Radar Jember – Kereta uap atau biasa disebut dengan Sepur Kluthuk Jaladara, menjadi ikon pariwisata di Kota Solo sejak 2009.
Pasalnya, Sepur Kluthuk Jaladara memberikan sensasi klasik yang membawa mereka menikmati nuansa perjalanan di era kolonial.
Kereta ini sudah berumur ratusan tahun, sehingga pantas mendapatkan julukan sebagai kereta kuno.
Pada akhir abad ke 19, transportasi kereta api mengalami perkembangan pesat di Hindia Belanda.
Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api milik Hindia Belanda memesan puluhan lokomotif dengan kode SS457 kepada Hartmann, perusahaan lokomotif di Jerman.
Lokomotif SS457 dirancang untuk jalur datar.
Setelah Jepang masuk dan mengganti seluruh sistem Hindia Belanda, semua lokomotif ikut disesuaikan dengan standar Jepang.
Lokomotif SS457 diganti menjadi C12.
Setelah kemerdekaan Indonesia, sisa lokomotif C12 yang mulanya berbasis di Cepu mulai disebarluaskan ke berbagai daerah termasuk Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Seiring berjalannya waktu, lokomotif uap mulai digantikan dengan mesin diesel.
Satu per satu lokomotif uap mulai menjadi besi tua yang tidak berfungsi, beberapa diantaranya di museumkan.
Pada 1970-an hanya tersisa lokomotif uap C1218 yang masih berfungsi.
Namun, kondisinya bertahap kian memburuk sampai tidak berfungsi di awal 1980-an.
Awal tahun 2000-an lokomotif C1218 ditemukan kembali dan dipindah dari Cepu menuju Ambarawa untuk diperbaiki.
Namun, perbaikan tidak berjalan dengan mulus karena lokomotif C1218 memiliki permasalahan dengan injector pump.
Permasalahan tersebut masih bisa diatasi karena di Madiun terdapat mesin yang dibutuhkan untuk membuat kereta tersebut berfungsi.
Pada akhirnya, lokomotif tersebut berfungsi kembali yang sudah mendapatkan uji coba di Ambarawa.
Berdasarkan kesepakatan dengan pemerintah, akhirnya di tahun 2009 C1218 dikirim menuju Solo.
Lokomotif tersebut akan difungsikan untuk wisata.
Bersamaan dengan peresmiannya, lokomotis C1218 mendapatkan nama baru yang diambil dari kereta perang, yakni Sepur Kluthuk Jaladara.
Editor : Radar Digital