Bahkan sebelum kompetisi dimulai, kata pria yang akrab disapa Bung Yuke itu, harus ada sosialisasi regulasi baru atau lama kepada seluruh pemangku kepentingan, termasuk panitia pelaksana dan suporter.
https://radarjember.jawapos.com/nasional/09/10/2022/cerita-remaja-korban-tragedi-kanjuruhan-yang-bercita-cita-jadi-polisi/
"Setiap musim mau mulai, kampanyenya itu harus menyeluruh dan terintegrasi. Jangan ketika pertandingan hanya refreshment untuk wasit saja," kata Yuke seperti dikutip dari ANTARA, Sabtu.
"Pengenalan regulasi baru dan lain-lain juga harus disampaikan kepada semua pihak dengan membuat kamp termasuk untuk panitia pelaksana, suporter," sambungnya.
Peningkatan sumber daya manusia (SDM) juga perlu dilakukan mulai dari match commissioner, general coordinator, sampai security officer.
"Semuanya harus jujur dan terbuka. Lalu juga ada divisi yang mengontrol atau melakukan cek semuanya. Fungsi pengawasan harus diperbaiki dan jalani SOP-nya," katanya.
Dari kaca mata Yuke, Tragedi Kanjuruhan pascalaga Arema FC versus Persebaya Surabaya pada 1 Oktober lalu yang menewaskan lebih dari seratus orang tersebut lantaran kurang koordinasi antara security officer, panpel, dan polisi.
Padahal, lanjut Yuke, penyelenggaraan pertandingan sepak bola ada regulasi yang terinci dalam FIFA Stadium Safety and Security Regulations.
"Tetapi penegakannya kurang begitu maksimal. Tidak ada yang mengontrol dan mengawasi. Jadi implementasi dan SDM menjadi kunci agar Tragedi Kanjuruhan tak terulang," katanya. (*)
Foto : Ari Bowo Sucipto/foc
Sumber Berita : Antara Editor : Maulana Ijal