Radar Jember - Forum Komunikasi Untuk Perubahan (FKUP) Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya memberikan peringatan atau warning kepada siapapun agar tidak mengintervensi proses pemilihan ulang rektor UINSA periode 2026-2030.
"Kami minta siapapun tidak lagi mengintervensi proses pemilihan ulang rektor UINSA. Termasuk Sekjen Kemenag jangan lagi cawe-cawe," kata Juru Bicara FKUP UINSA Ahmad Bajuri, Minggu (27/9/2026).
Menurut dia, biarlah proses seleksi berjalan dengan baik dan apa adanya sesuai dengan pijakan regulasi yang ada. "Rektor definitif UINSA sangat dinantikan civitas akademika termasuk mahasiswa agar proses perkuliahan kembali berjalan normal," terangnya.
Baca Juga: Kasihan Rektor UINSA, Baru Dilantik Sudah Didemo, Lalu Mundur
Tanda-tanda intervensi proses seleksi pemilihan rektor sebelumnya sempat diungkap di forum Rapat Dengar Pendapat (RDP) Kemenag bersama Komisi VIII DPR RI.
Saat pembahasan menyinggung proses seleksi calon Rektor UINSA, Sekjen Kemenag Kamarudin Amin memastikan Akh Muzakki terpilih sesuai dengan mekanisme pemilihan rektor.
Dia juga membantah jika ada informasi yang menyebut jika Akh Muzakki tidak masuk 3 besar hasil seleksi timsel. "Tidak mungkin Pak Menteri melantik calon yang tidak masuk 3 besar," katanya dalam forum RDP.
Pernyataan itu lantas ditanggapi oleh anggota Komisi VIII Maman Imanulhaq Dia berharap pernyataan sekjen Kemenag itu bisa dipertanggung jawabkan.
"Saya telepon 2 profesor anggota tim seleksi, Prof Nursyam dan Prof Mughni. Keduanya menyebut bahwa Muzakki tidak masuk 3 besar. Tapi Sekjen yang meminta nama Muzakki untuk dimasukkan," tegas anggota Fraksi PKB ini.
Baca Juga: Muzakki Kembali Dilantik Menjadi Rektor UINSA, Beriringan dengan Dugaan Suap Kopertais
Informasi lain juga diungkap Abdul Wahid dari fraksi Partai Gerindra. Dia mengaku mempunyai informan dari internal Kemenag yang menyebut Akh Muzakki berada di posisi bawah dari 13 pendaftar.
"Jangankan 3 besar, 7 besar saja Muzakki tidak lolos, lah kok malah dilantik," ujarnya.
Dia mengaku memantau proses seleksi itu dari jauh dan sempat mengingatkan Sekjen dan Dirjen Pendidikan Islam soal proses seleksi rektor UINSA Surabaya.
Pilrek saat itu lalu memilih Akh Muzakki untuk kedua kalinya dan dilantik Menteri Agam pada Selasa (15/9/2026).
Dia mengalahkan 12 guru besar yang mendaftar yakni Prof. Dr. Masdar Hilmy, S.Ag., M.A., Ph.D.; Prof. Dr. Abdul Chalik, M.Ag.; Prof. Dr. Khoirun Niam, M.Ag.; Prof. Dr. Evi Fatimatur Rusydiyah, M.Ag.; Prof. Dr. Idri, M.Ag.; Prof. Dr. Siti Warjiyati, S.H., M.H.; dan Prof. Dr. Rubaidi, M.Ag.
Pelantikan Muzakki memantik respon mahasiswa. Mereka menggelar aksi penolakan hingga melumpuhkan aktifitas akademik selama sepekan.
Pilrek ulang
Seperti diketahui, Kementerian Agama memilih opsi kembali menggelar seleksi calon rektor UINSA Surabaya. Proses seleksi akan dilakukan lebih cepat agar UINSA segera memiliki rektor definitif.
Pilrek ulang disepakati dalam forum pertemuan civitas akademik UINSA dengan Plt Rektor UINSA Amien Suyitno, dan Inspektur Jenderal Kementerian Agama (Irjen Kemenag) Khairunnas, Jumat (25/9/2026) di Kampus UINSA Surabaya.
Menurut Irjen Kemenag Khairunnas, S
Setiap percepatan atau pemampatan jadwal penjaringan harus didasarkan pada kepatuhan penuh terhadap aturan baku.
"Kita harus memastikan seluruh prosedur berjalan legal dan transparan agar tidak memicu celah hukum atau gugatan yang dapat merugikan institusi maupun Kementerian di masa mendatang," katanya dalam keterangan resmi, Sabtu (26/9/2026).
Dia tidak menjelaskan target waktu, dia hanya memastikan mekanisme mulai dari pendaftaran, verifikasi berkas, penilaian kualitatif oleh senat, hingga penyerahan rekomendasi ke Kementerian Agama akan dioptimalkan dalam kurun waktu yang lebih singkat tanpa mengurangi ketelitian administrasi.
"Berkas pendaftar calon rektor sebelumnya, kita dapat melakukan evaluasi dan pembaruan resume serta visi-misi. Adapun dokumen pendukung seperti SKCK atau surat keterangan kesehatan yang masa berlakunya masih aktif tidak perlu dibuat baru, sehingga proses verifikasi bisa berjalan jauh lebih cepat dan efisien," jelasnya.
Achmad Faizal
Editor : Imron Hidayatullahh