Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Kesaksian Penyintas Banjir Kota Lintang Bawah Aceh yang Kehilangan Rumah: Kami Minum Air Lumpur

Imron Hidayatullahh • Rabu, 24 Desember 2025 | 01:42 WIB
Tangkapan layar seorang warga Kota Lintang Bawah, Aceh yang bercerita kondisi mencekam saat banjir bandang menerjang desanya. (TikTok/PAPAY_YA)
Tangkapan layar seorang warga Kota Lintang Bawah, Aceh yang bercerita kondisi mencekam saat banjir bandang menerjang desanya. (TikTok/PAPAY_YA)

Radar Jember - Di balik hilangnya rumah-rumah yang hanyut terbawa arus, tersisa kisah perjuangan manusia yang bertahan hidup di batas kemampuan mereka.

Kisah memilukan ini dibagikan melalui kanal YouTube @PAPAY_YA pada Senin (22/12/2025).

Seorang warga dari Kota Lintang Bawah menceritakan bagaimana mereka harus bertarung nyawa demi selamat dari terjangan air bah yang datang tanpa ampun.

Saat air meluap dengan cepat dan menghancurkan rumah, warga tidak lagi memikirkan harta benda. Fokus mereka hanyalah mencari titik tertinggi agar tetap bisa bernapas.

Menurut kesaksian seorang wanita di lokasi, situasi di Kota Lintang Bawah merupakan salah satu yang paling kritis.

"Yang terparahnya ini di Kota Lintang Bawah," katanya

Situasi mencekam semakin terasa saat banyak warga terpaksa mencari perlindungan di atas benda-benda yang hanyut.

"Ada yang tidur di atas kayu balok di atas air," ungkapnya menggambarkan suasana malam yang gelap dan penuh keputusasaan tersebut.

Ia juga bercerita soal mencekamnya malam hari setelah banjir terjadi ketika mendengar suara orang-orang meminta bantuan yang masih terjebak di rumahnya.

"Malam hari banyak orang teriak-teriak minta tolong semua menangis,” katanya.

Setelah banjir sedikit mereda, penderitaan tidak lantas berakhir. Ketiadaan bantuan logistik di awal bencana memaksa mereka mengonsumsi apa pun yang bisa ditemukan, termasuk meminum air yang sudah tercemar material banjir.

"Kami minum air, air lumpur, kami endapkan," ucap warga tersebut menceritakan kondisi mereka saat mengungsi.

Rasa lapar pun menjadi musuh baru yang nyata. Tanpa persediaan makanan, mereka harus berbagi dalam porsi yang sangat kecil hanya untuk sekadar menyambung nyawa.

"Enggak makan kami bang, kelaparan," lanjutnya.

"Masak sedikit untuk ramai-ramai, satu orang sedikit-sedikit."

Dalam kepungan air dan kegelapan, warga hanya bisa menaruh harapan pada orang-orang yang berada di titik aman.

Dengan sisa tenaga, mereka mencoba memberikan tanda agar segera dievakuasi.

"Kami tak ada makan, kami tidur di atas rumpu, kami minta tolong orang di atas jembatan,” kata wanita itu.

Kisah dari Kota Lintang Bawah ini menjadi pengingat pedih tentang dahsyatnya bencana banjir bandang di Aceh Tamiang.

Hingga kini, jeritan minta tolong di malam mencekam itu masih membekas sebagai trauma mendalam bagi mereka yang berhasil selamat meski kini hanya memiliki baju di badan.

Editor : Imron Hidayatullahh
#bencana aceh sumbar sumut #korban banjir bandang #banjir bandang Aceh Sumbar Sumut