Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Menguak Fakta Mengejutkan Tentang Jembatan Merah Surabaya, Dari Warna Ikonis hingga Konflik yang Mengubah Nasib Bangsa

Radar Digital • Kamis, 12 September 2024 | 12:25 WIB
sumber foto: radar surabaya
sumber foto: radar surabaya

Radar Jember – Jembatan Merah merupakan salah satu ikon kebanggaan Kota Surabaya yang tidak hanya berfungsi sebagai penghubung dua sisi Sungai Kalimas, tetapi juga menyimpan banyak sejarah yang mengakar kuat.

Jembatan Merah menjadi salah satu situs penting yang menyaksikan banyak peristiwa bersejarah di kota ini.

Jembatan ini berlokasi di Jalan Kembang Jepun, Kecamatan Pabean Cantikan, dan terkenal sebagai saksi bisu pertempuran sengit antara arek-arek Suroboyo melawan tentara Sekutu pada tahun 1945.

Pada masa itu, pertempuran Surabaya berlangsung selama tiga hari di sekitar Jembatan Merah, yang mencatat momen penting dalam sejarah perjuangan Indonesia melawan kolonialisme.

Untuk menguasai Surabaya, pasukan Inggris harus berjuang keras selama 21 hari, menunjukkan betapa gigihnya perlawanan warga Surabaya, yang dikenal dengan keberanian dan tekad mereka dalam mempertahankan kemerdekaan.

Salah satu peristiwa bersejarah yang terjadi di sekitar Jembatan Merah adalah tewasnya Brigadir Jenderal A.W.S.

Mallaby, pemimpin pasukan Sekutu, dalam sebuah baku tembak antara pasukan Sekutu dan pejuang Surabaya. Kejadian ini menambah intensitas konflik di kota Surabaya.

Dibangun sejak tahun 1809 di era Gubernur Jenderal Daendels, Jembatan Merah ini terkenal dengan warna merahnya yang mencolok dan berperan sebagai penghubung antara wilayah timur Sungai Kalimas (kawasan Pecinan dan Arab) dengan wilayah barat (kawasan Eropa), menjadikannya pusat aktivitas bisnis yang berkembang pesat di Surabaya.

Pada awal abad ke-20, daerah sekitar Jembatan Merah semakin ramai dengan pembangunan berbagai fasilitas seperti kantor pemerintahan, bank, dan Gedung Internatio.

Oleh karena itu, pada Oktober-November 1945, kawasan ini menjadi pusat konsentrasi pasukan Sekutu yang bermarkas di Gedung Internatio.

Menjelang pertempuran 10 November 1945, pejuang kemerdekaan Indonesia mengepung pasukan Sekutu yang bertahan di gedung tersebut, yang letaknya tidak jauh dari Jembatan Merah.

Beberapa pejuang bahkan menggunakan kolong Jembatan Merah sebagai tempat berlindung dari serangan musuh.

Setelah tewasnya Brigadir Jenderal Mallaby, warga Surabaya dengan gagah berani berusaha mencegah pasukan Sekutu untuk melintasi Jembatan Merah agar tidak menguasai wilayah Kembang Jepun.

Mereka memblokade jembatan ini dengan barang-barang yang mereka miliki.

Namun, pertahanan mereka akhirnya jebol dan Jembatan Merah digempur oleh serangan pasukan Inggris, yang menggunakan berbagai macam kekuatan, mulai dari infanteri, pesawat tempur, hingga tembakan dari kapal perang.

Saat ini, Jembatan Merah tidak hanya berfungsi sebagai jembatan biasa, tetapi juga menjadi salah satu destinasi wisata yang menarik di Surabaya.

Wisatawan yang berkunjung ke sana dapat menikmati pemandangan Sungai Kalimas dan suasana kota Surabaya sambil mengenang peristiwa-peristiwa bersejarah yang pernah terjadi di sekitarnya.

Seiring berjalannya waktu, Jembatan Merah mengalami berbagai perbaikan dan renovasi untuk menjaga keamanan dan keberlanjutan struktur bangunannya.

Meskipun demikian, ciri khas arsitektur klasiknya tetap dipertahankan, sebagai upaya untuk melestarikan warisan sejarah yang begitu berharga bagi Kota Surabaya dan Indonesia secara keseluruhan.

 

Editor : Radar Digital
#Surabaya #jembatan merah plaza jmp 2 #sejarah Surabaya #jembatan merah