WASHINGTN D.C, Radar Jember - Pertarungan antara Justin Gaethje melawan Ilia Topuria pada UFC Freedom 250 menjelma menjadi salah satu duel paling ikonik dalam sejarah olahraga tarung bebas. Digelar di South Lawn Gedung Putih, Washington D.C., laga ini bukan sekadar perebutan sabuk juara, tetapi juga simbol pertarungan generasi.
Sejak ronde pertama dimulai, tempo tinggi langsung tersaji.
Gaethje tampil dengan gaya khasnya, agresif dan tanpa kompromi. Sementara itu, Topuria mencoba mengontrol jarak dengan teknik striking yang lebih rapi dan terukur.
Baca Juga: Menang Belum Cukup, Umar Nurmagomedov Dapat Peringatan Keras dari Khabib
Ronde kedua menjadi milik Topuria. Ia sukses menjatuhkan Gaethje melalui pukulan ke arah tubuh yang membuat sang penantang kehilangan keseimbangan.
Dalam momen tersebut, Topuria hampir mengunci kemenangan lewat submission, namun Gaethje menunjukkan daya tahan luar biasa.
Baca Juga: Nasihat Khabib Curi Perhatian Jelang UFC 319: Chimaev Disarankan Tinggalkan Gulat
Memasuki ronde ketiga, arah pertarungan berubah drastis. Gaethje mulai menemukan celah dan meningkatkan intensitas serangan.
Kombinasi pukulan kerasnya mulai mengenai sasaran secara konsisten.
Kerusakan pada wajah Topuria mulai terlihat jelas. Pembengkakan di kedua mata serta luka di area wajah membuat sang juara bertahan kesulitan membaca pergerakan lawan.
Baca Juga: Monster Dagestan yang Tak Pernah Kalah, ini Profil Khamzat Chimaev
Di ronde keempat, tekanan Gaethje mencapai puncaknya. Ia terus menggempur dengan pukulan bertubi-tubi tanpa memberi ruang bagi Topuria untuk bernapas.
Situasi semakin memburuk ketika Topuria tampak kehilangan visibilitas akibat cedera di area mata.
Ia lebih banyak bertahan dan gagal membalas secara efektif.
Akhirnya, tim pelatih Topuria mengambil keputusan untuk menghentikan pertarungan sebelum ronde kelima dimulai.
Corner stoppage memastikan kemenangan Gaethje dalam duel yang akan dikenang sepanjang masa.
Editor : Faqih Humaini