Keputusan ini diambil karena situasi pascaterjadinya pembacokan itu cukup mengkhawatirkan. Kondisinya masih memanas dan dinilai rentan terjadi kekerasan susulan. Terutama di SMA dan SMK yang siswanya terlibat aksi kekerasan. Sebab, peristiwa yang menimpa F, siswa SMKN 7 Jember, salah seorang pelakunya melibatkan siswa dari sekolah lain, yang ditengarai berasal dari salah satu SMA negeri di Kecamatan Tanggul.
BACA JUGA: Perut Pelajar SMK di Jember Robek Akibat Dibacok, Pelaku Masih Buron
Kasi SMK Cabdindik Pemprov Jatim Wilayah Jember Lumajang M Chotib menjelaskan, kekerasan yang terjadi pada siswa SMKN 7 Jember itu harus ditangani serius. Terutama langkah antisipasi agar tidak sampai terjadi kekerasan susulan. Karena hingga kini situasinya masih memanas. "Kami antisipasi dengan pengalihan aktivitas KBM di lima lembaga. Ini demi keamanan siswa," katanya.
Menurutnya, dari lima lembaga yang diputuskan belajar daring adalah SMAN 1 Tanggul, SMAN 2 Tanggul, SMKN 6 Jember di Kecamatan Tanggul, SMKN 7 Jember di Kecamatan Sumberbaru dan SMKN 8 Jember di Kecamatan Semboro. "Siswa belajar dari rumah. Sedangkan guru tetap masuk ke sekolah seperti biasa," terangnya kepada Jawa Pos Radar Jember, Rabu (5/10).
Sejauh ini, Cabdindik Jember Lumajang akan terus memantau situasi di lima lembaga tersebut. Bahkan, korban yang saat ini sedang dirawat di RSUD dr Haryoto Lumajang, didampingi langsung oleh Cabdin Jember Lumajang. "Sementara korban belum bisa dimintai keterangan. Kondisinya masih kritis,” ungkapnya.
Terpisah, Kapolsek Tanggul AKP Miftahul Huda menuturkan, sesaat setelah kejadian pihaknya telah berkoordinasi dengan sekolah yang ada di wilayahnya. Baik dengan guru di masing-masing kelas maupun dengan kepala sekolah agar lebih intens mengawasi siswanya. Saat jam pelajaran hingga sepulang sekolah. “Setiap saat anggota juga melakukan patroli perbatasan dengan Semboro dan Sumberbaru untuk mencegah terjadinya aksi susulan,” pungkasnya. (*)
Reporter: Jumai dan Ahmad Ma’mun
Foto : Jumai
Editor : Mahrus Sholih Editor : Maulana Ijal