Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Pesan PBNU di Halaqah Genggong: Negara Harus Berorientasi Kesejahteraan

Radar Digital • Rabu, 7 Desember 2022 | 21:59 WIB
FORUM ILMIAH: Para kiai dari berbagai pondok pesantren menghadiri Halaqah Fikih Politik di Ponpes Zainul Hasan Genggong, Probolinggo, Jawa Timur, Rabu (7/12).
FORUM ILMIAH: Para kiai dari berbagai pondok pesantren menghadiri Halaqah Fikih Politik di Ponpes Zainul Hasan Genggong, Probolinggo, Jawa Timur, Rabu (7/12).
PROBOLINGGO, RADARJEMBER.ID- Katib Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Dr KH Hilmy Muhammad menegaskan, dalam Islam tidak dikenal konsep tentang pemerintah dan negara. Namun, Islam memberikan panduan pemerintah, yang ujungnya untuk memberi kesejahteraan pada masyarakat.

Di antara panduan itu, adalah prinsip pengambilan keputusan dilakukan dengan cara musyawarah. Ada sedikit perbedaan permusyawaratan kita dengan demokrasi.

"Dalam Islam dikenal ahlul halli wal-aqdi, keterwakilan oleh para ulama dan intelektual dalam satu lembaga untuk bermusyawarah. Hal ini berbeda dengan demokrasi. Demokrasi asal orang dengan jumlah banyak itulah yang menang," tutur Kiai Hilmy dari keluarga Pesantren Krapyak Yogyakarta.

BACA JUGA: Halaqah Fikih & Ushul Fikih PWNU Jatim, Ini Pesan Penting Soal Hukum Islam

Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD RI) dari Yogyakarta ini, mengungkapkan hal itu dalam rangkaian seri Halaqah Fikih Peradaban, bertajuk "Fikih Siyasah (Fikih Politik) dan Negara Bangsa" di Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong, Probolinggo, Jawa Timur, Rabu (7/12).

Selain Kiai Hilmy Muhammad, juga hadir sebagai pembicara KH Silahuddin, Wakil Sekjen PBNU. Halaqah Fikih Politik ini, dimoderatori Gus Muhammad Syakur Dewa dari Pondok Pesantren Patemon Probolinggo. Dihadiri kalangan kiai pondok pesantren dan jajaran PCNU se- Kraksaan Raya. Di antaranya adalah KH Wasih, kiai sepuh di kawasan Tapal Kuda, Jawa Timur.

Pada bagian lain, Kiai Hilmy Muhammad, mengingatkan kehadiran negara harus berorientasi dengan kesejahteraan dan stabilitas keamanan. Di sinilah, letak pentingnya pemahaman siyasah wathoniyah (politik kebangsaan), siyasah ilahiyah (politik keilahian).

Hilmy Muhammad, yang alumni perguruan tinggi di Yordania, mengatakan, kenyataan soal tanah air dalam wujud negara di bumi nusantara adalah Al-wathon al-khas, al-balad al-khas tanah air secara khusus, yang telah didirikan dan dibangun serta mendapat dukungan mayoritas umat Islam.

"Karena itu, kita mengenal Hubbul wathan minal iiman (cinta Tanah Air bagian dari iman) karena kita berada di Indonesia. Hal itu sudah ditegaskan para ulama terdahulu, khususnya muassis (pendiri) Nahdlatul Ulama," tuturnya.

Ia pun menyitir pemikiran Hujjatul Islam Imam al-Ghazali, penulis magnum opus kitab Ihya' Ulummiddin. Dikatakan, "negara dan agama adalah saudara kembar. Agama merupakan dasar, sedangkan negara adalah penjaganya. Sesuatu yang tanpa dasar akan runtuh, dan dasar tanpa penjaganya akan hilang”. (*) Editor : Radar Digital
#PWNU Jatim #pbnu