Radar Jember - Kabar duka datang dari keluarga Jenderal Polisi (Purn) Hoegeng Iman Santoso.
Meriyati Hoegeng Roeslani, istri almarhum mantan Kapolri itu, meninggal dunia pada Selasa (3/2) pukul 13.24 WIB.
Kepergian Meriyati menutup satu bab penting dari kisah keluarga yang selama ini identik dengan kesederhanaan dan integritas.
Selama mendampingi Hoegeng, Meriyati dikenal jauh dari sorotan.
Namun perannya kerap disebut penting dalam menjaga prinsip hidup sang jenderal, terutama ketika Hoegeng berada di puncak karier sebagai Kapolri pada periode 1968–1971.
Nama Hoegeng sendiri hingga kini masih lekat di ingatan publik.
Ia kerap dijadikan rujukan ketika membicarakan sosok polisi ideal.
Integritasnya menembus zaman, bahkan hidup dalam berbagai cerita, salah satunya lewat satire khas Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.
Candaan Gus Dur soal “tiga polisi jujur” menjadi salah satu satire paling populer.
Lelucon itu telah berulang kali dikutip dan dimuat dalam berbagai buku humor Gus Dur, di antaranya karya Guntur Wiguna dan Imron Nawawi.
Namun, tak banyak yang mengetahui latar belakang munculnya guyonan tersebut.
Konteks satire itu dijelaskan dalam buku Tertawa Bersama Gus Dur: Humornya Kiai Indonesia karya Muhammad Zikra.
Diceritakan, lelucon tersebut muncul ketika Gus Dur berbincang santai dengan sejumlah wartawan di rumahnya di kawasan Ciganjur, Jakarta Selatan.
Saat itu, wartawan menyinggung soal moralitas polisi yang kian sering dipertanyakan publik.
Gus Dur merespons dengan humor yang mengandung kritik tajam.
“Polisi yang baik itu cuma tiga. Pak Hoegeng almarhum bekas Kapolri, patung polisi, dan polisi tidur,” ucap Gus Dur berseloroh.
Kisah serupa juga dicatat Muhammad AS Hikam dalam buku Gus Durku, Gus Dur Anda, Gus Dur Kita.
Dalam perbincangan mereka pada 2008, Gus Dur kembali menyinggung lelucon tersebut ketika membahas kasus korupsi Bank Century dan posisi Polri dalam sistem kenegaraan pascareformasi.
Gus Dur menilai, Polri memiliki sejarah panjang praktik yang kurang tepat, terutama pada era Orde Baru ketika aparat lebih banyak difungsikan untuk mengawasi rakyat.
Reformasi, menurut Gus Dur, harus mengubah watak institusi itu, meski prosesnya tidak sederhana.
Di tengah candaan yang menggelitik, nama Hoegeng selalu muncul sebagai simbol pengecualian.
Kini, berpulangnya Meriyati Hoegeng Roeslani seolah mengingatkan kembali publik pada nilai yang diwariskan keluarga ini tentang kejujuran, keteguhan sikap, dan keberanian hidup sederhana di tengah kekuasaan. (dhi)
Editor : M. Ainul Budi