Radar Jember – Perkembangan teknologi pada motor MotoGP modern hingga kini terus menuai pro dan kontra di kalangan pencinta adu cepat.
Saat motor balap prototipe masa kini semakin disesaki oleh perangkat elektronik canggih serta peranti aerodinamika yang rumit, mantan pembalap MotoGP, Andrea Iannone, justru menemukan keasyikan tersendiri di atas motor gede (moge) konvensional.
Meskipun performa motor MotoGP dinilai semakin canggih, Iannone secara blak-blakan mengaku justru lebih menikmati kesederhanaan mekanikal dari motor Harley-Davidson Road Glide berkapasitas masif 2.152 cc.
Pembalap asal Italia yang kini membalap bersama tim asal Indonesia, Niti Racing, tersebut kini berlaga di ajang Harley Davindoson-Bagger World Cup.
Ia mengungkapkan bahwa sensasi berkendara murni tanpa bantuan asisten elektronik memberikan kepuasan berkendara yang sudah lama hilang di lintasan balap modern.
"Ini kejuaraan yang indah. Sangat seru. Banyak selip, spin, dan wheelie. Motornya tidak dilengkapi apa-apa. Tidak ada sistem elektronik," kata Iannone, dinukil Radar Jember dari laman Crash pada Jumat (5/6/2026).
Karakter Liar Tanpa Intervensi Elektronik dan Sentilan untuk Regulasi Modern
Karakter motor yang liar dan menuntut kontrol penuh dari seorang pembalap ini seketika mengingatkan Iannone pada era keemasan MotoGP terdahulu.
Isu mengenai intervensi teknologi yang dinilai terlalu dominan di kelas para raja memang bukan barang baru.
Menurut pandangan Iannone, situasi ini sejalan dengan apa yang dirasakan oleh mantan rivalnya, Casey Stoner.
Pembalap legendaris asal Australia tersebut memang dikenal tidak pernah menyembunyikan ketidaksukaannya terhadap teknologi MotoGP yang dianggap semakin merenggut peran penting dari insting pembalap.
Argumen kesamaan pandangan tersebut mendorong Iannone untuk menantang Stoner kembali ke lintasan.
Secara terbuka, Iannone menantang pemegang dua gelar juara dunia MotoGP itu untuk kembali mengenakan wearpack-nya dan merasakan langsung sensasi mekanikal murni dari motor cruiser kelas berat asal Amerika Serikat tersebut.
“Saya pikir Casey bisa kembali dengan motor ini! Casey, maukah kamu kembali dengan motor ini?! Kita bisa tampil bersama sedikit, ayolah," ujar Iannone penuh antusias.
“Kita tidak punya elektronik, tidak ada winglet, tidak ada apa-apa… Casey, aku menunggumu!" serunya lagi sembari menyindir hilangnya esensi mekanikal di kelas MotoGP modern saat ini.
Wacana Liar Menggelar Balapan Para Legenda Hidup
Lebih lanjut, pembalap yang berjuluk The Maniac ini membeberkan angan-angan liarnya untuk mengumpulkan kembali para rival lamanya dalam satu arena yang sama.
Tak tanggung-tanggung, nama legenda hidup terbesar MotoGP, Valentino Rossi, pun turut diseret ke dalam ide gilanya tersebut.
“Bersama Casey Stoner, kita bisa menggelar balapan legenda. Aku, Vale… Tapi menurutku ini hanya ide bodohku," selorohnya sembari tertawa.
Meskipun Iannone menyadari penuh bahwa mengumpulkan para mantan juara dunia untuk saling sikut menggunakan moge seberat ratusan kilogram adalah hal yang sangat sulit direalisasikan, ia tetap menolak untuk bersikap pesimistis.
“Aku yakin jika kamu bicara dengan pebalap lain, tidak ada yang mau melakukannya. Tapi jangan pernah bilang tidak mungkin,” pungkas Iannone menutup wawancara.
Editor : Imron Hidayatullahh