Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Kelezatan Pecel Mbotho Dikenal Sejak 30 Tahun Tahun Lalu

Safitri • Minggu, 21 Mei 2023 | 00:52 WIB
Pecel Mbotho mulai dikenalkan pertama kali mulai tahun 1993, hinnga kini pecel tersebut tetap bertahan dan tak pernah sepi peminat. (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)
Pecel Mbotho mulai dikenalkan pertama kali mulai tahun 1993, hinnga kini pecel tersebut tetap bertahan dan tak pernah sepi peminat. (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)
SUKOHARJO, RADARJEMBER.ID - Siapa tak mengenal kuliner tradisional bernama pecel, keberadaan makanan tersebut hampirmerata ada di Indonesia.Setiap daerah memiliki kekhasan khusus dalam mengemas pecel, hal ini lantas menjadikan pecel tampil beda dan tetap nikmat.

BACA JUGA : Terus Bentuk Kader Bela Negara, Jaga Keutuhan Bangsa dan Tanah Air

Tak terkecuali di Sukoharjo, di kota tersebut terdapat sebuah warung pecel legendaris. Namun, Pecel Mbotho itu dia kuliner tradisional kebanggan orang Sukoharjo, terletak di Jatirejo, Desa Mulur, Kecamatan Bendosari.

Seperti apa rasanya?. Pecel Mbotho ini memiliki ciri khas tersendiri dari rasa sambal, jangan diragukan soal rasa sambal tersebut. Pedas sekali tentu bikin orang berkeringat.Selain itu aneka lauk dan sayur menjadikan pecel tersebut mampu bertahan 30 tahun.

Lokasi warung itu tepat di pinggir jalan raya Sukoharjo kota-Waduk Mulur. Nama pecel itu diambil dari sang pendiri yakni Mbotho. Istrinya Mbotho adalah Lugiyem di tahun 1993l alu. Namun pada 2007 lalu, Mbotho meninggal dan pecel itu diteruskan oleh anak-anaknya.

Pecel Mbotho layaknya pecel-pecel lain. Sepiring nasi nerisikan sayuran seperti kacang panjang, bayam, kecambah, dan juga daun pepaya sudah direbus. Lalu disiram dengan sambal kacang dan pedasnya di atas rata-rata.

”Warung ini sudah 30 tahulebih berjualan pecel. Awal merintis usaha ini adalah bapak saya Pak Mbotho. Pada 2007 bapak meninggal, usahanya dilanjutkan ibu dan anak-anak termasuk saya anaknya Pak Mbotho,” kata Tri Siswanto, 36, penerus warung pecel Mbotho.

Di Pecel Mbotho, penikmat kuliner akan dimanjakan dengan aneka lauk pauk yang lezat. Mulai dari tempe, tahu, ayam goreng garing, hati ayam, telur dadar serta aneka kerupuk. Untuk menikmatinya, cukup Rp 10 ribu sampai Rp 20 ribu saja.

Isinya sepiring nasi pecel Mbotho lengkap dengan ayam goreng atau telor, dan gorengan lainnya. Serta segarnya secangkir es teh manis untuk pengobat pedas.”Banyak pelanggan, pejabat-pejabat di Sukoharjo. Biasanya waktu makan siang.” kata Tri.

Walau berupa warung sederhana, namun warung Pecel Mbotho bisa menghabiskan 30 kilogram beras saat hari biasa. Namun ketika akhir pekan bisa mencapai 40 kg beras. Jika ingin mencicipi pecel Mbotho, harus datang antara pukul 06.00 hingga 15.00.

Warung tersebut tidak pernah tutup kecuali ada acara keluarga.”Beras habis 40 kg kalau hari libur, sayur-sayuran juga ada yang nganter tiap hari puluhan kilo tauge, kacang panjang, dan bayam. Belum kacang tanahnya yang dipakai untuk sambal.”imbuh Tri. (*)

Editor:Winardyasto HariKirono

Foto:Iwan Kawul/Jawa Pos Radar Solo

Sumber Berita:Jawa Pos Radar Solo

  Editor : Safitri
#Kuliner