan KO atau submission.

Nama Topuria mulai benar-benar melesat saat menembus UFC pada 2020. Ia tampil sempurna dalam enam laga awalnya, membangun reputasi sebagai petarung komplet dengan kombinasi striking eksplosif dan grappling mematikan.

Puncak kariernya di kelas bulu terjadi pada 2024 saat ia menjatuhkan Alexander Volkanovski melalui KO ronde kedua untuk merebut sabuk juara. Kemenangan itu bukan sekadar gelar, tetapi pernyataan bahwa era baru telah dimulai.

Tak berhenti di sana, Topuria melanjutkan dominasinya dengan mempertahankan gelar sebelum naik ke kelas ringan. Di divisi baru, ia kembali mencetak sejarah dengan mengalahkan Charles Oliveira dan menjadi juara dua divisi dalam kondisi tak terkalahkan, sebuah pencapaian langka di UFC.

Dengan gaya bertarung agresif, mental baja, serta kepercayaan diri tinggi, Topuria mendapat julukan “El Matador”. Ia dikenal mampu mengakhiri pertarungan dengan cepat, baik melalui pukulan keras maupun teknik submission yang presisi.

Namun perjalanan gemilang itu akhirnya menemui ujian terbesar. Dalam ajang UFC Freedom 250, Topuria harus menghadapi pengalaman pahit saat bertemu Justin Gaethje. Dalam laga yang berlangsung sengit, Topuria sempat tampil dominan di awal, bahkan nyaris mengunci kemenangan di ronde kedua.

Baca Juga: Duel Bersejarah di Gedung Putih: Gaethje Tumbangkan Topuria dalam Laga Brutal UFC Freedom 250

Sayangnya, kegagalan menuntaskan laga menjadi titik balik. Memasuki ronde-ronde akhir, tekanan tanpa henti dari Gaethje mulai menggerus stamina dan kondisi fisiknya. Kerusakan di area wajah, terutama pembengkakan pada mata, membuat penglihatannya terganggu.

Pada ronde keempat, kondisi Topuria semakin memburuk. Ia kesulitan mengimbangi serangan lawan hingga akhirnya tim pelatih memutuskan menghentikan pertarungan demi keselamatannya. Kekalahan tersebut menjadi yang pertama dalam karier profesionalnya sekaligus mengakhiri rekor sempurna yang ia bangun selama bertahun-tahun.

Meski demikian, kekalahan bukanlah akhir dari segalanya. Di usia yang masih relatif muda, Topuria masih memiliki waktu panjang untuk bangkit dan kembali menantang puncak. Dari anak perantau hingga juara dunia, kisahnya belum selesai—dan mungkin, justru baru saja memasuki bab paling menantang dalam kariernya.

 

 

Editor : Faqih Humaini
#UFC White House 2026 #ilia topuria #ufc