BACA JUGA : Toko Baru Dibuka Dua Perempuan Langsung Gondol Perhiasan Emas
Tradisi Gumbregi, begitu nama ritual itu. Adalah aktifitas memberi makan dan melempari sapi dengan ketupat dan dilanjutkan dengan makan bersama. "Ritual ini kami lakukan sebagai rasa syukur kami atas hasil peternakan dan pertanian melimpah,"jelas Ngadimin, tetua adat.
Ibarat laron menemukan cahaya, mereka membawa bakul berisi ketupat, tempe dan tahu bacem. Ketiga jenis makanan ini adalah ugo rampe wajib dalam tradisi gumbregi, menuju titik kumpul di hamparan persawahan kering habis dipanen.
Ketupat, tahu, dan tempe bacem kemudian disandingkan dengan tumpeng ditata paling tengah.Sejurus kemudian tetua adat membacakan doa, ketupat kemudian dibawa ke hewan ternak (sapi).
Ketupat itu kemudian diberikan dengan cara dilempar. Lemparan penuh kasih sayang itu dibalas dengan sikap sapi jinak.Menurut Ngadimin, ini tradisi tinggalan nenek moyang. Warga wajib melestarikannya. Tradisi gumbregi ini sebetulnya tradisi selamatan hewan ternak.
Warga meyakini ternak adalah makhluk hidup dan perlu dislameti.”Mereka hidup dengan kami para petani," imbuh Ngadimin.Dijelaskan, ritual gumbregi digelar setelah panen raya. Tujuan utamanya adalah wujud syukur atas hasil panen melimpah.
Sapi dikasih ketupat mengandung makna ternak peliharaan itu seperti ketupat, gemuk, dan sintal.
"Acara kali ini diikuti ratusan warga, mereka tidak pernah absen karena juga takut jika tidak ikut akan terjadi pagebluk atau malapetaka," ucap Ngadimin.
Dewi Subekti, salah satu peserta ritual Dewi Subekti mengaku senang ikut tradisi gumbregi. Terlebih acara dikemas cukup menarik dan meriah. Dia mengaku ada rasa kebanggaan tersendiri bisa ikut melestarikan tradisi tersebut/
Pawestri, Warga lain Pawestri mengungkapkan, motivasi ikut acara ritual kali ini untuk melestarikan budaya, sekaligus mensyukuri hasil pertanian.”kami senang mengikutinya.”tegas Pawestri.
Setelah memberi makan ternak sapi, warga kemudian makan bersama. Berikut menyamakan niat dan doa hasil panen dan peternakan mereka sukses di tahun berikutnya. "Semoga musim tahun depan, semua berjalan lancar dan hasil melipah serta hewan ternak sehat.”pungkas Pawestri.(*)
Editor:Winardyasto HariKirono
Foto:Hendi Utomo/Jawa Pos Radar Jogja
Sumber Berita:jawa Pos Radar Jogja
Editor : Safitri