Radar Jember - Tradisi membangunkan sahur sudah menjadi bagian dari budaya Ramadan di berbagai wilayah Indonesia.
Biasanya, para remaja atau kelompok masyarakat akan berkeliling kampung dengan memukul kentongan sambil meneriakkan kata-kata seperti tung tung sahur.
Aktivitas ini selain berfungsi sebagai pengingat waktu sahur, juga menciptakan suasana khas yang hanya ditemukan selama bulan Ramadan.
Namun, pada tahun 2025, tradisi ini mengalami transformasi yang tidak biasa.
Sebuah meme bernama Tung Tung Sahur mendadak viral di berbagai platform media sosial, terutama TikTok dan Instagram.
Meme ini muncul dari unggahan video milik pengguna TikTok @noxaasht yang menggabungkan suara kentongan sahur dengan visual menyeramkan menggunakan teknologi AI.
Dalam video tersebut, sosok mirip manekin kayu misterius muncul setelah seseorang mengabaikan panggilan sahur sebanyak tiga kali.
Unggahan ini lalu menjadi tren dan mendapatkan jutaan tayangan dalam waktu singkat.
Fenomena ini termasuk dalam kategori "brain rot" meme, yaitu jenis humor absurd yang sering kali tidak memiliki makna logis namun tetap menghibur dan menggelitik rasa penasaran penonton.
Meme brain rot biasanya menyajikan visual atau narasi yang aneh, nyeleneh, dan kadang menakutkan, namun justru membuat banyak orang tertawa karena keanehannya.
Konsep “Tung Tung Sahur” versi ini termasuk unik karena menggabungkan unsur budaya lokal, horor ringan, dan sentuhan teknologi canggih.
Respons warganet pun beragam.
Sebagian menganggap meme ini lucu dan kreatif, sementara sebagian lainnya menyayangkan transformasi budaya sahur menjadi bahan lelucon yang menyeramkan.
Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa meme ini telah membawa kembali perhatian terhadap tradisi sahur yang sempat meredup, terutama di daerah perkotaan.
Tidak sedikit kreator konten yang membuat versi parodi hingga animasi ulang dari meme “Tung Tung Sahur”, menjadikannya sebagai konten khas Ramadan 2025.
Bahkan, beberapa brand ikut memanfaatkan popularitas meme ini untuk kampanye iklan mereka dengan slogan yang diadaptasi dari “tung tung sahur”.
Pada akhirnya, meme “Tung Tung Sahur” menunjukkan bahwa media sosial bisa menjadi alat efektif dalam melestarikan sekaligus memperbaharui tradisi.
Meski dikemas dalam bentuk yang nyeleneh, esensi untuk membangunkan orang sahur tetap tersampaikan, bahkan menjangkau audiens yang lebih luas.
Tradisi dan teknologi kini bersinergi dalam bentuk yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
Penulis : Cintya Diyanti Utomo
Editor : M. Ainul Budi