BACA JUGA : Hyundai Investasi ke Luar Negeri, Serikat Pekerja Ancam Mogok
"Saya bersyukur bisa mulai membuat show onsite," kata Biyan dalam konferensi pers di hotel Intercontinental Pondok Indah, Jakarta, Senin (11/7).
Biyan yang menyibukkan diri di perpustakaan, di tengah kondisi COVID-19, membuatnya mencari aneka referensi dari buku-buku kuno Indonesia dan menemukan hal-hal menarik yang dulu terlewatkan.
Gagasan yang didapatnya dari buku-buku yang diburunya dari berbagai pelosok dunia melahirkan inspirasi untuk Renjana, sebuah paduan dari rasa hati yang kuat antara rindu dan cinta kasih Biyan terhadap Wastra Nusantara.
Corak tenun ikat Sumba dibuat dengan gaya lebih segar, motif tampan lampung, corak polkadot dan motif garis disusun jadi cerita kolase wastra individual. Koleksi teranyar perancang yang belajar fesyen sejak 1977 ini penuh warna, mulai dari warna alam hingga warna mencolok seperti fuschia dan kuning terang.
Lulusan The London College of Fashion ini menuturkan, pemilihan warna yang beraneka ragam merupakan perwakilan dari setiap individu, sebuah gambaran optimisme munculnya harapan baru di mana setiap warna bisa berjalan bersama.
Model-model mengenakan busana potongan pola adaptif dari jaket, rok, midi dress, cropped top, kebaya, kimono, rok sarung sampai potongan kotak dan oversized modern yang dilebur bersama permainan motif dan warna, menghasilkan olahan baru yang bersemangat, etnik sekaligus kontemporer. Koleksi dipercantik dengan detail teknik sulaman, pesona etnik seni beadworks, crystal dan sequin embellishment. Biyan meracik bahan organza silk, taffeta, silk satin, tulle, katun hingga linen menjadi koleksi busana yang cantik. Semua melebur jadi koleksi perayaan akulturasi masa yang beradaptasi dalam garis kepraktisan. (*)
Editor : Yerri Arintoko Aji
Foto : ANTARA/HO
Sumber Berita : Antara Editor : Safitri