Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Wamendagri Bima Arya ke Gus Fawait: Memimpin Lebih Sulit daripada saat Kampanye

Maulana RJ • Minggu, 15 Februari 2026 | 14:45 WIB

Wamendagri Bima Arya dan Bupati Fawait, di sela-sela giat bedah buku, di Universitas Jember (13/2/2026). (Dok. Diskominfo)
Wamendagri Bima Arya dan Bupati Fawait, di sela-sela giat bedah buku, di Universitas Jember (13/2/2026). (Dok. Diskominfo)

TEGALBOTO, Radar Jember - Aula FISIP Universitas Jember menjadi saksi pertemuan pemikiran dua tokoh pemimpin daerah: Wakil Menteri Dalam Negeri RI, Bima Arya Sugiarto, dan Bupati Jember, Muhammad Fawait (Gus Fawait).

Melalui bedah buku Babad Alas, keduanya membedah kompleksitas kepemimpinan yang jauh lebih menantang daripada sekadar memenangkan kontestasi politik.

Bima Arya, sebagai penulis, menegaskan bahwa ujian sesungguhnya seorang pemimpin dimulai saat kaki melangkah ke dalam birokrasi, bukan saat kampanye. 

Baca Juga: Pencairan DD Puluhan Desa di Jember Sempat Macet, Wamendagri Minta Para Kades Optimalkan Pajak hingga Bantuan Pemprov

Ia menekankan bahwa keberanian harus bersanding dengan kebijaksanaan agar tidak menimbulkan kerusakan baru dalam sistem pemerintahan.

“Beratnya kampanye itu tidak seujung kuku dibandingkan menjalankan pemerintahan. Saat kampanye, lawan terlihat jelas. Tetapi ketika memimpin pemerintahan, tidak selalu jelas siapa kawan dan siapa yang berseberangan,” urai mantan Wali Kota Bogor dua periode itu.

Filosofi kepemimpinannya yang inklusif banyak dipengaruhi tokoh intelektual seperti Soe Hok Gie dan Nurcholish Majid.

Baca Juga: Revisi PMK 49/2025: Bima Arya Sebut Dana Desa Akan Dukung Koperasi Merah Putih

Baginya, setiap kebijakan—mulai dari penataan investasi hingga penyelesaian polemik rumah ibadah—wajib berpijak pada nilai moral dan kepentingan publik jangka panjang, bukan sekadar kalkulasi politik praktis.

Senada dengan hal tersebut, Bupati Gus Fawait melihat refleksi Bima Arya sebagai cermin bagi dinamika di Kabupaten Jember.

Menghadapi keterbatasan fiskal dan angka kemiskinan ekstrem yang sempat menjadi tantangan besar di Jawa Timur, Gus Fawait memilih jalur reformasi pelayanan publik sebagai prioritas utama.

“Bapak Bupati ingin memastikan seluruh instrumen pemerintah bergerak harmonis. Mulai dari penetapan status Tanggap Darurat untuk memudahkan koordinasi, hingga mobilisasi tim dari Dinsos, BPBD, pihak kecamatan, hingga para relawan di garda terdepan,” kata salah satu perwakilan Pemkab Jember, senada dengan komitmen Gus Fawait dalam menggerakkan birokrasi.

Baca Juga: Pimpin Daftar Kemiskinan di Jawa Timur, Bupati Jember Gus Fawait: Pengentasan ini Bukan Sulapan!

Dalam forum tersebut, Gus Fawait juga memaparkan keberhasilan Jember mencapai Universal Health Coverage (UHC) dan peningkatan signifikan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dalam satu tahun terakhir. 

Baginya, kepemimpinan daerah saat ini menuntut kemampuan strategis untuk menciptakan kemandirian fiskal melalui optimalisasi BUMD tanpa mengabaikan keberpihakan pada kelompok rentan. (mau)

Editor : M. Ainul Budi
#Politik Pilkada di tengah corona #Jember #bima arya #BPBD #Universitas Jember #Soe Hoek Gie #Nurcholis Majid #bumd #dinsos #babad alas #universal health coverage (uhc) #Wamendagri Bima Arya #pad #tanggap darurat #birokrasi #bogor #Gus Fawait