Abdullah bersama istrinya, Sulima, mengaku trauma dengan pembakaran rumah yang terus terjadi. Karena sejak sebulan terakhir, sudah ada empat kali peristiwa pembakaran dan perusakan. Pertama pada 3 Juli, 30 Juli, 3 dan 4 Agustus. Apalagi, pembakaran itu terjadi setelah ada kunjungan Forkopimda Jember.
BACA JUGA: Silo Jember Makin Mencekam, Kapolres Pulang Dua Rumah Kembali Dibakar
“Saya terpaksa mengamankan seluruh barang yang ada di rumah bapak. Karena ini merupakan satu-satunya harta yang dimiliki. Barang yang diamankan seluruh perabot rumah tangga yang ada di dalam rumah,” ujar Rudy, menantu Abdullah.
Rudy mengaku, keluarganya mengantisipasi jika aksi pembakaran semakin liar. “Saya masih trauma dengan pembakaran yang terjadi. Padahal saat itu, Kapolres Jember bersama Dandim Jember dan Wakil Bupati Jember baru pulang dari sini,” ucapnya.
Jika kondisi benar-benar aman, Rudy mengatakan, semua barang milik mertuanya itu akan dikembalikan lagi ke rumah asal. Meski barangnya telah dibawa ke tempat lain, namun kedua mertuanya tetap tinggal bersama warga lain di kampung tersebut.
BACA JUGA: Premanisme Disebut Menjadi Muasal Tragedi Pembakaran Rumah di Silo Jember
Sementara itu, Abdullah juga mengaku trauma dengan aksi pembakaran rumah yang dilakukan oleh sekelompok orang tersebut. "Apalagi rumah saya berdempetan dengan rumah Pak Ali," ujarnya, ditemani sang istri.
Tak Sampai Meluas
Di lokasi, Polres Jember juga mulai menetralisir, serta memetakan lokasi teror pembakaran yang terjadi. Dari rentetan kerusuhan yang terjadi, aksi teror yang disertai pembakaran rumah warga sejauh ini hanya terjadi di dua pedukuhan yang ada di Dusun Baban Timur. Yakni Pedukuhan Patungrejo dan Pedukuhan Dampikrejo. Teror itu tidak sampai merembet ke dusun lainnya di Desa Mulyorejo.
BACA JUGA: Ini Kronologi dan Data Korban Tragedi Perusakan Pembakaran di Silo Jember
Melalui keterangan tertulis, Kapolres Jember AKBP Hery Purnomo menyebutkan, saat memantau langsung pengamanan yang dilakukan oleh anggotanya di Dusun Baban Timur, Jumat (5/8) kemarin, aksi teror pembakaran rumah warga di Desa Mulyorejo tidak meluas, tapi hanya di dua pedukuhan yang masih dalam satu dusun. “Perlu kami luruskan, semuanya hanya berada di Dusun Baban Timur. Tidak sampai meluas,” jelasnya.
Dia menjelaskan, aksi kerusuhan ini sendiri dipicu oleh penganiayaan yang dilakukan oleh Ali, warga Pedukuhan Patungrejo terhadap Haji Suhar, warga Desa Kalibaru Manis, Kecamatan Kalibaru, Banyuwangi pada 3 Juli lalu. Setelah penganiayaan terjadi, kata dia, anggota Polsek Silo sudah menangkap Ali dan dibawa ke kantor polsek setempat.
Namun, pascapenganiayaan itu terjadi, ada pihak keluarga korban yang tidak terima dan main hakim sendiri dengan melakukan aksi balas dendam. Mereka merusak dan membakar rumah dan sepeda motor milik Ali.
Hery juga menyatakan, saat ini pihaknya juga sudah mengamankan satu terduga pelaku teror. Selain mengamankan terduga pelaku, pihaknya juga mendirikan posko pengamanan, serta menempatkan sejumlah petugas di beberapa titik. Hal ini untuk memberikan rasa aman kepada warga setempat. (*)
Reporter: Jumai
Foto : Jumai
Editor : Mahrus Sholih Editor : Maulana Ijal