Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Jangan Abaikan Perundungan dengan Alasan Hanya Bercanda? Begini Kata Psikolog Unmuh Jember

M Adhi Surya • Sabtu, 22 November 2025 | 19:06 WIB

 

Caption:Kasus anak dibuly mencuat ke permukaan dan memunculkan reaksi keras, karena bocah jadi korbamn bully-an meninggal dunia.
Caption:Kasus anak dibuly mencuat ke permukaan dan memunculkan reaksi keras, karena bocah jadi korbamn bully-an meninggal dunia.
 

SUMBERSARI, Radar Jember – Cara melawan perundungan di lingkungan sekolah maupun pergaulan sehari-hari tidak cukup hanya dengan imbauan.

Psikolog dari Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember, Panca Kursistin Handayani mengatakan, langkah pertama bagi korban maupun lingkungan adalah tidak diam saat mendapat perlakuan merendahkan atau kekerasan verbal maupun fisik.

Jika korban merasa tidak mampu melawan secara langsung, tambahnya, ia menegaskan pentingnya segera mencari bantuan kepada orang terdekat yang dipercaya.

“Speak up itu penting untuk mencegah risiko yang lebih besar. Jangan memendam sendiri,” ujarnya.

Ia menyebut, diam hanya membuat pelaku merasa tindakannya bisa diterima dan akan terus mengulanginya. Ia juga menekankan peran keluarga sebagai benteng pertama perlindungan emosional.

Anak harus merasa aman untuk bercerita, tanpa takut dimarahi atau disalahkan. Ketika keluarga responsif, tekanan psikologis korban dapat ditekan sejak awal.

Sementara itu, sekolah juga memegang posisi penting sebagai pengawas perilaku siswa.

Ia menyayangkan masih adanya sekolah yang menganggap perundungan sebagai candaan.

“Jika candaan sudah mengarah pada kekerasan, sekolah wajib turun tangan. Tidak bisa dianggap sepele,” tegasnya.

Selain pengawasan, sekolah juga perlu menghadirkan ruang diskusi tentang regulasi emosi, empati, dan cara menghadapi konflik.

Menurutnya, nilai moral anak tidak otomatis terbentuk tanpa contoh dari orang dewasa.

Ia menyebut lingkungan sosial yang masih menganggap kekerasan sebagai solusi menjadi akar lain sulitnya menghapus praktik perundungan.

Lingkungan yang permisif membuat pelaku merasa tindakannya wajar dan dapat diterima.

Kunci menekan kasus perundungan, tegasnya, ada pada perubahan cara pandang masyarakat terhadap kekerasan.

“Selama kekerasan dianggap sebagai cara menyelesaikan masalah, perundungan akan selalu berulang,” pungkasnya. (dhi/bud)

 

Editor : M. Ainul Budi
#bullying #Unmuh Jember #perundungan #psikolog