BACA JUGA : Gubernur Anies Datangi Gedung KPK Cuma Bawa Selembar Map
”Perkajum dilaksanakan Kamis dan Jumat. AM adalah ketua panitia acara,” ungkap Anam, Selasa (6/9). Menurut Anam, Sabtu lalu, seluruh peserta mengembalikan semua alat-alat Pramuka yang digunakan dalam Perkajum tersebut.
AM, santri asal Palembang yang masih duduk di bangku setara SMA kelas XI itu juga mengembalikan barang. ”Sabtu dikembalikan (barang-barangnya). Lalu Senin dipanggil oleh senior,” kata As’adul Anam.
MA, kata Anam, dipanggil senior karena disebut ada masalah dalam barang yang dikembalikan. Kata pelaku, MA ditanyai karena mengampu tanggung jawab sebagai ketua panitia. ”Senin, seniornya saat mengembalikan apakah ada masalah terkait alat yang digunakan? Lalu terjadi cekcok,” papar As’adul Anam.
Cekcok yang terjadi saat pengembalian alat itu pun mengarah pada penganiayaan yang dilakukan terhadap MA. Ditanya bagaimana detail kejadian, Anam bungkam. ”Kejadian resminya belum diketahui. Ini baru soal pengembalian pada Perkemahan Kamis Jumat itu,” ujar As’adul Anam.
Atas kasus itu, dia menegaskan, santri meninggal murni atas persoalan bullying dan senioritas. Atas hal tersebut, dia memastikan izin Pondok Pesantren Gontor tak akan dicabut. ”Ini murni (kasus) antara santri dengan santri. Tidak ada hubungannya dengan lembaga,” terang As’adul (*)
Editor:Winardyasto HariKirono
Ilustrasi:Istimewa
Sumber Berita :Jawa Pos Radar Bromo
Editor : Safitri