Radar Jember – Dinamika di sektor keuangan domestik kian memanas seiring dengan fluktuasi nilai tukar mata uang.
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa secara tegas menepis rumor yang beredar luas di publik mengenai isu pengunduran diri dari jabatannya sebagai bendahara negara.
Penegasan tersebut disampaikan langsung oleh Purbaya saat dimintai konfirmasi oleh awak media mengenai kabar burung tersebut.
"Ha ha ha enggak benar lah," respons Purbaya singkat melalui pesan tertulis pada Kamis (4/6/2026).
Sebelumnya, sempat tersiar pesan yang mengklaim bahwa posisi pos kementerian keuangan akan mengalami perombakan mendadak pada Kamis sore.
"Jam 15.00 Menkeu Purbaya akan diganti," bunyi narasi spekulatif yang beredar tersebut.
Dalam isu yang berembus, nama mantan Menkeu periode 2013-2014, Chatib Basri, hingga Budi Gunadi Sadikin santer disebut-sebut bakal diplot untuk menggantikan posisi Purbaya.
Hujan Kritik Parlemen dan Desakan Mundur untuk Gubernur Bank Indonesia
Di saat yang bersamaan, jebloknya nilai tukar mata uang garuda membuat kinerja Bank Indonesia (BI) mendapat sorotan tajam.
Jalannya Rapat Kerja antara Komisi XI DPR RI dan otoritas moneter diwarnai hujan kritik dari kalangan parlemen menyusul merosotnya nilai tukar rupiah yang kini telah menembus level psikologis baru, yakni di angka Rp18.039 per dolar AS.
Pihak legislatif menilai kejatuhan nilai tukar rupiah kali ini merupakan titik terendah dalam sejarah keuangan domestik yang berisiko fatal menggerus tingkat kepercayaan pasar terhadap bank sentral.
Anggota Komisi XI DPR RI, Primus Yustisio, menilai BI telah kehilangan kredibilitas dan gagal total dalam memitigasi risiko pelemahan mata uang yang terjadi secara beruntun.
"Pak Perry (Gubernur BI) yang saya hormati, kadang kalau kita mengambil tindakan gentleman itu bukan penghinaan, mungkin saatnya sekarang Bapak mengundurkan diri," desak Primus dalam rapat kerja yang digelar pada Senin (18/5/2026).
Primus menyoroti adanya anomali besar yang membingungkan dalam struktur makroekonomi nasional saat ini.
Baca Juga: Dadan Cs Resmi Ditahan, Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Beri Warning Keras untuk Pimpinan Baru BGN
Di satu sisi, indikator pertumbuhan ekonomi domestik pada kuartal I-2026 sebenarnya mampu mencatatkan performa meyakinkan dengan tumbuh di angka 5,61 persen.
Namun, rapor hijau di sektor riil tersebut dinilai berbanding terbalik dengan kondisi nilai tukar rupiah yang justru terdepresiasi parah di hadapan mata uang global.
Editor : Imron Hidayatullahh