radar jember - Warga beradu argumen dengan anggota TNI karena tidak terima dilarang bermain di Bendungan Pleret, Simongan, Semarang Barat, Kota Semarang, terlihat dalam sebuah video viral.
Beberapa warga berdebat dengan seorang anggota TNI dalam video yang beredar luas di media sosial.
Dengan alasan keselamatan, anggota TNI tersebut melarang aktivitas di bendungan. Namun, warga merasa tidak melanggar hukum dan tidak setuju dengan larangan tersebut.
Perekam video mengatakan, "Saya tidak melanggar hukum, Pak. Ini HP saya, beli kuota saya sendiri. Jangan seenaknya. Bapak anggota seharusnya mengayomi masyarakat. Kami mencari hiburan, bukan seperti ini. Ini gratis untuk masyarakat umum. Jika ada korban, kami yang menanggung, bukan anggota. Viral! Viral! Mau cari muka kamu! Cari muka ya kamu!"
Video tersebut mendapat banyak komentar dari netizen yang mendukung TNI dalam upaya menertibkan warga demi keselamatan bersama agar tidak ada korban.
Bendungan Pleret sebelumnya viral karena banyak anak-anak yang bermain perosotan di sana, menarik perhatian masyarakat yang datang untuk menonton.
Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu, meminta anak-anak yang bermain di sana tetap waspada meskipun tidak ada larangan, mengingat arus aliran air BKB yang cukup deras, terutama saat datang air bah dari hulu sungai.
Ternyata bendungan Pleret, yang berada di Kecamatan Semarang Barat dan bertanggung jawab atas aliran Kali Garang, berusia 143 tahun.
Bendungan Simongan, juga disebut Bendungan Pleret oleh penduduk Kota Semarang, adalah sumber air.
Ada beberapa sumber, salah satunya adalah De locomotief, Samarangsch handels-en advertentie-blad, 14-03-1885. Bendungan Pleret telah beroperasi sejak tahun 1879.
Di tahun 1800-an, bendungan ini dibangun untuk mengatasi banjir yang sering melanda Kota Semarang.
Pemerintah Hindia Belanda juga membangun bendungan untuk mengairi sungai di Kota Semarang. Ini dilakukan untuk mengatasi banjir dan mengairi area persawahan.
Bendungan Pleret masih bertahan hingga hari ini, meskipun telah berusia ratusan tahun.
Beberapa ahli sejarah Kota Semarang berpendapat bahwa Bendungan Pleret adalah bendungan pertama yang dibangun di kota tersebut.
"Awal kanalisasi dan pembangunannya ada di wilayah Simongan, dan saat itu disebut bandjir kanaal atau banjir kanal yang sekarang Bendungan Pleret," jelas satu di antara pegiat sejarah Kota Semarang, Joseph Army Sadhyoko, Senin (16/8/2022) lalu.
Di dekade terakhir, Joseph menjelaskan, pemerintah Hindia Belanda juga memikirkan keseimbangan ekosistem sungai.
"Maka selang 10 tahun dari 1879 bendungan banjir kanal timur dibangun, untuk mengatasi banjir dan dimanfaatkan sebagai sumber pengairan," katanya.
Editor : Radar Digital