Kepala Desa Slateng M Misu mengatakan, pihak pemerintah desa bersama keluarga korban belum pulang sejak kemarin. Mereka bermalam di sekitar lokasi korban dinyatakan hilang. Hingga pagi ini, upaya pencarian masih terus dilakukan bersama BPBD Jember, Basarnas, Baret Rescue, polisi, keluarga korban dan dibantu oleh warga.
BACA JUGA: Jembatan Bambu Patah, Pemikul Kayu Warga Jember Hanyut Tercebur Sungai
Proses pencarian sempat terkendala. Karena arus sungai selebar enam meter itu cukup deras. Apalagi, di beberapa titik juga terdapat lubuk yang cukup dalam. Sehingga warga dan tim pencari harus ekstra hati-hati agar tak ikut hanyut terbawa arus.
“Tim pencari bersama-sama menyisir lokasi jatuhnya korban. Ada juga yang menyelam di sungai yang dibantu dengan tambang dan jangkar. Namun hingga pagi ini, keberadaan korban belum ditemukan,” kata Misu kepada Jawa Pos Radar Jember, Jumat (20/1) pagi.
Menurutnya, korban sehari-hari memang bekerja sebagai buruh tani. Biasanya, korban mengangkut kayu sengon atau hasil pertanian lain, seperti semangka. Korban kerap melewati jembatan tersebut. Sebab, jembatan bambu ini merupakan satu-satunya akses yang digunakan oleh warga beraktivitas di kebun atau sawah. “Jembatan itu menghubungkan dua desa di Kecamatan Ledokombo. Desa Suren ke Dusun Darungan Desa Lembengan. Kondisi jembatannya memang sudah rapuh,” ujarnya.
Peristiwa tragis yang membuat heboh warga setempat ini terjadi, Kamis (19/1) sore kemarin. Selamet alias Pak Hendra, 44, warga Dusun Kopang, Desa Slateng, Kecamatan Ledokombo, Jember, jatuh dari jembatan bambu dan hanyut di sungai Desa Darungan, kecamatan setempat.
Selamet merupakan buruh tani. Kamis (19/1) siang dia bersama temannya Ahmad Junaidi bekerja mengangkat pohon sengon. Pada sore harinya, dia memikul kayu sengon dan melintasi sebuah jembatan bambu di Desa Darungan.
Tak disangka, pegangan jembatan bambu yang dilintasi patah. Selamet yang sedang memikul kayu sengon langsung terjatuh ke sungai. Dia pun hanyut dan dinyatakan hilang sekitar pukul 16.00.
Di lokasi, warga mulai mendatangi tempat kejadian musibah. Bahkan, sebagian dari mereka mendekat ke bibir sungai untuk mengetahui langsung proses pencarian. Sementara itu, guna memperlancar proses penyisiran dan mencegah terjadinya hal-hal yang tak diinginkan, petugas memasang garis polisi. Ini agar warga yang datang tak sampai mengganggu proses pencarian tersebut. (*)
Reporter: Jumai
Foto : Jumai
Editor : Mahrus Sholih Editor : Maulana Ijal