PAKUSARI, Radar Jember - Gelombang dukungan untuk Ketua PWNU Jawa Timur, KH. Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), muncul dari akar rumput warga Nahdlatul Ulama (NU) atau Nahdliyin di Jember.
Pengurus hingga level ranting menegaskan sosok cucu Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari itu sebagai pemimpin ideal PBNU di masa depan.
Dukungan ini mencuat di tengah tensi organisasi yang tinggi menjelang Muktamar ke-35. Gus Kikin dianggap sebagai figur yang mampu menyatukan elemen NU yang terpecah melalui rekam jejak kepemimpinannya di PWNU Jawa Timur.
"Beliau punya darah hijau, bukan darah biru, dan terbukti mampu mencairkan konflik di PBNU saat mujahadah kubra di Stadion Gajayana," kata Plt. Ketua PCNU Jember, Saiful Bahri, ditemui dalam kesempatan Halal Bihalal PCNU Jember, di Pondok Pesantren Bustanul Ulum Pakusari, Jember, Minggu (19/4/2026).
Baca Juga: Legitimasi PCNU Jember Sudah Lama Wasalam, Alotnya Restu dari PBNU Dituding Jadi Biangnya
Bukan tanpa alasan. Kepiawaian Gus Kikin dalam mengelola dinamika internal organisasi, dianggap menjadi pertimbangan utama.
Menurut Saiful Bahri, keberhasilannya memimpin PWNU Jatim memberikan keyakinan kepada pengurus ranting dan cabang bahwa ia adalah sosok kompeten untuk menakhodai NU ke depan.
"Ini bukan suara netizen atau buzzer, tapi murni aspirasi pengurus NU di Jember, dari tingkat ranting hingga cabang yang menginginkan perubahan konstruktif," kata Saiful Bahri.
Perlu diketahui, masa khidmat PCNU Jember periode 2019-2024 sejatinya telah berakhir pada 4 Oktober 2024. Meskipun kepengurusan telah berakhir, PCNU Jember terus bergerak melakukan konsolidasi akar rumput demi memastikan roda organisasi tetap berjalan sesuai khitah.
"Kami tidak melakukan penggalangan, ini adalah suara bawah yang tumbuh secara organik," tambah Saiful Bahri.
Kepemimpinan PBNU saat ini yang diketuai oleh KH. Yahya Cholil Staquf, mendapat sorotan tajam dari jajaran PCNU Jember.
Baca Juga: 207 Dapur MBG di Jember Sudah Ngebul Layani Penerima, Kepala BGN: Saya Harap Jadi 400 Dapur
Dinamika yang terjadi, termasuk polemik penunjukan panitia muktamar, dinilai mencederai marwah organisasi karena intervensi kepentingan kelompok tertentu.
Saiful Bahri mengingatkan bahwa posisi Rais Aam adalah pemegang kekuasaan tunggal yang harus dihormati.
Ia mengkritisi pihak-pihak yang mencoba memotong jalur komando organisasi demi agenda pragmatis yang dianggap membahayakan masa depan NU. "Orang yang tidak mengerti NU jangan sok mengatur NU, itu sangat merepotkan organisasi," sindirnya.
Baca Juga: Harga Avtur Naik! Presiden Prabowo Pangkas Biaya dan Masa Antrean Ibadah Haji 2026
Meskipun secara formal PCNU Jember mengalami kendala legalitas terkait perpanjangan SK, mereka tetap vokal menyuarakan perbaikan tata kelola di level PBNU.
Mereka berharap Muktamar ke-35 menjadi momentum pembersihan organisasi dari intervensi yang tidak sehat. "Kami mencari pemimpin terbaik, bukan yang didikte oleh kelompok-kelompok yang hanya ingin memanfaatkan NU untuk kepentingan sesaat," tutup Saiful Bahri.
Editor : Maulana RJ