BEKASI, Radar Jember - Tragedi memilukan kembali mengoyak sejarah perkeretaapian tanah air.
Insiden tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL Commuter Line di Bekasi Timur (27/4/2026) tidak hanya menambah daftar panjang air mata di atas rel, tetapi juga disebut sebagai kecelakaan kereta api terburuk dalam 20 tahun terakhir.
Peristiwa ini seolah membuka luka lama dari berbagai tragedi maut yang pernah terjadi di Indonesia.
Berdasarkan catatan sejarah dan data yang dihimpun dari berbagai sumber kredibel, berikut adalah potret kelam kecelakaan kereta api terparah yang pernah mengguncang Indonesia:
Baca Juga: Harga Avtur Naik! Presiden Prabowo Pangkas Biaya dan Masa Antrean Ibadah Haji 2026
1. Tragedi Lembah Anai, Padang Panjang (22 Desember 1944). Hingga kini, ini tetap menjadi kecelakaan paling mematikan dalam sejarah Indonesia. Akibat rem blong di jalur menurun curam, kereta api uap kehilangan kendali dan keluar rel. Sebanyak 200 orang tewas dan 250 lainnya luka-luka. Sebuah noda hitam yang terjadi bahkan sebelum Indonesia merdeka.
2. Tragedi Bintaro I (19 Oktober 1987). Mungkin inilah kecelakaan yang paling membekas di ingatan publik. Tabrakan frontal antara KA 225 Ekonomi Lokal dan KA 220 Patas Merak di Pondok Betung terjadi akibat kesalahan manusia (human error). Kondisi kereta yang sangat padat membuat korban jiwa melonjak drastis hingga 156 orang meninggal dunia dan ratusan lainnya cacat permanen.
3. Tragedi Ratujaya, Depok (20 September 1968 dan 2 November 1993). Wilayah Ratujaya menjadi saksi dua kali peristiwa besar. Pada tahun 1968, tabrakan kereta uap dan diesel menelan 116 korban jiwa. Tragedi berulang di lokasi yang hampir sama pada tahun 1993 melibatkan dua rangkaian KRL yang mengakibatkan 20 orang tewas, yang memicu desakan pembangunan jalur ganda (double track).
4. Tragedi Ketanggungan Barat, Brebes (25 Desember 2001). Bertepatan dengan hari Natal, KA Empu Jaya menabrak KA Gaya Baru Malam Selatan yang sedang berhenti. Pelanggaran sinyal masuk menjadi penyebab utama yang merenggut 31 nyawa dan melukai puluhan penumpang lainnya.
Baca Juga: Mendikdasmen Klaim Program Revitalisasi Sekolah Paksa Uang Negara Berputar di Toko Bangunan Desa
5. Tabrakan KA Kertajaya dan KA Sembrani (14 April 2006). Di Stasiun Gubug, Grobogan, dua kereta api jarak jauh ini bertabrakan dengan sangat hebat hingga gerbong terlempar keluar rel. Insiden ini mengakibatkan 14 orang meninggal dunia.
6. Tragedi Bintaro II (9 Desember 2013). KRL Commuter Line menabrak truk tangki Pertamina yang menerobos perlintasan. Ledakan hebat membakar gerbong terdepan (khusus wanita), menewaskan 7 orang termasuk masinis yang bertugas dengan heroik.
7. Tragedi Bekasi (27 April 2026). Tragedi terbaru ini mencatat 16 orang meninggal dunia (hingga pembaruan terakhir) setelah Argo Bromo Anggrek menghantam KRL. Kecepatan tinggi dan benturan keras menjadikan ini kecelakaan paling fatal dalam dua dekade terakhir.
Baca Juga: Seskab Teddy Pamer Aset Hutan Rp370 Triliun Kembali ke Negara, Mafia Hutan Lolos?
Sederet tragedi di atas menunjukkan satu pola yang menakutkan: kesalahan manusia dan kegagalan sistem keselamatan masih menjadi biang kerok utama. Dari rem blong di tahun 1944 hingga pelanggaran sinyal di tahun 2026, keselamatan transportasi publik seolah selalu kalah oleh kelalaian. Pemerintah dan PT KAI tidak bisa lagi sekadar meminta maaf. Diperlukan revolusi total dalam sistem pengawasan dan teknologi keselamatan agar rel kereta api tidak lagi menjadi tempat menjemput maut bagi rakyat kecil.
Editor : Maulana RJ