Aksi massa ini, sebagai bentuk protes atas lambannya respons Pemkab Jember terkait tuntutan warga dalam pengelolaan Gunung Sadeng di Kecamatan Puger. Warga yang tergabung dalam wadah Persatuan Tumangan Gunung Sadeng (PTGS) itu, menganggap pemkab lemot menjawab keinginan masyarakat.
BACA JUGA: Besaran Kontribusi Gunung Sadeng Belum Jelas
Massa mengajukan beberapa tuntutan dalam demonstrasi yang berpusat di dekat Masjid Arrahman Desa Kasiyan Timur, Puger, tersebut. Di antaranya, menuntut Bupati Jember segera menerbitkan SK rekomendasi untuk PTGS terkait pengelolaan Gunung Sadeng di lokasi 10 hektare yang sebelumnya telah diklaim oleh PTGS.
Hal ini untuk melindungi perekonomian masyarakat Puger, khususnya perajin batu gamping tradisional atau tumangan, yang telah berlangsung selama beberapa generasi. “Selama ini warga dirugikan dengan harga batu gamping Rp 50 ribu per ton. Seharusnya di bawah Rp 40 ribu per ton,” kata Nur Hasan, Ketua PTGS di lokasi aksi.
Selanjutnya, massa juga menuntut adanya perbaikan jalan yang menghubungkan Kasiyan Timur dengan Puger yang telah rusak parah. Sebab, kerusakan jalan yang salah satunya diakibatkan banyaknya kendaraan pengangkut semen berukuran jumbo itu, kerap menyebabkan kecelakaan.
“Jika tuntutan kami tidak direspons, maka blokade ini akan terus berlanjut sampai Bupati Jember menerbitkan SK rekomendasi untuk PTGS. Kami sudah capek. Ini demi mempertahankan ekonomi masyarakat tumangan,” ujarnya.
Pantauan Jawa Pos Radar Jember di lokasi, lima ratusan massa itu tidak main-main dalam menggelar demonstrasi. Mereka menyiapkan beragam material sebagai amunisi memblokade jalan. Selain menyiapkan batu satu truk, massa juga menyiagakan puluhan ban bekas untuk dibakar di tengah jalan. Bahkan, warga mendirikan tenda untuk bermalam. Langkah ini sebagai antisipasi jika tuntutan mereka tak dipenuhi. (*)
Reporter: Jumai
Foto : Jumai
Editor : Mahrus Sholih Editor : Maulana Ijal