alexametrics
24.4 C
Jember
Tuesday, 16 August 2022

Problem Warga Silo Jember Tidak Tunggal, Mereka Butuh Jaminan Keamanan

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID- Bagai api dalam sekam, ketegangan yang terjadi di Desa Mulyorejo Kecamatan Silo, hingga berujung ke aksi premanisme patut menjadi atensi berbagai pihak. Utamanya pemangku kebijakan.

Anggota DPRD Jember Tabroni mengungkapkan, konflik tersebut sudah tersulut sejak beberapa pekan terakhir. Ketika di awal mencuat tiada penyelesaian, akhirnya berbuntut panjang. “Yang awalnya hanya konflik gesekan antarpersonal warga, beralih menjadi konflik gerakan komunal,” sesal Tabroni.

Tabroni sempat turun ke lokasi kejadian, kemarin (4/8). Dia juga bertemu beberapa warga dan tokoh masyarakat yang sempat menguraikan benang kusut permasalahannya. Tabroni menyimpulkan bahwa ada kekhawatiran yang dirasakan oleh warga setempat, yaitu Desa Mulyorejo, Kecamatan Silo.

Mobile_AP_Rectangle 2

BACA JUGA: Premanisme Disebut Menjadi Muasal Tragedi Pembakaran Rumah di Silo Jember

Sebab, dari beberapa kabar yang beredar, tambah Tabroni, ketegangan itu dipicu oleh beragam motif. Mulai dari isu perselisihan lahan di perbatasan Kecamatan Silo dengan Kecamatan Kalibaru, Banyuwangi. Kemudian, pembukaan paksa sebuah portal pengeringan kopi.

Lalu, soal rampok yang diduga merampok tetangganya sendiri, hingga persoalan ada kelompok masyarakat tertentu yang mencoba membangun dominasi atau kekuasaan di wilayah tersebut. “Ada beberapa hal yang tidak bisa diketahui publik. Namun, yang pasti permasalahannya sangat kompleks. Ini patut jadi perhatian bersama,” katanya.

Lebih jauh, pria yang mengetuai Komisi A DPRD Jember itu menilai, ketegangan yang terjadi itu merupakan klimaks dari kebuntuan permasalahan yang tiada dijembatani. Dia juga mempertanyakan kehadiran pemerintahan ketika kali pertama konflik itu tersulut, hingga kemudian memuncak menjadi aksi premanisme.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID- Bagai api dalam sekam, ketegangan yang terjadi di Desa Mulyorejo Kecamatan Silo, hingga berujung ke aksi premanisme patut menjadi atensi berbagai pihak. Utamanya pemangku kebijakan.

Anggota DPRD Jember Tabroni mengungkapkan, konflik tersebut sudah tersulut sejak beberapa pekan terakhir. Ketika di awal mencuat tiada penyelesaian, akhirnya berbuntut panjang. “Yang awalnya hanya konflik gesekan antarpersonal warga, beralih menjadi konflik gerakan komunal,” sesal Tabroni.

Tabroni sempat turun ke lokasi kejadian, kemarin (4/8). Dia juga bertemu beberapa warga dan tokoh masyarakat yang sempat menguraikan benang kusut permasalahannya. Tabroni menyimpulkan bahwa ada kekhawatiran yang dirasakan oleh warga setempat, yaitu Desa Mulyorejo, Kecamatan Silo.

BACA JUGA: Premanisme Disebut Menjadi Muasal Tragedi Pembakaran Rumah di Silo Jember

Sebab, dari beberapa kabar yang beredar, tambah Tabroni, ketegangan itu dipicu oleh beragam motif. Mulai dari isu perselisihan lahan di perbatasan Kecamatan Silo dengan Kecamatan Kalibaru, Banyuwangi. Kemudian, pembukaan paksa sebuah portal pengeringan kopi.

Lalu, soal rampok yang diduga merampok tetangganya sendiri, hingga persoalan ada kelompok masyarakat tertentu yang mencoba membangun dominasi atau kekuasaan di wilayah tersebut. “Ada beberapa hal yang tidak bisa diketahui publik. Namun, yang pasti permasalahannya sangat kompleks. Ini patut jadi perhatian bersama,” katanya.

Lebih jauh, pria yang mengetuai Komisi A DPRD Jember itu menilai, ketegangan yang terjadi itu merupakan klimaks dari kebuntuan permasalahan yang tiada dijembatani. Dia juga mempertanyakan kehadiran pemerintahan ketika kali pertama konflik itu tersulut, hingga kemudian memuncak menjadi aksi premanisme.

JEMBER, RADARJEMBER.ID- Bagai api dalam sekam, ketegangan yang terjadi di Desa Mulyorejo Kecamatan Silo, hingga berujung ke aksi premanisme patut menjadi atensi berbagai pihak. Utamanya pemangku kebijakan.

Anggota DPRD Jember Tabroni mengungkapkan, konflik tersebut sudah tersulut sejak beberapa pekan terakhir. Ketika di awal mencuat tiada penyelesaian, akhirnya berbuntut panjang. “Yang awalnya hanya konflik gesekan antarpersonal warga, beralih menjadi konflik gerakan komunal,” sesal Tabroni.

Tabroni sempat turun ke lokasi kejadian, kemarin (4/8). Dia juga bertemu beberapa warga dan tokoh masyarakat yang sempat menguraikan benang kusut permasalahannya. Tabroni menyimpulkan bahwa ada kekhawatiran yang dirasakan oleh warga setempat, yaitu Desa Mulyorejo, Kecamatan Silo.

BACA JUGA: Premanisme Disebut Menjadi Muasal Tragedi Pembakaran Rumah di Silo Jember

Sebab, dari beberapa kabar yang beredar, tambah Tabroni, ketegangan itu dipicu oleh beragam motif. Mulai dari isu perselisihan lahan di perbatasan Kecamatan Silo dengan Kecamatan Kalibaru, Banyuwangi. Kemudian, pembukaan paksa sebuah portal pengeringan kopi.

Lalu, soal rampok yang diduga merampok tetangganya sendiri, hingga persoalan ada kelompok masyarakat tertentu yang mencoba membangun dominasi atau kekuasaan di wilayah tersebut. “Ada beberapa hal yang tidak bisa diketahui publik. Namun, yang pasti permasalahannya sangat kompleks. Ini patut jadi perhatian bersama,” katanya.

Lebih jauh, pria yang mengetuai Komisi A DPRD Jember itu menilai, ketegangan yang terjadi itu merupakan klimaks dari kebuntuan permasalahan yang tiada dijembatani. Dia juga mempertanyakan kehadiran pemerintahan ketika kali pertama konflik itu tersulut, hingga kemudian memuncak menjadi aksi premanisme.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/