Konflik yang berujung pada pembakaran di Desa Mulyorejo tersebut juga menyita perhatian Baiq dan beberapa alumnus Sosiologi Unej yang tinggal di daerah Silo. Dari tinjauannya, Desa Mulyorejo, yaitu di Dusun Tetelan Darungan, merupakan suatu kawasan yang tidak hanya dihuni oleh warga asli Jember. Melainkan juga ditempati oleh para pendatang seperti dari Aceh, Kalimantan, Sumatra dan Banyuwangi. “Jadi, saya menganalisis, permasalahan di situ (Desa Mulyorejo, Red) adalah perebutan kekuasaan atau perebutan pengaruh,” ucapnya.
BACA JUGA: Silo Jember Makin Mencekam, Kapolres Pulang Dua Rumah Kembali Dibakar
Dia mendapatkan kabar bahwa warga pendatang yang semakin sejahtera daripada warga asli. Terlebih, hasil kopi luar biasa, ditambah lagi komoditas kopi juga naik daun. Sehingga secara internal warga setempat itu tidak solid. “Terlebih kan mereka pendatang dan memiliki kumpulannya sendiri. Seperti yang datang dari satu daerah akan berkumpul dengan daerah yang sama. Sehingga, memicu sistem berebut pengaruh karena persaingan ekonomi,” ungkapnya.
“Jadi, saya menganalisis, permasalahan di Desa Mulyorejo adalah perebutan kekuasaan atau perebutan pengaruh.”
Dosen Sosiologi Unej, Baiq Lily Handayani.
Baiq menambahkan bahwa persaingan antarpihak maupun kelompok menyebabkan terciptanya ketidaksolidan. Serta tidak terbentuk bonding atau disebut tidak ada ikatan emosional antarwarga setempat. Apalagi dengan kondisi banyaknya para pendatang, semakin rumit untuk melekatkan emosional seluruh warga desa.
“Dapat terjadi karena mungkin ada yang merasa tidak dihargai status sosialnya. Ada yang merasa tidak dihargai secara ekonomi karena mereka merasa ingin dihormati dan sebagainya. Sehingga menyebabkan di internal warga itu terpecah,” paparnya.
BACA JUGA: Problem Warga Silo Jember Tidak Tunggal, Mereka Butuh Jaminan Keamanan
Menurut perempuan asal Mataram itu, secara umum karakteristik masyarakat di desa terdapat orang yang prinsipnya ingin dihormati, ingin dijadikan tokoh, dan ingin dituakan. Melihat juga kondisi masyarakat di Desa Mulyorejo tersebut yang masih baru menata diri menjadi sebuah wilayah, sehingga memerlukan penokohan, ketua, atau pemimpin.
Baiq berpendapat, dengan mencoba melihat peristiwa yang terjadi dalam sudut pandang sosiologi hokum, hal tersebut dapat terjadi karena beberapa hal. Pertama, tidak adanya lembaga lokal atau pranata lokal yang dipercaya dapat menyelesaikan permasalahan. “Selain karena tidak ada tokoh yang dirasa mampu menyelesaikan permasalahan mereka. Sehingga akhirnya warga sudah terpengaruhi cara berpikir oleh pengetahuan dari luar seperti media sosial dan sebagainya,” ucapnya.
Selanjutnya, warga merasa cara menyelesaikan dengan kekerasan sebagai sebuah solusi dan tidak punya imajinasi cara penyelesaian dengan kekeluargaan. Kedua, tambahnya, tidak ada media atau ruang berkumpul untuk membicarakan masalah untuk rembuk bersama. Berikutnya, tidak adanya ketokohan yang dapat menyatukan. “Sehingga mereka tidak ada rasa sungkan atau tidak enak apabila melakukan tindakan kekerasan, termasuk pembakaran,” paparnya.
Terakhir, ucapnya, dapat juga karena ketidakpercayaan dengan hukum formal yang ada. Sehingga hal tersebut membentuk pandangan bahwa hukum formal yang ada tidak mampu membantu menyelesaikan permasalahan. “Akhirnya warga bertindak main hakim sendiri,” ucapnya. (*)
Reporter: Beni Bayu Sanjaya
Foto : Baiq Lily untuk Radar Jember
Editor : Dwi Siswanto
Editor : Maulana Ijal