BACA JUGA : Program Guru Penggerak Jadi Prasyarat untuk Bisa Menjadi Kepala Sekolah
Akibat kejadian tersebut menyebabkan satu siswa meninggal dunia dan 11 lainnya terluka. Dalam perkara ini, 10 orang telah diperiksa termasuk kepala sekolah dan pemborong.
AKP Mahardian Dewo Negoro, Kasat Reskrim Polres Gunungkidul mengatakan, keterangan pihak terkait diperlukan dalam mengungkap peristiwa merenggut nyawa seorang murid SD Muhammadiyah Bogor, Payen ini.
“Jadi kami tindaklanjuti, dari kemarin sudah maraton melaksanakan pemeriksaan. Sudah 10 orang yang kami periksa, baik dari pihak sekolah, komite, maupun pemborong,” kata Mahardian, saat ditemui di SD Muhammadiyah Bogor, kemarin (9/11).
Dikatakan, sejauh ini kepolisian belum menetapkan tersangka. Untuk kepentingan penyelidikan, pihaknya juga mendatangkan ahli dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta untuk melakukan penilaian terhadap kualitas pekerjaan dan atap bangunan roboh tersebut.
“Untuk pelanggaran atau kelalaian masih didalami. Tentu lebih jelas ketika kami sudah mendapatkan penjelasan teknis dari UGM,” kata dia.Sementara itu, Muslikh, dosen Teknik Sipil UGM mengatakan, ia datang ke lokasi kejadian atas permintaan dari pihak kepolisian.
Pihak UGM sengaja dihadirkan untuk mengetahui gambaran awal mengenai struktur bangunan, dimensi, material, hingga kondisi kerusakan.“Kami mengambil beberapa sampel material seperti genting, dan potongan baja ringan untuk dilakukan uji laboratorium.”kata Muslikh.
Lebih jauh dikatakan, untuk pengetahuan umum bagi masyarakat, dia menyampaikan bahwa lebih aman menggunakan genting metal karena lebih ringan. “Walaupun pakai itu (genting press, Red) diperlukan pemilihan dimensi atau ukuran yang memadai,” ungkapnya.
Sejumlah material dari lokasi kejadian pun dibawa untuk pemeriksaan lebih lanjut. Kemudian pemeriksaan akan dilakukan di Laboratorium Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan, Fakultas Teknik UGM.
Terpisah, Indah Suryani, Kepala SD Muhammadiyah Bogor mengaku tidak memiliki kewenangan terkait bangunan gedung sekolah, karena tugasnya terbatas pada kegiatan belajar mengajar (KBM).
“Itu (gedung sekolah) tugas komite pembangunan sekolah. Sedangkan saya di bagian KBM. Untuk sementara, aktivitas KBM dihentikan,” katanya.Seperti diberitakan Radar Jogja kemarin (9/11, terjadi insiden berdarah di SD Muhammadiyah Bogor, Jalan Manthous, Bogor, Playen.
Unit Pelaksana Teknis Perlindungan Perempuan dan Anak (UPT PPA), Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos-PPPA) Gunungkidul melakukan assesment penurunan risiko trauma di SD Muhammadiyah Bogor, Playen tersebut.
Asti Wijayanti, Kepala Dinas Sosial (Dinsos)-PPPA Gunungkidul mengatakan, assesment dilakukan untuk mengetahui metode trauma healing yang akan diberikan.Saat ini pengumpulan data di lapangan sedang berjalan.
“Apakah nantinya trauma healing dilakukan secara menyeluruh atau khusus bagi para korban. Secara teknis ditangani UPT PPA,” kata Asti saat dihubungi kemarin (9/11).Aris Winata, Kepala UPT PPA, mengakui, pelajar SD Muhammadiyah Bogor hingga kini masih mengalami trauma.
Hal itu merupakan hasil assesment di lapangan. “Mereka sampai terganggu pola tidur dan kesehariannya karena kejadian itu,” ujar Aris. Oleh karena itu, trauma healing perlu dilakukan untuk mengembalikan kondisi psikis anak-anak.
Proses trauma healing menunggu hingga penanganan medis terhadap seluruh pelajar selesai dilakukan. “Kami tengah memetakan tahapan trauma healing yang perlu dilakukan. Koordinasi dengan sekolah dan provinsi,” ujar Aris. (*)
Editor:Winardyasto HariKirono
Foto:Gunawan/Jawa Pos Radar Jogja
Sumber Berita:Jawa Pos Radar Jogja
Editor : Safitri